in Note

Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf

HERY PRASETYO tiba di tempat diskusi sekitar pukul delapan malam. Ia mengenakan jaket abu-abu, bercelana jeans pendek, dan berkacamata. Ia mengambil tempat duduk bersila di dekat pintu, lalu bersalaman dengan dua orang di samping kanan dan kirinya. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember itu sengaja diundang untuk bicara cinta dalam kacamata filsafat.

“Mas Hery jangan duduk di dekat pintu, nanti masuk angin,” kata saya menyarankan.

“Oh tidak apa, tenang saja,” jawabnya singkat.

Tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas berisi pengantar diskusi yang ditulis beberapa peserta. Hery turut menulis satu halaman esai singkat berisi pandangan soal cinta. Judulnya, “Cinta dan hal-hal yang belum selesai.”

Dalam tulisannya ia memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah cinta melulu bicara soal kesukaan terhadap lawan jenis?” Ia mengutip lirik lagu Nazareth berjudul Love Hurts. “Love hurts, love scars, love wounds.”

Bagi Hery, cinta telah menjadi mode diskursus yang hendak menguasai dan membiasakan hasrat untuk ditampilkan. “Cinta dialirkan dan sayatan memori membentuk objek penikmatan dan penguasan atas tubuh-tubuh terdisiplinkan,” tulisnya dalam esainya. Kecurigaannya, mengatakan bahwa cinta dan rasa suka yang selama ini dimiliki semua orang, adalah sebuah hasil pendisiplinan yang dibentuk lewat ukuran-ukuran normatif.

Selain Hery, ada lima peserta diskusi yang menulis pengantar bahan diskusi. Sebagian masih kuliah. Mereka berasal dari disiplin keilmuan yang beragam.

Imanuel Yudistira, mahasiswa jurusan sosiologi tingakat akhir. Ia aktif di UKPKM Tegalboto, lembaga pers mahasiswa yang berada di tingkat kampus Universitas Jember. Dalam esai singkatnya, ia menuangkan rasa gelisahnya melihat kondisi remaja era kekinian. Generasi yang sibuk dengan aktivitas akademis, sampai tak sempat menafsir realita sosial di sekitar mereka.

Yudistira curiga terhadap kebiasaan dan pola hubungan percintaan remaja, yang makin hari makin hiperbolik. “Untuk apa mereka bertanya pada pacarnya, sudah mandi atau belum? Sudah makan atau belum,” tanya Yudistira saat menggambarkan maksud tulisannya pada peserta diskusi. “Pertanyaan itu umumnya saling dimunculkan antara sepasang kekasih, padahal itu pertanyaan tak rasional,” lanjutnya.

“Padahal sudah jelas orang yang tak makan, maka dia akan mati.”

Baginya cinta tak lebih dari prosesi ritus penaklukan subjek, yang menggunakan mesin bernama hasrat untuk mencapai kenikmatan. Melalui sentuhan erotis, ciuman, bahkan seks. Tubuh kemudian selalu jadi tolok ukur. “Tubuh menjadi sarana pencapaian ledakan eksotisme dalam interaksi antar pribadi.  Tubuh menjadi ruang ekspresi dan eksplorasi untuk merasai, mencari, mengungkap dan bermain-main dengan kenikmatan,” tulisnya.

“Kebiasaan ini bagi saya adalah sebuah kebodohan yang dilegalkan. Parahnya menggunakan dalih atas nama cinta,” jelasnya memantik diskusi.

Dieqy Hasbi Widhana, jurnalis dan penulis lepas di beberapa media nasional. Ia sedang menyelesaikan tesisnya yang mengambil tema politik cinta dan realitas bentukan budaya industri. Sebelum diskusi berlangsung, ia menyiapkan esai pendek tentang mitos cinta pada sosok Diponegoro sebagai pahlawan nasional.

