in Note

Mengaksara

Terkadang, saya kagum pada orang-orang yang begitu cakap dalam berbicara. Menyampaikan maksud dan pesan kepada oranglain. Dengan pilihan kata yang cukup memikat.

Seseorang biasanya begitu berhati-hati dalam bertutur. Ada begitu banyak diksi yang dipilih dengan segala pertimbangannya. Tentu sesuai dengan kondisi dan suasana. Barangkali itulah tantangannya, memilih diksi kemudian merangkainya menjadi sebuah tulisan yang ‘apik’.

Bagi saya, menulis adalah cara sederhana untuk menata diri. Merangkai gagasan. Menyampaikan pesan. Sederhana, dan mungkin paling mudah. Itulah salah satu alasan mengapa saya ingin belajar menulis. Kemudian mengarsip sekaligus mempublikasikannya dalam media ini, blog.

Kemudian saya mulai belajar. Salah satunya, sebelum menulis saya mulai mencari tahu bagaimana kerangka sebuah ‘tulisan yang bagus’, menurut saya tentunya. Kemudian bagaimana pemilihan kata yang bagus.

Tidak ada sedikit pun  angan-angan yang cukup besar agar banyak orang menyukai tulisan saya di blog ini. Karena saya yakin sudah teramat banyak penulis-penulis yang lebih mahir menulis, ketimbang saya. Jujur, tidak ada tendensi sedikit pun untuk itu.

Biasanya seorang penulis blog (blogger) memiliki karakter tertentu. Seorang blogger yang saya sukai adalah Ndorokakung. Tulisannya santai dan tidak begitu panjang, namun padat. Pesan yang ingin ia sampaikan pun mengena. Saya menyukai gaya berceritanya, dan yang terpenting ia tidak pernah memposisikan diri sebagai sesorang yang menggurui, atau berceramah, nampaknya ia lebih senang bercerita. Lalu melontarkan pertanyaan sederhana di akhir tulisannya.

Kemudian ada juga blogger yang menulis dengan gaya serius. Umumnya adalah penulis-penulis yang memiliki latarbelakang atau menggeluti dunia jurnalisme. Kawan-kawan pers mahasiswa yang saya kenal, begitu sering menulis dengan membubuhkan referensi dari buku A, atau dari tokoh B. Namun ‘tulisan serius’ itu tidak membuat saya sebagai pembaca menjadi jenuh. Alasannya sama, karena pemilihan diksi dan narasi dalam setiap paragraf yang begitu menarik. Seperti membaca cerpen atau novel.

Saya mengagumi mereka.Mereka berani menyampaikan pendapat. Lalu mengabadikan pendapat melalui sebuah tulisan. Lalu saya tertarik untuk belajar menulis dan mempublikasi melalui blog. Agar tak kandas oleh kata-kata yang tersuarakan oleh mulut semata. Mengutip salah satu adagium latin, “scripta manent, vebra volant”, yang artinya “apa yang tertulis akan abadi, apa yang diucapkan akan tertiup oleh angin”.[]