in Note

Cara Menghadapi Ujian

Sejatinya, perdebatan mantan adalah hal yang terlampau idealis. Karena mantan dalam dunia Plato tentu berada di tataran idea. Sedangkan mantan anda, (bila punya) tentu berada di dunia yang lebih realistis, berwujud, dan konkret. Keduanya tak akan pernah menemukan benang merah, sekalipun anda—para aktipis kenangan, mendedahnya dengan sabda Michel Foucault, Slavoj Zizek, atau teori ndakik-ndakik lainnya.

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita tanggalkan sejenak pakaian agama, idealisme, dan almamater kita. Agar kita bisa mewujudkan dunia realistis yang lebih ‘sama rata dan sama rasa’ dalam berpikir. Hidup Kominis, Bakar Kapatilis!

Jadi mari membincangkan hal-hal yang lebih realistis saja, Ujian Akhir Semester (UAS) misalnya. Toh sekarang diantara kita tak banyak lagi yang gemar membincangkan idealisme. Kita lebih sibuk mengganti username twitter dan merangkai serial kata-kata bijak. Kita lebih sibuk menyiapkan mini-copy-book untuk dibuka saat menjawab soal ujian. Kita lebih butuh pada nilai cum laude agar cepat lulus dengan predikat ‘sangat menjemukan’, begitu kan?

Karena itu saya ingin membagi beberapa tips agar anda tak tersesat dalam mengikuti ujian:

1. Siapkan Mini-Copy-Book

Maksudnya adalah mem-fotocopy diktat atau beberapa catatan dalam bentuk yang super kecil. Langkah ini cukup melegenda di kalangan mahasiswa. Karena semua jawaban sudah termaktub dalam lembaran kertas-kertas kecil.

Gagasan ini mulanya dikembangkan dari pemikiran Yasraf Amir Pialang dalam Dunia Yang Dilipat. Bahwa di era kekinian kita bisa bertamasya melampaui batas-batas kebudayaan. Dengan sedikit menggubahnya, maka mahasiswa yang mengamini Mini-Copy-Book sebagai penyelamat ujian adalah mahasiswa yang telah melampaui batas-batas intelektualitas. Sangar kan? Hidup Mahasiswa!

Namun di satu sisi, cara ini sebetulnya membuat anda nampak tak intelektual saat ujian. Karena biografi anda sebagai orang yang jarang baca buku akan terbongkar.

2. Datanglah Lebih Lambat 5-10 Menit

Siapa bilang terlambat adalah sebuah kesalahan terbesar dalam sejarah? Lihat saja jika dulu Romeo menggali kuburan Juliet secara tepat waktu, lalu mereka hidup bahagia. Barangkali kisah percintaan mereka tak akan melegenda seperti sekarang.

Karena itu, jangan terlalu gugup saat mencari ruangan ujian. Tetaplah tenang dan santai. Meski pengawas ujian akan memandang sinis karena anda terlambat, namun tuhan tetap akan menyayangi orang-orang yang berlaku tenang.

3. Buat Layout Lembar Jawaban

Jangan langsung menjawab pertanyaan begitu selesai membaca lembar pertanyaan. Namun siapkan layout (tata letak) lembar jawaban anda. Bila anda biasa menulis tangan dengan font 12, maka gunakan font 13 saat menjawab soal ujian. Karena cara ini akan membuat lembar jawaban anda lebih cepat terisi penuh.

4. Minta Lembar Jawaban Tambahan

Cara ini adalah kelanjutan dari langkah selanjutnya. Bila lembar jawaban pertama sudah terisi penuh lantaran anda menulis dengan font 13, maka mintalah lembar jawaban tambahan pada pengawas ujian.

Hasil survei saya saat mewawancarai beberapa mahasiswa di kampus menyebutkan bahwa kadar ke-sexy-an seseorang akan bertambah ketika meminta lembar jawaban tambahan. Lihat saja, pengawas ujian serta teman-teman anda akan menganggap anda bisa menjabarkan soal-soal ujian nan rumit secara detail dan panjang.

5. Berdiskusi Lebih Baik Dari Nyontek

Ada saat-saat kurang ajar memang saat ujian. Misalnya saat salah satu pertanyaan dosen mewajibkan kita menggunakan teori semiotika Riffaterre. Sementara saat memberi perkuliahan, dosen itu hanya banyak bercerita tentang kiprahnya di belantara sastra Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sehingga menjadi wajar bila kita lupa dengan sistematika analisis semiotika Riffaterre, karena lebih memilih berkicau di linimasa Twitter ketika dosen itu mengajar. Maka saat ujian, berdiskusilah dengan teman sebangku anda. “Bedanya semiotika Riffaterre dengan Barthes itu gimana sih gaes?” misalnya.

Tak jadi masalah jika teman anda tak menjawabnya karena tidak tahu. Tapi pengawas ujian tak mungkin tahu apa yang sedang anda bicarakan bersama teman anda.

6. Jadilah Yang Pertama

Jika memungkinkan kumpulkan lembar jawaban anda secepat mungkin. Dengan demikian, anda tak perlu berlama-lama terdoktrin bahwa ruang ujian adalah penentu akhir dari kehidupan anda. Ingatlah karena di luar sana banyak ujian yang harus anda siapkan.

Demikian sedikit masukan dari saya agar anda tak gugup lagi saat ujian. Awalnya saya ingin menulis tujuh poin dahsyat untuk menghadapi ujian. Namun saya ingat petuah salah satu guru ngaji saya, bahwa angka tujuh adalah angka ajaib. Sementara itu saya hanya mahasiswa butiran debu yang tak bisa membuat hal ajaib, seperti para dosen yang bisa menentukan garis nasib seorang mahasiswa dengan nilai akhir matakuliah. Sebab itu saya hanya bisa menuliskan enam masukan saja.

Akhirnya saya tak hendak menjadi sang pencerah seperti Imanuel Kant, yang gagal mendamaikan para pemikir Rasionalisme dan Empirisme sebelumnya. Saya anggap gagal, karena pada akhirnya di era kekinian para pengikut Jonru Ginting, Felix Siauw, dan Yusuf Mansur lebih mulia imannya ketimbang pembaca SiksaKampus.com

Tabik!

*) Tulisan ini dimuat di jejaring SiksaKampus.com