Sebagian orang tentu tak asing dengan nama sosok yang memimpin perang Jawa pada 1825-1830 itu. Sosok pangeran yang—oleh Raden Saleh—dilukiskan sebagai lelaki bersorban, berjubah putih, dan berjuang menaklukkan pasukan Belanda di tanah Jawa. Tindakannya dianggap patriotik, cinta pada tanah air.

Benarkah Diponegoro berjuang atas nama cinta. Padahal ia memimpin perang, membunuh tentara Belanda yang datang ke Nusantara untuk berdagang dan bertahan hidup. Atau kebenaran atas banyaknya nyawa manusia yang hilang dalam pertempuran itu, sengaja dihapus pemerintah untuk menganonisasi kebenaran baru.

“Bisa dikatakan ada bagian yang harus dihilangkan untuk mencintai,” tulis Dieqy.

Pemerintah, kata Dieqy menjelaskan, sangat mungkin memanipulasi kebenaran lewat lembaga akademis sebagai kepanjangan tangannya. Tak hanya ingin membentuk rekayasa sosok pahlawan, Tapi ingin juga mendisiplinkan publik atas pemahaman cinta yang filosofis. “Betapa rasis dan menjijikkannya kita ini. Tubuh kita telah terdisiplinkan.”

Sadam Husaen Mohammad, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Ia menulis refleksi The Art of Loving, tesis Erich Fromm, filsuf berkebangsaan Jerman.

“Cinta menurut Fromm adalah sebuah aktivitas yang akan menuntut individu merasakan dirinya sebagai seseorang yang dapat berguna bagi orang lain,” tulis Sadam. Ia sepakat dengan Fromm bahwa cinta memang sepatutnya diletakkan sebagai karya seni. Ia memiliki kebebasan untuk memilih. Kemudian ia mengutip lagu Perancis kuno, “Cinta adalah anak kebebasan, sama sekali bukan anak dominasi.”

Esai singkat yang Sadam tulis, mendapat komentar dari Hery. “Kalau cinta ditarik ke ranah personal dan psikologis apakah iya cinta sampai berada pada level ketidaksadaran? bagaimana mengubah level itu menjadi sebuah kesadaran?”

Beragam pandangan itu disampaikan oleh penulis. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Salah per satu peserta diskusi mulai mengacungkan tangan, bercerita pengalaman personal dalam merasakan cinta, dan argumennya masing-masing.

“Sepertinya diskusi ini malam ini akan menjadi sangat abstrak,” tutur Hery. “Karena memang cinta itu selalu didekati dengan cara itu. Kalau cinta didekati secara personal, maka akan selesai dalam batas saya dan anda, atau anda dengan kekasih anda.”

 

MUHAMMAD SYARIFUDIN masih ingat awal mula ia menemui perasaan cinta terhadap lawan jenisnya. Saat itu ia masih berada di sekolah dasar, biasa dipanggil Syarif. Mahasiswa jurusan Ilmu Tafsir Hadis itu mengaku mengalami perasaan yang berbeda saat ia berada di dekat perempuan.

“Rasanya berbeda. Ada perasaan dag dig dug.

Setelah bercerita, ia mulai menerka-nerka. Barangkali perasaan cinta adalah saat seseorang merasaan perasaan-perasaan aneh seperti itu. Suasana berbeda yang jarang sekali ia temukan dalam kehidupan sehari-harinya. Akhirnya ia mesti keluar keringat dingin saat mengalami momen-momen seperti itu.

Hery menanggapi cerita itu. Baginya, penafsiran Syarif justru sarat kaitannya dengan teori ekonomi klasik soal kelangkaan komoditas. Hery mencoba  ekonomi yang dicetuskan Adam Smith. Jika demikian, maka perasaan cinta sangat mungkin diakomodir untuk menciptakan kelangkaan barang. Hery tak sepakat bila cinta disebut sebagai komoditas ekonomi.

