in Story

Salah Masuk Pintu Busway

SAYA memang enggan bertanya pada orang yang tak saya kenal di Jakarta. Pernah saya bertanya pada seorang perempuan soal rute mobil angkutan umum yang melewati Jalan Palmerah. Ia tak menjawab. Ia justru mengambil beberapa langkah menjauhi saya.

Dua hari lalu saya bertanya pada Aulia Rachman, teman sekamar saya. “Dari gang sini, belok kiri. Jalan terus sampai ketemu halte RS Medika. Di situ naik busway aja, lalu turun di halte Pasar Kebayoran Lama,” pesan Aang. Saat itu saya akan pergi ke perpustakaan Tempo.

Saya tiba di halte RS Medika setelah berjalan sekitar 200 meter. Suasana halte tak begitu sesak. Beberapa orang bersandar pada tiang besi setinggi pinggul. Beberapa lainnya berdiri menunggu di dekat pintu halte.

Sebuah busway baru saja berhenti di sisi kiri halte. Saya memilih masuk bus lewat pintu yang paling lenggang. Saat memasuki bus itu, saya bertanya pada seorang petugas yang berjaga di pintu bus. “Pasar Kebayoran Lama mas?” Petugas itu hanya melihat saya. Ia tak menjawab.

Tangan saya langsung menggenggam gagang bulat yang menggantung di atap busway. Saya berdiri berhadapan dengan petugas yang berjaga di dekat pintu. Tak ada tempat duduk tersisa lagi.

Sekitar satu menit bus berjalan, saya mulai mengarahkan pandangan ke tiap sudut busway. Bagian depan bus itu sudah penuh sesak oleh penumpang perempuan. Tak ada satu penumpang lelaki seorang pun di sisi depan bus.

“Silahkan kasih jalan dulu. Yang perempuan biar ke depan,” suara petugas berteriak dari pintu belakang. Di bagian belakang, beberapa perempuan berdesakan mencari tempat. Sementara itu penumpang laki-laki berdesakaan di ujung belakang.

Bau wangi parfum perempuan yang baru berdiri di samping saya mulai tercium, bergantian dengan udara dingin dari dalam busway. Mata perempuan itu melirik ke arah saya. Tangan kanannya menutup hidung. Mulutnya mulai bergumam.

“Jangan-jangan saya tadi masuk lewat pintu khusus perempuan,” pikir saya mulai cemas. Dahi saya mulai berkeringat dingin. Sekitar lima belas menit perjalanan itu. Saya tak banyak bergerak.

Suara perempuan lewat pengeras suara memberitahukan bahwa busway akan berhenti di halte Pasar Kebayoran Lama. Saya segera bersiap turun, lalu meninggalkan halte. Dari halte itu saya berjalan sekitar 300 meter menuju kantor Tempo.

Saat bertanya pada satpam yang berjaga. Rupanya perpustakaan Tempo sudah tutup sejak pukul lima sore tadi.***

 

*) tugas menulis deskripsi padat sepanjang satu halaman menggunakan tokoh “saya” dari Janet Steele, saat kelas Jurnalisme Sastrawi XXIII di Yayasan Pantau.