in Note

Angpao

Ada satu bagian kecil dari momen lebaran yang sangat saya suka. Ruang tamu yang selalu penuh, aneka ragam jajanan di toples dan piring, dan tentu angpao dari sanak famili. Istilah angpau ini tentu merujuk pada bungkusan amplop yang berisi uang.

Jumlahnya pun relatif. Namun beberapa angpao yang saya terima, bisa dibilang cukup untuk beli kopi bagi anak seumuran saya.

Apakah saya boleh menerima uang angpao tersebut?

Saya terkadang menanyakan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri. Juga pada orang tua saya, mengingat umur saya sudah berkepala dua. Tentu saya tidak masuk pada kategori ‘anak di bawah umur lagi’. Namun apakah di umur yang sudah berkepala dua ini saya masih layak menerima angpao?

“Wis diterimo ae, nyenengke wong sing ngemehi,” kata Ibu saya.

Ibu saya rupanya tak ingin ribet dengan pertanyaan saya. Karena bagi Ibu saya, ada kepuasan tersendiri yang dimiliki orang yang memberi. Barangkali perasaan itu juga muncul pada Ibu-Ibu di sepanjang jalan kampus hari di bulan puasa kemarin. Ibu-Ibu itu memberikan takjil gratis kepada pengguna jalan tiap sore menjelang waktu buka puasa.

Saya mulai sedikit mengierti. Atas penjelasan singkat itu, saya jadi tidak ragu lagi untuk menerima angpao yang diberikan sanak famili kepada saya.

Kemudian saya merasa yakin lagi ketika menyadari bahwa angpao tidak memiliki kesamaan konotasi dengan istilah ‘suap’. Mengingat keseharian saya di kampus juga menjadi seorang kuli tinta di sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Maka di lingkungan wartawan,  menerima amplop atau suap adalah perkara yang tidak etis.

Bukan soal anti-suap atau tak butuh uang makan. Namun saya sempat berdiskusi panjang soal independensi media dan larangan menerima suap dari orang-orang diluar ruang redaksi. Kami pun sepakat, bahwa menerima amplop atau suap sama halnya membiarkan orang lain mengaitkan tali di leher kita sendiri. Lantas memperlakukan diri kita bak hewan piaraan yang harus nurut. Disuruh nulis A, ya nulis A.

Saya jadi ingat ketika Andreas Harsono, salah mentor Kelas Narasi Yayasan Pantau di Jakarta pada awal tahun 2005, menantang seorang pemilik media berskala nasional soal ‘kesucian’ wartawannya. Sebuah tantangan yang menurut saya menyimpan tendensi bahwa Dahlan Iskan, pemilik Kelompok Jawa Pos, tidak bakal berani menjamin bahwa wartawan di medianya tidak betul-betul bersih dari praktik suap.

Dalam hal ini, sebetulnya saya tidak hendak mendiskreditkan Kelompok Jawa Pos. Namun apa yang bisa anda bayangkan bila media massa berskala nasional yang sempat menyabet beberapa penghargaan itu, mengidap independensi yang sakit. Dan yang paling menakutkan, pemberitaan di media tersebut disetir oleh pemberi amplop. Ngeri bukan?

Atau begini saja, saya akan tuliskan satu contoh praktik menerima amplop yang betul-betul terjadi. Kisah itu saya dapatkan dari seorang wartawan yang bekerja untuk sebuah media di wilayah Jember, Radar Jember. Sebuah media yang tergabung dengan Kelompok Jawa Pos. Konon media itu memiliki pengaruh yang signifikan di wilayah Jember.

Dalam sebuah obrolan di warung kopi, kawan saya menyebutkan bahwa media di tempatnya bekerja, telah memiliki kontrak selama beberapa tahun dengan beberapa instansi di Jember. Mulai dari instansi kesehatan, pendidikan, hingga pemerintahan daerah. Hasilnya, pemberitaan dalam media tersebut cenderung bernada positif ketika menyangkut persoalan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan.

Saya tak paham bagaimana mekanisme amplop bisa menyetir kebenaran media yang tergabung dalam Kelompok Jawa Pos itu. Atau jangan-jangan praktik amplop seperti itu tak hanya terjadi di lingkungan wartawan Kelompok Jawa Pos. Dan masih banyak juga wartawan di kota besar seperti Jakarta juga melakukan praktik amplop. Mudah-mudahan duggaan saya salah.

Karena saya percaya masih banyak wartawan yang masih bisa menjaga integritasnya. Menjaga profesinya sebagai pencari kebenaran, dan membuat berita untuk kepentikan publik. Seperti kata Bill Kovach dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, bahwa wartawan seharusnya menempatkan loyalitasnya pada warga negara. Bukan pada tuan pemberi amplop.[]