Pengalaman saat seseorang melihat lanskap gunung Bromo, tentu bisa membangun suasana dag dig dug—seperti yang dikatakan Syarif, kata Dieqy. Lantas perasaan itu tentu akan lenyap begitu saja. Bagi orang-orang yang tinggal di wilayah gunung Bromo, mereka tentu terbiasa dengan lanskap gunung yang—oleh wisatawan dianggap pemandangan—menawan.

Bila tafsir ini diterapkan manusia, lantas bagaimana bila seseorang bertemu dengan objek atau subjek lain yang ia cintai selama bertahun-tahun. Apakah perasaan cinta yang dag dig dug itu masih bertahan.

“Jangan-jangan respons tubuh kita dibatasi. Karena saat bertemu dengan seseorang, kita membatasi tubuh agar tampil seperti seseorang yang hari ini dianggap sebagai setia,” tanya Hery.

Hery menarik kesamaan antara pengalaman Syarif dan film Beautiful Mind. Film itu mengisahkan seorang matematikawan jenius bernama John Nash, yang cenderung apatis terhadap lingkungan sekitar. Suatu hari Nash berada di sebuah kafe. Ia menemukan sosok perempuan yang memiliki daya tarik paling besar bagi semua lelaki di kafe itu.

“Ini teori ekonomi klasik. Artinya bicara soal kelangkaan,” lanjut Hery. “Kalau kelangkaan hanya berpusat pada seseorang, maka nilai jualnya akan semakin tinggi.”

Matematikawan itu kemudian membuat cara agar perempuan itu tak lagi punya daya tarik paling besar, setidaknya bagi dirinya sendiri. Nash kemudian membebaskan pikirannya dari perempuan di kafe itu, membayangkan sosok perempuan yang lain di pikirannya. “Akhirnya terjadi ekuilibrium.”

“Jangan-jangan kita sedang menjadikan tubuh kita menjadi sosok mekanik seperti itu. Artinya cinta adalah sesuatu yang langka bagi kita sendiri,” tanya Hery pada peserta diskusi.

Bila demikian, kata Hery, respons tubuh kita adalah persoalan bagaimana kita dikondisikan cinta. Kemudian cinta hanya terbatas pada stimulus respons. Lalu seseorang yang merasakan proses mencintai mengirim sinyal pada tubuh.

“Ya rugi sekali karena itu terjadi pada hewan.”

Burung merak misalnya, ketika merak jantan bertemu dengan betina maka akan memamerkan bulunya untuk menarik si betina. Lantas apakah gejala cinta yang dialami manusia tak ada bedanya dengan laku hewani.

“Akhirnya sah saja tesis Imanuel yang mengatakan bahwa laku cinta seperti itu adalah kebodohan yang dilegalkan.”

Sama seperti seorang perempuan yang mengalami proses mengalami cinta. Karena ketika tertarik pada seseorang lalu memakai kalung manik-manik batu, gincu, eye-shadow, lip-gloss, menyemir rambut, dan sebagainya. Tujuannya tentu agar ia dianggap paling cantik, mengikuti tolok ukur orang lain, memiliki nilai kelangkaan tinggi.

“Cinta kemudian muncul sebagai persoalan bagaimana menyentuh dan disentuh orang lain. Itu yang terlintas ketika cinta menjadi sebatas persoalan mekanika tubuh,” kata Hery.

Pandangan Syarif atas cinta, yang berangkat dari pengalaman personalnya perlahan runtuh oleh analogi yang dibuat Hery. Laiknya diskusi filsafat biasanya, perubahan perspektif seseorang atas satu peristiwa menjadi wajar.

Syarif dan peserta diskusi lain mencari pemahaman alternatif.

 

SAYA bersama enam belas peserta diskusi malam itu, duduk melingkar di ruangan berukuran sekitar 5 meter persegi. Ada empat peserta perempuan, sisanya laki-laki. Semua peserta berasal dari lembaga pers mahasiswa di Jember.

