in Story

Memburu Buku di Blok M Square

YANTI menarik senyum begitu seorang lelaki mendatangi lapak dagangan miliknya. Ia mempersilahkan lelaki itu seraya menawarkan bantuan. “Mau dibantu cari apa mas?” Lelaki itu tak menjawab tawaranYanti.

Lantai dasar Blok M Square sore itu sedang lenggang. Tak banyak pengunjung berlalu-lalang. Di lantai itu berderet kios percetakan, sablon, dan buku bekas. Beberapa pedagang yang tak memiliki kios tetap seperti Yanti, membuat lapak sementara di lantai itu.

Saya mendatangi lapak dagangan Yanti, setelah gagal menemukan buku Saksi Kunci di beberapa kios buku. Buku terbitan 2012 itu memuat laporan investigasi skandal pajak terbesar di Indonesia. Beberapa pedagang buku justru tak tahu soal buku itu.

“Ini bang yang ada skandal Rihanna ama De Caprio,” salah satu pedagang menawarkan sebuah tabloid remaja pada saya. Saya hanya tersenyum singkat, lalu meninggalkan pedagang itu.

Lapak buku milik Yanti berukuran tiga kali dua meter. Ia berada di tengah koridor utama lantai dasar Blok M Square. Puluhan buku ditumpuk setinggi setengah meter, menjadi sekat pembatas sisi kiri dan kanan lapak. Di bagian belakang lapak itu, sebuah rak kayu beralas spanduk bertumpuk beberapa buku.

Setelah duduk sekitar 15 menit mengamati judul buku, saya mengambil buku Aku, karya Sjuman Djaya. “Bagus itu mas. Saya kasih 25 ribu saja deh,” ujar Yanti menawarkan harga buku itu.

“Mahal banget ya? 10 ribu nih harganya.”

“Waduh, kalau mas ambil segitu, saya pulang jalan kaki dong. Saya kasih potongan jadi 15 ribu deh.

Saya meletakkan kembali buku itu di tempat semula, lalu mencari buku di tumpukan lainnya.

Jam di ponsel saya sudah menunjuk pukul enam sore. Mata saya mulai lelah menyoroti puluhan judul buku di tempat itu. Udara dari pendingin ruangan gedung membuat mata saya semakin perih. Tas ransel berisi komputer jinjing dan beberapa buku di punggung saya terasa semakin berat.

Awalnya saya bersiap pulang, setelah berhasil menawar buku Aku dengan harga 10 ribu. Namun Yanti menawarkan sebuah buku lagi pada saya.

Mas suka buku sastra? Ini ada bukunya Seno Gumira, bagus juga lho,” kata yanti. Nama penulis buku itu menyita perhatian saya.

“Bukunya yang mana ya, Trilogi Insiden?”

Belum sempat menjawab, ia menyodorkan buku dengan sampul warna merah muda, bergambar sebuah gagang telefon, dan setangkai mawar merah. Di atas gambar itu tertulis nama pengarangnya, Seno Gumira Ajidarma. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta judul buku itu.

“Kalau buat mas,30 ribu saja,” bisik Yanti dengan suara lirih. “Buku seperti ini banyak yang cari lho mas!”

“Kata siapa banyak yang cari? Buku sastra malah nggak laku di pasaran mbak. Paling laris sekarang itu ya buku Tes CPNS sama buku motivasi,” timpal saya sambil meraba-raba permukaan buku itu.

“Ya tetep aja mas, banyak orang cari buku sastra.”

Saya tetap bersikukuh bahwa genre buku sastra tak punya daya jual tinggi di pasaran. Adu pendapat anatara saya dan Yanti berlangsung sekitar sepuluh menit. Yanti nampaknya sudah lelah. Ia mengalah dan menjual buku itu seharga 10 ribu kepada saya.

“Nah kalau gini kan enak. Nanti saya pasti ke sini lagi, sama ajak teman-teman juga tuh,” ujar saya dengan wajah berbinar.

“Aduh mending gak usah deh mas! Nanti nawar harga murah lagi, saya yang rugi. Bangkrut dong bisnis saya,” sahut Yanti berkelakar.***

 

*) Tugas menulis deskripsi padat sepanjang 500 kata menggunakan perkakas menulis, dari Andreas Harsono saat kelas Jurnalisme Sastrawi XXIII di Yayasan Pantau.