in Story

Pesona Nusantara dalam Layar Film Indie

Nusantara menyimpan banyak sekali pesona di tiap-tiap daerahnya. Mulai dari potret keindahan alam, hingga kearifan lokal dari beragam kebudayaan yang berkembang. Menanggapi hal tersebut, sekelompok sineas muda dari kota Malang dan Jember mengajak publik untuk merekam kembali pesona budaya di Indonesia lewat jalur perfilman.

Mereka menamai kelompoknya sebagai Kine Klub (Kelompok Studi Sinematografi) yang dinaungi oleh Universitas Negeri Malang. Melihat semakin besarnya perkembangan dan minat para sineas muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah, Kine Klub kembali mengadakan Roadshow Malang Film Festival.

Lewat acara ini, Kine Klub mengajak para pegiat film di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam ajang nasional Malam Film Festival pada April 2014 mendatang.

Setelah mendapatkan sambutan yang cukup meriah dari enam kota tempat diadakan Roadshow Malang Film Festival 2013, seperti Bandung, Malang, Medan, Semarang, Tangerang, Surabaya, Kine Klub mengakhiri agenda Roadshow  di kota Jember Sabtu(7/12) pekan kemarin.

Bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Sastra Universitas Jember, mereka Mendatangkan berbagai kalangan sineas di Kota Jember untuk melakukan pemutaran dan diskusi film indie. Diantaranya kelompok produksi film indie Media Rekam, Juvi (Junior Videographer), JIM (Jember Indie Movie), juga kalangan mahasiswa dan pelajar SMA.

Menurut Astrid Ayudithya, pegiat film di Kine Klub, dalam acara tersebut mereka sengaja mengajak berbagai elemen muda yang bergerak dalam dunia perfilman karena ide dan gagasan yang muncul bisa lebih fresh dan kreatif.

“Film-film indie produksi mahasiswa dan pelajar itu kebanyakan belum terkontaminasi dengan muatan yang aneh seperti di televisi, jadi mereka bisa punya ide yang natural untuk dijadikan film,” Tutur Astrid menjelaskan maksud diadakannya acara tersebut.

Senada dengan Astrid, Ketua Panitia Roadshow Malang Film Festival di kota Jember, Adam Valliant Alrasyid, menyebutkan bahwa kalangan mahasiswa dan pelajar memang berpotensi tinggi untuk menyampaikan pesona dan keunikan di lingkungan sekitarnya.

“Sebenarnya ide atau gagasan mahasiswa dan pelajar lebih kreatif untuk membuat naskah film daripada kalangan profesional yang bergerak di wilayah komersil. Sehingga hal tersebut berpotensi besar untuk menampilkan pesona dan kearifan lokal bisa diangkat melalui media film pendek,” Jelas Adam.

4

Eksplorasi Ide Film Pendek

Roadshow Malang Film Festival yang digelar di Aula Fakultas Sastra Universitas Jember pun dikemas dengan menarik. Sebelum pemutaran film dimulai, beberapa anggota DKK menampilkan sebuah deklamasi puisi. Setelah itu, kelompok perkusi DKK pun berunjuk kebolehannya dalam memainkan peralatan perkusi untuk menyambut semua tamu undangan dan peserta roadshow yang hadir siang hari itu.

Di tengah rangkaian acara, peserta diajak untuk menonton beberapa film pendek karya sineas muda dari Jember. Salah satu film kelompok produksi film indie Media Rekam yang di putar pada kesempatan tersebut berjudul www.facebook.com.

Film itu mengangkat kisah seorang remaja yang terobsesi dan memiliki ketergantungan pada gadget serta jejaring sosial.Ada pula film pendek karya sineas muda Jember yang berjudul Maaf Hanya Ini. Film tersebut pun berangkat dari realitas sosial yang terjadi di Jember, yaitu film yang berkisah tentang kehidupan seorang pemuda ketika menjalani pekerjaan sebagai seorang waria untuk menghidupi keluarganya.

Pada puncaknya, panitia Roadshow kembali memutar film pendek yang menjadi nominator dan juara dalam Malang Film Festival tahun sebelumnya. Salah satu film yang diputar adalah Lawuh Boled.

Film berlatar kehidupan masyarakat di Purbalingga, Jawa Tengah itu pun mendapatkan banyak apresiasi dalam acara tersebut. Kendati sangat singkat, namun pesan sosial yang disampaikan dalam film tersebut sangat mudah dicerna oleh penonton. Sehingga Lawuh Boled berhasil menjadi juara dalam Malang Film Festival April kemarin.

1

Berani Berkarya dalam Keterbatasan

Di akhir acara, panitia menyediakan sesi diskusi bersama praktisi film dan panitia Malang Film Festival. Para peserta pun antusias membicarakan beragam topik. Mulai dari proses pembuatan film pendek di Jember, ide atau gagasan apa saja yang bisa diangkat menjadi sebuah film pendek, hingga pada teknis pembuatan film pendek itu sendiri.  Sehingga dalam proses ke depan, sineas muda tidak kesulitan lagi untuk menentukan ide apa yang bisa diangkat.

“Banyak lokalitas yang bisa diangkat, lokalitas itu kan tidak Cuma kebudayaan. Misalnya tingkah laku dan pola komuikasi yang tiap daerah berbeda.  Dan itu tentunya bisa menjadi ide cerita film pendek yang sangat menarik untuk diangkat,” kata Adam menambahkan.

Meski masih banyak yang menganggap rumit dan mahalnya proses produksi sebuah film pendek, namun Adam tetap optimis akan potensi sineas muda Jember untuk kembali menggali ide kreatif dalam memproduksi film pendek. Salah satunya karena film pendek merupakan media penyampai pesan yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.

“Film bisa jadi media penyampai pesan yang bagus, karena bisa memunculkan suasana tiap adegan secara utuh. Kemudian film juga sifatnya lebih menyenangkan untuk dinikmati daripada media lain,” ungkap Adam.

Ia pun menambahkan bahwa dalam proses produksi film pendek untuk kelompok produksi film indie di Jember, sangat banyak tantangannya. Salah satu tantangan yang paling sering ditemui yaitu keterbatasan alat. Namun keterbatasan tersebut, kata Adam, bisa menambah tantangan dan nilai pembelajaran bagi para pegiat film indie.

Tak hanya itu saja, para pegiat film indie bisa lebih banyak mengeksplorasi ide cerita lebih luas meski perlengkapan yang ada cukup terbatas. Sehingga dunia perfilman bukan semata-mata sebagai hiburan.

“Film indie bukan hanya sebatas hiburan. Tapi ada pula proses edukasi juga nantinya,” pungkas Adam.

 


 

*) Tulisan ini dimuat di koran harian Surya

2  5