Diskusi sudah berlangsung sekitar empat puluh menit. Namun baru beberapa orang yang menanggapi pertanyaan dan argumen yang muncul sejak awal diskusi dimulai. Barangkali kebanyakan dari peserta diskusi masih mengendapkan pikiran mereka, sebelum apa yang akan mereka katakan ditelanjangi oleh perspektif dari peserta yang lain.

Imanuel sebagai moderator diskusi memberi kesempatan Agustira Ilhami, biasa dipanggil Agus, mahasiswa jurusan Teknik Sipil, berbicara. Agus mengatakan bahwa cinta tak lebih dari pola pencarian manusia atas yang tidak mereka miliki. Laki-laki mencari lubang vagina yang identik dimiliki perempuan. Sebaliknya, perempuan mencari penis yang menjadi identitas laki-laki.

“Ada satu mitos yang mengatakan bahwa manusia pada awalnya adalah makhluk berkaki empat. Kemudian Tuhan mengutuknya, dan jadilah manusia laki-laki dan perempuan,” kata Agus.

Saat berada di bumi, keduanya saling mencari apa yang terpisah dari mereka. “Dalam perjalanan hidup mereka adalah pencarian atas apa yang hilang. Jadi ketika bertemu, puncaknya adalah senggama.”

Hery tak sepakat dengan pandangan Agus. Ia mengutip apa yang disebut Jaques Lacan sebagai lack of subject. “Artinya kita tidak berada pada posisi yang berkepenuhan,” kata Hery. Dimensi ini menganggap cinta menjadi pencarian apa yang hilang dari manusia. “Kalau begitu kita memposisikan diri sebagai individu yang gagal.”

“Kita tahu selama ini Lacan membalikkan Descartes. ‘Saya berpikir maka saya ada’ menjadi ‘saya berpikir maka saya tidak ada’. Berikutnya, ketika saya mencintai, artinya saya tidak ada,” jelas Hery.

Bahkan jangan-jangan selama ini manusia sedang menipu diri hanya untuk terpenuhi, kata Hery. “Islam memperbolehkan laki-laki menikah empat kali.” Ia curiga apakah betul saat lelaki menikah empat kali, membuat dirinya bisa memenuhi apa yang hilang dari dirinya. “Patriarkis sekali.”

Bila dimensi itu diamini, maka menjadi sah gagasan Sigmun Freud, lewat tradisi partarkisnya, bahwa perempuan bisa dimasuki banyak lubang karena dia iri dengan penis, karena menganggap penis adalah peneguhan dari patriarkis. “Tapi banyak feminis yang menentangnya. Kalau perempuan iri penis, kenapa laki-laki tidak iri payudara?” tanya Hery.

Maka dari itu kerangka berpikir patriarki perlu dilepaskan oleh kaum laki-laki. “Itu konsekuensinya kalau kita berpikir dalam koridor ketakterpenuhan, tambah Hery.

Rizalatul Islamiyah, mahasiswi jurusan Sosiologi, biasa dipanggil Riza, menceritakan refleksinya atas gagasan Simone de Beauvoir, pengarang dan filsuf asal Perancis terhadap keberadaan kaum perempuan. “Kalau perempuan itu tidak ada ketika tak ada laki-laki. Apakah perempuan jadi serendah itu?” tanya Riza.

Semua peserta diskusi terdiam beberapa saat. Hery coba menjawab pertanyaan Riza. Selama ini, kata Hery selalu didengungkan bahwa di balik lelaki hebat ada perempuan hebat. “Sejarah itu tidak mengajarkan seperti itu.” Ia menambahkan jika sesungguhnya perempuanlah yang bisa menggerakkan peradaban manusia.

Perlahan-lahan diskusi mulai masuk ke konteks gender. “Sudut pandang antropologi pun mengatakan laki-laki itu ketakutan terhadap perempuan,” kata Hery menyarikan pemikiran Lewis Morgan dan Fredich Engel. Sehingga yang dianggap paling berharga adalah kelangsungan peradaban manusia. “Dan itu perempuan. Kemudian anak-anak.”

