in Note

Mahasiswa Juga Menolak Punah

Pada akhirnya seorang mahasiswa semester awal akan segera menemui nasib terburuknya. Duduk berjam-jam di dalam kelas. Sesekali menatapi sorotan proyektor yang mulai redup. Berpura-pura mencatat materi perkuliahan setiap harinya. Mendengar ceramah dosen pengampu yang itu-itu saja, dengan bahasan yang tak jauh dari pembabakan zaman Pujangga Baru, Angkatan ‘45, sampai Angkatan 2000.

Bila tak ingin mengalami nasib kelam seperti itu, saya sarankan anda untuk segera mengemas buku catatan ke dalam tas anda. Lalu tinggalkan perkuliahan dengan alasan yang seksi. Sebelum anda dipaksa menelan muntahan bernama kesia-siaan. Berikutnya, simak beberapa saran yang saya berikan, agar anda tak jadi mahasiswa yang mati dalam kelas alias punah sejak dalam kandungan:

  1. Dosen Adalah Dewa

Sudah menjadi rahasia umum jika di era kekinian, para dosen mentasbihkan dirinya sebagai dewa yang selalu benar dengan segala ucapannya. Sedangkan mahasiswa—meminjam istilah Soe Hok Gie, hanyalah kerbau yang dipaksa tunduk. Anda tentu tak mau menjadi kerbau beralmamater kan?

Saya tak hendak menggeneralisir. Boleh diakui, memang tak semua dosen mendewakan dirinya. Masih ada beberapa dosen yang memegang nilai egalitarian. Menyamakan derajatnya dengan mahasiswa sebagai seorang pembelajar dan tak mengharuskan mahasiswanya memiliki perspektif yang berbeda dalam mendedah sebuah topik pembicaraan.

Mantan teman sekelas saya pernah mengeluh dengan dosen tipikal dewa. Bahkan tiap selesai kuliah, ia selalu melakukan mandi besar. Ngeri!

  1. Kelas Adalah Penjara

Saya pernah menonton sebuah pertunjukan teater di gedung PKM. “Penjara Penjara”  begitu nama pertunjukannya. Ia mengisahkan bagaimana hiruk pikuk kehdupan kampus. Di dalamnya ada kelompok aktor yang menasbihkan dirinya sebagai aktipis kampus. Mengkritisi segala kebijakan kampus. Mereka menghabiskan hari-hari dengan senandung darah juang dan demonstrasi.

Di kubu yang berlawanan, tiga orang aktor bergabung menjadi blok mahasiswa unyu nan ceria. Mereka sama sekali tak mengenal Darah Juang. Alih-alih justru lebih akrab dengan Keong Racun dan pakaian trendy khas remaja terkinian.

Kedua blok ini bertemu di dalam kelas setiap harinya. Nyaris tak pernah akur. Para dosen, dalam kisah itu, justru lebih berpihak pada kubu mahasiswa unyu. Dengan alasan, mereka lebih penurut ketika disuruh ini itu, daripada mahasiswa blok aktipis. Paradoksal bukan?

Ketika itu saya baru semester satu. Lewat pertunjukan itu, saya jadi lebih suka menonton pertunjukan teater dan menyimak sesi apresiasi hingga khatam. Daripada menyimak ceramah dosen matakuliah Kajian Drama yang hyper-normatif itu. Mengagungkan WS Rendra tapi tak mengenal Afrizal Malna. Doi terjebak pada zaman WS Rendra, sementara ia sama sekali tak mengikuti prahara budaya jilid dua yang terjadi antara Bumipotera dan Salihara. Kasihan gan!

  1. Menolak Jadi Objek

Masih ingat dengan aturan pasal X di kampus? “Mahasiswa tak boleh telat masuk kelas” begitu kira-kira bunyinya. Sementara dosen boleh seenaknya terlambat berjam-jam untuk mengisi perkuliahan, karena mereka punya seribu dalil sahih yang akan dibacakan begitu ada mahasiswa yang protes.

Bayangkan jika mahasiswa yang telat masuk kelas. Ia akan disindir, bahkan diusir dari kelas. Tapi anda tak perlu protes, apalagi sampai menulis pernyataan sikap dan melakukan aksi tunggal di halaman kampus. Cukup terima kenyataan pahit ini sebagai pelajaran emas. Lalu sisipkan “Negara dan Hegemoni” yang digagas Antonio Gramsci di kala ngopi. Lantas berdoalah agar dosen banal itu dijewer kupingnya ketika hari pembalasan telah tiba.

Sekian dulu saran dan beberapa cerita dari beberapa teman saya di kampus. Sampai jumpa di warung kopi terdekat, bukan di kelas. Tabik!

 


*) tulisan ini dimuat di jejaring Siksa Kampus