in Note

Peradaban Emas di Tangan Profesor

Apakah sosok profesor hebat hanya ada di film kartun?

APA JADINYA jika sebuah kampus tersohor seantero wilayah ‘tapal kuda’ punya banyak tenaga pengajar bergelar profesor? Barangkali wilayah itu dalam hitungan tahun saja, bisa membangun peradaban gilang-gemilang. Lalu kita tak perlu lagi berkiblat pada kota-kota megapolitan seperti Jakarta, Napoli, atau Broadway.

Sebentar dulu, kita berhak pesimis. Karena tak banyak orang tahu istilah wilayah ‘tapal kuda’ maka perlu sedikit penjelasan soal istilah tersebut. Frasa itu selama bertahun belakangan jadi identitas daerah wilayah se-karasidenan Besuki: Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Wilayah itu secara geografis mirip sebuah lengkungan tapal kuda.

Di Jember, tempat saya mengambil studi ada banyak sekali tenaga pengajar bergelar profesor. Apalagi hanya doktor, tentu sangat banyak jumlahnya.

Mari kembali pada rumusan masalah pertama. Apakah dengan banyaknya kampus, doktor, hingga profesor kemudian membuat kota Jember memiliki sebuah peradaban emas?

Saya ingin sedikit bercerita. Saat hari pertama kuliah kemarin, saya nyaris lupa jika ada jadwal kuliah pukul dua siang. Begitu menengok jadwal, saya buru-buru berangkat menuju kelas. Namun nasib sial menimpa saya seperti biasanya, saya terlambat lima menit.

Bagi saya terlambat masuk kelas adalah hal biasa, setidaknya itu berlaku di kampus tempat saya studi. Toh seringkali para dosen juga terlambat masuk kelas, bahkan tidak mengajar mahasiswa meski ada jadwal kuliah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Sialnya hari  itu sedikit berbeda. Karena terlambat lima menit, seorang dosen bergelar profesor memarahi saya habis-habisan.

Awalnya ia bertanya, “Anda semester berapa?”  Saya terdiam sejenak, menghitung lama studi saya. Karena tak mau terlalu lama menjawab, saya hanya menyebutkan tahun angkatan saya memulai studi. Saya menjawab satu per satu pertanyaan profesor itu sambil berdiri.

Saya lantas mengambil tempat duduk di baris paling depan. Karena baris kedua hingga ujung belakang sudah terisi penuh. “Biar lebih jelas menjawab pertanyaan pak profesor,” pikir saya saat itu.

Selesai menjawab pertanyaan profesor soal lama masa studi, ia justru marah tak karuan. Ia mengatakan bahwa saya tak bisa sigap menjawab pertanyaan profesor. “Padahal anda ini laki-laki, yang nanti harus hafal uang belanja bulanan untuk istrinya,” katanya datar.

Seisi kelas tertawa. Saya hanya diam, sambil menebak apa relevansi perkataan profesor itu dengan matakuliah yang akan saya ikuti. Saya hanya manggut-manggut, mengiyakan segala perkataan profesor itu.

Seusai ia menceramahi saya, ia menyuruh saya agar mengambil tempat duduk di deret belakang. “Yang depan untuk perempuan saja,” tuturnya.

Saya tak paham betul apa yang ia maksud. Karena malas berdebat dengannya lagi, saya pun berdiri dan menuju bangku di deret paling belakang, mengambil tempat duduk. Sebagian mahasiswa di dalam kelas masih saja menatap ke arah saya.

Perkuliahan berlanjut, namun profesor itu belum juga mulai mendiskusikan materi kuliah. Barangkali masih perkenalan dan penyampaian kontrak kuliah. Saya menarik nafas panjang, mengusap kening yang mulai berkeringat saat saya berlari menuju ruang kelas tadi.

Setelah sekitar setengah jam profesor memperkenalkan biografi akademisnya sebagai peneliti bahasa daerah, ia tak kunjung membahas materi kuliah atau membikin kontrak kuliah. Ia memandangi saya, kembali mengajukan pertanyaan ke arah saya.

“Anda mengulang atau baru menempuh mata kuliah ini?” tanyanya singkat. Saya jelaskan bahwa saya mengulang karena mendapat nilai D. Ia terus mengajukan pertanyaan, “Kenapa dapat nilai D?”

Saat itu saya betul-betul tak tahu alasannya. Saya hanya jelaskan bahwa saya sedikit lupa, karena saya menempuh matakuliah ini sejak tahun pertama studi. Saya jelaskan pula bahwa saya selalu mengumpulkan tugas, seperti kebanyakan mahasiswa tingkat awal. Namun profesor itu justru menganggap saya mengelak dari pertanyaan yang ia berikan.

“Wah ini dia mulai mengelak. Saya bisa buktikan,” katanya.

Saya mulai enggan menjawab, apalagi berdebat dengan profesor itu. Ia nyaris tak memberi ruang dialogis saat itu. Barangkali karena cara ia berbicara yang mengenakan mikropon dan sebuah speaker kecil. Sehingga suaranya jelas lebih lantang ketimbang suara saya. Saya hanya pasrah, toh sedari awal saya tak mengada-ada. Apalagi berkonfrontasi dengan dosen bergelar profesor.

SUASANA KELAS semakin tak membuat saya gaduh. Saya semakin gelisah. Bukan karena sedari awal saya jadi bahan gunjingan profesor itu di kelas. Namun saya tak paham betul apa yang sedang ia bicarakan. Sama sekali tak ada berkaitan dengan mata kuliah yang ia ampu.

Profesor itu justru bertanya ke beberapa mahasiswa, “Siapa yang nanti akan jadi guru?” Hampir setengah isi kelas mengacungkan tangan. Pertanyaan berikutnya, “Siapa yang nanti ingin jadi dosen seperti saya?” Setengah isi kelas mengacungkan tangan.

Saya tak memilih dua-duanya, saya tak mengacungkan tangan. Karena bagi saya hal itu adalah sebuah pertanyaan untuk anak sekolah dasar. Pada akhirnya, tak semua orang ingin jadi guru dan dosen saja.

Teman saya, seorang antropolog muda dari Thailand pernah berkelakar. “Kalau mau riset etnografi di Indonesia tinggal buka peta saja, terus lempar batu ke peta itu sambil merem. Pasti di daerah itu ada bahan riset.” Kemudian saya kembali sadar, bahwa hampir tiap daerah di Indonesia punya entitas budaya yang beragam.

Sebetulnya saya hendak menyadur guyonan itu jadi begini. “Kalau mau cari profesor di Jember, tinggal buka peta kampus Universitas Jember saja, lalu lempar batu sambil merem ke peta itu.”

Terakhir, saya hendak mengajukan pertanyaan pragmatis, kalau kita punya banyak doktor dan profesor lalu untuk apa? Tak perlu lah berandai-andai dengan adanya banyak doktor dan profesor akan menciptakan peradaban emas nun adiluhung. Toh masih banyak persoalan kecil yang tak bisa diselesaikan doktor dan profesor: cara membangun ruang komunikasi bersama mahasiswa, misalnya.***