Akibatnya saat itu perempuan ditempatkan pada ruang-ruang privat. Muncul pandangan bahwa ia berharga dan tidak boleh ditempatkan di peperangan. “Namun menjadi berbeda hari ini  karena laki-laki menjadi representasi perempuan,” sambung Hery.

Berikutnya ia mengutip Jaques Derrida, “Oposisi selalu menjadikan satu titik lebih dominan dari titik lain.” Maka tak menutup kemungkinan bila perempuan meniadakan kekuasaan untuk bisa tampil dalam bentuk yang lain. “Ia menolak posisi sosialnya. Perempuan kemudian ada yang berprofesi jadi sopir busway, tampil di semua lini yang publik.”

Hery berasumsi bahwa hal ini mungkin saja bentuk kritik kaum perempuan terhadap pola patriarki. “Sebetulnya perempuan sedang mempertanyakan posisi laki-laki.”

Kembali pada soal ke-tidak-terpenuhan dan pencarian hasrat yang disampaikan Agustira, Hery mengambil contoh fenomena lesbian untuk menemukan definisi cinta. Ia mempertanyakan apa betul cinta hanya pencarian atas ‘yang hilang’ dan pencapaian hasrat adalah tujuan akhir. “Seorang Lesbian bisa saja melakukan multiple orgasme, artinya buat apa penis laki-laki?” tanya Hery.

Pola patriarki pun perlu dipertanyakan ulang. “Toh dengan tubuhnya sendiri dia bisa memenuhi hasratnya sendiri,” lanjut Hery. “Maka jangan terlalu percaya dengan pandangan bahwa laki-laki itu sangat dominan dan representatif.”

Peserta lain jadi teringat bahwa dominasi macam itu menjadi populer atas jasa Mario Teguh, dengan serial acara motivasi di sebuah stasiun televisi swasta. Salah satu peserta diskusi mengutip jargon Mario Teguh, “Super sekali…”

 

BARANGKALI yang perlu dipertanyakan adakah cinta yang otentik?”

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba setelah saya mengamati alur perdebatan sejak awal. Pengalaman saya mencintai musik Iwan Fals bertahun-tahun silam, seperti yang saya tulis dalam esai pendek saya, nyatanya gugur. Hal itu terjadi begitu saya sadar bahwa apa yang saya cintai tak lebih dari intervensi atau tarikan dari luar diri saya.

“Atau mungkin cinta yang otentik tidak perlu didefinisikan melalui bahasa verbal,” kata saya menyambung. “Karena bahasa juga sebuah medium yang punya potensi mengintervensi diri manusia untuk bermain di antar ruang dominasi subjek dan objek.”

Lantas siapa yang bisa lepas dari segala bentukan dan intervensi dari luar diri seseorang. Bila sejak balita saja manusia sudah dilekatkan dengan identitas bahasa, ras, dan agama. Adakah yang memiliki pengalaman cinta otentik. Saya masih percaya bahwa cinta macam itu ada. “Friedrich Nietzsche pernah menyinggung juga bahwa sosok Übermensch, ialah seorang bayi.”

Seorang bayi yang baru dilahirkan, bagi saya, sudah tentu tak punya hasrat untuk menguasai dan berkuasa layaknya orang dewasa. Ia masih bersih dari bentukan bahasa sekalipun.

Hery menangguhkan pendapat prematur saya soal ‘yang otentik’ dalam perspektif saya. Ia kemudian membicarakan konsep otentik menurut Heidegger. “Otentik kalau pakai Heidegger itu bicara tentang das man,” papar Hery. “Dia sebenarnya membidik cara kita menghadapi kematian.”

Mengutip Heidegger, Hery sepakat bahwa yang paling otentik adalah cara seseorang menghadapi kematian. “Orang semua pasti mati, tapi persoalannya bagaimana kita menghadapi kematian. Apakah itu diletakkan pada yang sosial atau personal.”

Hery melanjutkan bahwa pada dimensi itu Heidegger mengembangkan amor fati milik Nietzsche. “Cintailah takdirmu, dan cintailah caramu menuju kematian.”

