in Note

Pulang

KepulanganIni bukan soal novel Pulang karya Leila S. Chudhori yang ramai dibicarakan oleh para sastrawan Salihara. Tapi ini hanya sebuah cerita yang saya tuliskan pasca ujian akhir semester pekan lalu.

Seharusnya saya berbahagia karena ada beberapa hal yang bisa saya buang jauh—masuk kelas dan mengikuti perkuliahan setiap hari. Lantas saya bisa mulai memasang raut muka bahagia. Karena setidaknya saya bisa lepas dari ancaman ‘mati di dalam kelas’ saja.

Namun ibarat lepas dari lilitan ular, saya justru masuk kandang harimau. Masa liburan kuliah ternyata mendatangkan beragam ancaman yang lain. Sialnya ancaman itu—dalam pikiran saya—menjelma jadi orang gila yang telanjang sambil berlarian di lapangan bola tempat saya menikmati senja. Dalam kondisi seperti itu, saya hanya punya sedikit pilihan. Memasang kuda-kuda untuk melarikan diri, atau memasang muka datar sambil berlagak tidak mempunyai masalah sedikitpun.

Lebih tepatnya momen itu berawal ketika saya ngopi bersama seorang kawan di sebuah warung dekat lapangan basket kampus. Biasanya kami menyebut warung itu dengan sebutan “Warung Emak”. Nama itu sebetulnya tidak ada dalam papan nama di depan warung. Hanya saja kami memiliki relasi yang cukup dekat dengan Bu Harti—nama pemilik warung. Seperti emak dan anak pada umumnya, kami sering mendapat tambahan porsi nasi tiap memesan sepiring nasi.

Sebetulnya hari saya tidak sedang memesan sepiring nasi. Begitu pula dengan Sadam—kawan yang mengajak saya nongkrong di Warung Emak. Kami berdua hanya memesan secangkir kopi. Dan kopi yang kami pesan pun diantar setelah kami menunggu lumayan agak lama.

Tidak  jadi masalah sebetulnya bila harus menunggu cukup lama untuk memesan secangkir kopi. Karena hal tersebut bagi saya dan Sadam adalah hal yang lumrah. Bukan soal kami sedang ngopi di emperan jalan atau Campus Resto. Tapi karena kami memilih tempat duduk di bawah pohon keres yang ada di seberang jalan.

Belum lima menit kopi itu tiba di meja kami dan memulai beberapa obrolan ringan, Sadam tiba-tiba menyisipkan pertanyaan aneh.

“Kapan rencana moleh?” tanyanya dengan nada datar.

Nggak ngerti sik,” jawab saya singkat setengah putus asa karena tidak menemukan jawaban pasti.

Pertanyaan itu bagi saya bukan untuk dijawab. Karena tiba-tiba saya mendadak jadi lapar karena pertanyaan itu. Saya ingin lekas menghabiskan kopi dan pergi jauh dari obrolan soal pulang ke kampung halaman saat hari libur. Sialnya pertanyaan macam itu datang berkali-kali ketika saya ngopi di kesempatan yang berbeda. Tak hanya Sadam, tapi juga kawan-kawan yang lain.

Beberapa hari kemudian, kakak saya mengirim pesan singkat. Orang tua saya juga menelefon. Mereka menyodorkan pertanyaan yang sama: kapan pulang?

Tetapi saya tidak mau berlarut-larut memikirkan jawaban itu. Toh kalau nanti ada kesempatan pulang ke kampung halaman, tentu saya akan melakukannya tanpa ada keterpaksaan. Lepas dari segala bentuk pertanyaan itu, saya sadar akan satu hal. ‘Kepulangan’ didefinisikan dengan satu konsep yang amat sempit—baik oleh kawan, saudara, dan orangtua saya.

Jika pada umumnya ‘kepulangan’ dipahami sebagai kembalinya seorang pejalan ke kampung halaman, dalam kondisi seperti sekarang saya lebih sepakat dengan makna kepulangan yang lain. Ketika saya ngopi di tempat yang sudah cukup lama tidak saya datangi, saya merasakan sebuah ‘kepulangan’. Ketika tak sengaja memutar lagi-lagu yang cukup lama tidak saya dengarkan, saya seolah melakukan sebuah perjalanan untuk ‘pulang’. Ketika melihat cara seseorang perempuan tertawa dengan segala kekanak-kanakannya, maka saya anggap itu adalah kepulangan yang lain.

Sedernahananya, untuk merasakan ‘kepulangan’ sementara ini saya masih tidak ingin melakukannya dengan cara menempuh perjalanan selama berjam-jam lamanaya di dalam bus atau kereta. Melewati banyak terminal atau stasiun. Membosankan bukan? Makanya saya sedang ingin merasakan cara lain untuk ‘berpulang’.[]