in Note

Nasionalisme Kita

TUJUH BELAS AGUSTUS. Saya selalui menjumpai orang-orang membuat sebuah perayaan. Perayaan yang sama, dan selalu sama pada setiap tahun. Saya melihat, bagaimana seorang anak kecil, dengan segenap kepolosannya, berlomba memakan kerupuk yang digantung pada sebuah tali rafia. Kemudian, sekelompok pemuda bergantian naik ke pucuk pohon bambu, demi mendapatkan beberapa bungkus hadiah. Orang-orang ramai berdatangan, untuk menonton perlombaan. Mereka bersorak-sorai memberi semangat. Tanpa peduli malam semakin larut. Suasana pun menjadi ramai.

Seperti anak-anak kecil pada umumnya, saya selalu penasaran dengan lomba-lomba seperti itu. Di sekolah dasar, berulang kali saya coba ikuti lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan lain sebagainya. Permainan-permainan itu, menguji ketangkasan dan kegigihan. Seperti yang para pahlawan lakukan untuk merebut ‘kemerdekaan’ dari tangan penjajah, kata guru saya.

Saya lantas percaya bahwa itulah kemerdekaan. Ketika kita bisa mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa. Lalu mengadakan atau mengikuti perayaan dan perlombaan untuk merayakan bulan kemerdekaan, Agustus. Saya hanya bisa mengamininya. Tanpa mencari benar atau tidaknya gagasan orang lain.. Sebagai seorang anak kecil, saya tak memiliki dasar berpikir yang logis. Saya sama sekali tak mengenal logika. Orangtua dan guru sekolah saya tidak pernah mengajarkan filsafat. Mereka melarang saya belajar filsafat. Bagi mereka filsafat bisa membuat orang sesat dalam beragama.

Saya juga tak cukup pandai membuat definisi. Apalagi untuk mengartikan kata ‘kemerdekaan’. Saya tak terbiasa dengan istilah-istilah bahasa indonesia. Saya hampir tak pernah bertutur sapa dengan teman-teman saya menggunakan bahasa indonesia, saat masih kecil. Sebab, berbicara menggunakan bahasa indonesia di desa, berarti bertingkah seperti orang kota. Tidak tahu tata krama.

Barangkali semangat kemerdekaan tak hanya meledak melalui teriakan penonton pada sebuah perayaan dan permainan. Sebuah layar televisi memiliki kemerdekaan dalam versinya sendiri, pada sebuah ketidaksadaran khalayak. Terutama pada saat bulan peringatan kemerdekaan Indonesia, Agustus. Televisi pada momentum seperti itu, tiba-tiba menjadi sebuah layar kaca berwarana ‘merah putih’. Membawa pesan-pesan semangat kemerdekaan.

Tak hanya televisi. Di sepanjang jalan, wajah-wajah reklame, baliho, dan sebagainya, pun memiliki ekspresi yang lain. Dua orang lelaki berdiri di samping kanan dan kiri seorang perempuan. Mereka bertiga memakai kemeja lengan panjang dengan warna putih. Ketiganya berdiri tegap dengan peci hitam di kepala mereka. Sambil mengatupkan jemari tangan kanan di dahi kepala, sebagai tanda hormat. Mereka senyum berseri. Seolah kemerdekaan adalah kebahagiaan.

Namun saya tak lagi percaya dengan televisi. Saya tak percaya bahwa semua pemuda di Indonesia merayakan semangat kemerdekaan dengan kegembiraan, seperti di iklan televisi. Sebab, saya melihat sendiri bagaimana sanak saudara dan tetangga saya menyerah pada sempitnya lapangan pekerjaan. Akhirnya menjadi buruh di pabrik-pabrik material milik orang asing, dengan gaji yang minim. Bahagiakah ia?

Ada ingatan saya yang lain tentang ‘kemerdekaan’, ialah upacara bendera. Pertamakali saya mengikuti upacara bendera pada saat hari pertama masuk kelas X SMA. Saat itu, saya berdiri di barisan belakang. Saya tak menggunakan seragam abu-abu putih seperti peraturan yang sekolah tetapkan. Beruntung saya bukan satu-satunya siswa baru berseragam biru putih yang mengikuti upacara bendera pagi itu.

Namun beberapa dari kami, peserta upacara di barisan belakang, tidak memiliki postur setinggi peserta upacara yang berada di barisan depan. Sehingga, dari kejahuan hanya bisa kami dengarkan suara aba-aba pemimpin upacara. Ketika mendengar aba-aba hormat, kita semua hormat. Jika komando memberi aba-aba siap, maka dengan segera kami mengambil posisi siap. Tanpa mengetahui apa yang sedang kami hormati, atau dalam situasi apa kita bersiap siaga.

Barangkali dari sebuah upacara bendera bisa kita tarik sebuah analogi sederhana. Bahwa peserta upacara di barisan depan adalah orang-orang yang memiliki kedekatan dengan pusat pemerintahan. sekaligus memiliki pengaruh perintah atau peraturan apa yang harus pemerintah pusat berikan kepada barisan rakyatnya. Merekalah kota-kota besar, Ibukota yang cenderung menjadi Metropolis, seperti Jakarta.

Sementara itu, orang-orang di barisan belakang, jelas berbeda. Mereka tidak memiliki hak atas kemerdekaan yang sama. Kemerdekaan yang berulang kali mereka rayakan pada bulan yang sama, pada momen yang sama. Mereka lah kelompok marjinal. Orang-orang yang berada di pinggir, dan dipinggirkan. Mereka jauh dengan Ibukota. Jauh dari pusat pemerintahan. Namun, apa peritah yang mereka dengar, itulah yang harus mereka jalankan. Merekalah Aceh, Papua. Kemerdekaan mereka tidak sama.

Mereka adalah wajah-wajah yang jarang sekali muncul di media massa. Tak seperti gadis-gadis remaja, dengan wajah ceria dan rambut berkillau, yang sesebentar waktu muncul di layar televisi. Saya lebih sering menyaksikan wajah-wajah Aceh dan papua dalam sebuah berita konflik atau bencana. Sebuah gerakan separatis, yang hendak memisahkan diri dari kedaulatan negara Indonesia.

Kalau begitu apakah itu kemerdekaan. Apakah kemerdekaan hanyalah sebuah konsep, yang selalu mengambang di taataran ideologis, dan cenderung utopis. Meskipun konsep itu telah disuarakan oleh seorang proklamator, melalui diktum bernama ‘proklamasi kemerdekan’ di depan publik.

Saya jadi ingat pada seorang pemuda Tionghoa bernama Soe Hok Gie. Ia dilahirkan pada masa pra kemerdekaan Indonesia, ketika perang di pasifik sedang berkecamuk[i]. Meski ia hadir di Indonesia pada saat-saat genting, namun ia tumbuh sebagai seorang aktivis—seperti banyak orang katakan.

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan,” kata Gie. Seorang warga negara, kata Gie, hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya.

Lantas adakah jalur alternatif bagi seorang warga untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Bagi Gie, nasionalisme bisa tumbuh ketika kita mengenali Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Melihat lanskap alamnya dengan dekat, dan mencintai manusia-manusia di dalamnya dengan segala heterogenitasnya. Selanjutnya, mari mempertanyakan nasionalisme kita. []


[i] Soe Hok Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran (1983).