in Note

Kopi dan Strata Sosial

Malam itu gerimis turun perlahan. Udara kota Jember terasa semakin dingin. Namun, riuh suara kendaraan di jalan raya masih ramai seperti biasa. Kebetulan waktu itu saya sedang ingin menghabiskan malam dengan menikmati segelas wedang jahe panas.

Akhirnya saya mengajak kawan saya untuk pergi ke warung kecil di Jalan Pandjaitan, Jember. Letaknya hanya beberapa meter dari perempatan lampu merah yang menghubungkan Jalan Sumatera, Jalan Pandjaitan, dan Gladak Kembar.

Mulanya saya dan kawan saya ngobrol santai dengan saling melontarkan lelucon kecil tentang apa yang kami lihat disekitar. Suara bising kendaraan bermotor yang lalu-lalang, remaja-remaja yang pacaran hingga larut malam, juga anak-anak kecil yang berjalan bergerombol dengan sebatang rokok di tangan. Semuanya terlontar dengan nada jenaka.

Kemudian mata saya tanpa sengaja tertuju pada sebuah bangunan kecil diantara deretan pertokoan di seberang jalan. Ada sebuah spanduk berukuran 1×2 meter bertuliskan sekretariat sebuah partai politik. Nama partai tersebut tidak begitu familiar di telinga saya.

Kata kawan saya, partai tersebut telah bubar barisan. Pasalnya tidak memenuhi persyaratan di beberapa daerah. Ia lantas bercerita bagaimana syarat-syarat mendirikan sebuah partai politik. Saya beruntung, kawan saya yang kebetulan seorang mahasiswa ilmu hukum pada malam itu bersedia meladeni pertanyaan saya tentang dunia politik. Ya, meski sejatinya saya tak pernah betul-betul menyukai politik.

Waktu itu warung tidak begitu ramai, bapak pemilik warung itu ternyata mendengarkan obrolan kami. Ia lalu bercerita mengenai beberapa ‘parpol baru’ di Jember yang harus gulung tikar. Permasalahannya ternyata bukan pada kejelasan arah gerak partai, atau visi dan misi. Namun lagi-lagi uang selalu menjadi alasan rasional rakyat ―dalam hal ini masyarakat Jember― untuk menggunakan hak pilih.

Waktu itu sekitar pukul 22.00. Gerimis baru saja reda. Di sela obrolan kami bertiga, datang seorang bapak berperawakan kekar dengan kumis tebal. Di lehernya terdapat kalung berbahan kayu cokelat, nampak seperti tasbih. Wajahnya nampak letih, ia kemudian memesan secangkir kopi panas. “Juragan…” begitulah ia dengan akrab disapa oleh petugas parkir yang baru saja duduk dan memesan kopi. Rupanya bapak tadi adalah pemilik toko sembako yang tidak jauh dari warung.

Bapak pemilik warung lalu berdiri membuatkan secangkir kopi, sambil berseloroh ―melanjutkan obrolan sebelumnya― tentang parpol yang harus gulung tikar lantaran tidak punya dana yang banyak untuk menarik massa.

Saya dan kawan saya hanya tersenyum lepas mengikuti suasana yang bertambah hangat. Bapak pemilik toko juga seperti lupa dengan rasa letihnya, ia pun tertawa lepas.

Dalam suasana hangat seperti itu, kami saling menanggapi ucapan satu sama lain. Tanpa mengenal latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Barangkali, kopi bukanlah alasan utama seseorang duduk dan menghabiskan malam. Namun suasana hangat, dan kesetaraan hak bersuara-lah yang bisa menambah nikmat secangkir kopi panas seharga dua ribu perak.

Siapa sangka dengan modal secangkir kopi dan sebatang kretek, hilanglah tembok pembatas bernama status sosial dan latar belakang pekerjaan atau pendidikan. Bukan seperti modal yang ditanamkan partai politik saat kampanye, dengan semakin banyaknya jumlah rupiah yang dijadikan umpan untuk rakyat maka semakin besar pula tembok kekuasaan yang mereka bangun.[]
PS: ini hanya catatan kecil setelah ngopi