Bila diterapkan dalam terma cinta dan mencintai, seseorang akhirnya punya tantangan untuk menjalani takdirnya sebagai cara untuk menuju kematian. Misalnya saat saya mencintai Julie Estelle Gasnier, kami berdua tentu ditantang oleh takdir masing-masing untuk melepaskan persoalan kultural yang melekat di tubuh yang fana ini. Estelle yang beragama Kristen, punya darah keturunan Tionghoa, dan sosok wanita karier papan atas di kota megapolitan.

“Berani gak sih meneguhkan pilihan untuk menerima hal itu,” kata Hery menantang. Dalam kondisi semacam itu pastilah muncul konsekuensi di bali opsi yang ada. “Kalau berani bahwa itulah yang otentik.”

Memang pandangan tersebut, tambah Hery, terkesan liberal. Namun ia meluruskan bahwa konsekuensi ‘yang liberal’ itu berbicara soal pasar. “Nah amor fati itu mengandaikan cintailah hidupmu, jalanilah hidupmu, dan kau bertanggung jawab pada hidupmu,” lanjut Hery.

“Sebetulnya ini berbicara tentang bagaimana anda mengambil alih tubuh anda, serta konsekuensi hidup anda. Tepatnya eksistensial.”

 

DIEQY curiga terhadap kematian—yang disebut Hery sebagai bagian paling otentik sepanjang kehidupan manusia. “Apa otentik itu hanya diukur berdasarkan bisa dan tidaknya seseorang memilih atas dirinya sendiri? Kan itu egalitarian,” tanya Dieqy.

Ia tak sepakat bila kematian disebut sebagai satu-satunya yang otentik. “Sementara yang gak bisa dilawan adalah masalah di balik kematian. Karena kematian diklaim bahwa itu hanya terjadi sekali dan gak akan berulang.”

Hery diam sejenak, mencoba menjawab pertanyaan Dieqy. “Kematian itu menjadi final, karena dalam kematian kita tak bisa melihat alam semesta atau tuhan,” ujarnya. Ia masih yakin bahwa kematian adalah akhir dari proses kehidupan seseorang. Dieqy tak sepakat. Ia menyampaikan argumen lainnya.

“Kematian bagi saya belum selesai. Kalau kita lihat makam Karl Marx dan Adam Smith, keduanya punya bentuk berbeda.” Bagi Dieqy, tidak mungkin Marx dan Smith merancang bentuk makamnya sendiri. Jelas ada orang lain di luar diri mereka yang menghendaki bentuk makam mereka. “Itu kan tindakan yang berasal dari luar Marx atau Smith. Makam Marx lebih mewah dari Smith.”

“Itu bentukan di luar Marx dan bisa menjadi bagian dari sosok Marx yang dimitoskan.” Akhirnya mahasiswa era kekinian yang mempelajari Marxisme tentu punya konstruksi bayangan sosok Marx, saat menziarahi makam Marx yang megah itu. “Banyak bagian yang mengatakan itu adalah cinta, tapi tidak ada itu yang di dalam dirinya.”

Contoh lain yang paling dekat, bagi Dieqy, adalah prosesi pembuatan monumen pendiri kampus Universitas Jember. Konon proyek itu menghabiskan uang sebesar miliaran rupiah. Tujuannya agar mahasiswa kekinian tak melupakan jasa tiga diva pendiri kampus mereka. “Tapi mana bagian dari patung itu yang menghubungkan rasa cinta lintas generasi. Antara objek yang sudah mati dan yang berada di patung.”

“Lantas apa konsekuensinya dari semua itu?” tanya Hery.

“Tidak ada,” jawab Dieqy. Keduanya diam beberapa detik.

“Tapi kita bisa ambil satu perspektif, setiap apapun itu definisi cinta. Karena yang dicari hanya pleidoi yang gak ada hubungannya, sementara kenapa gak dicari antara yang dicintai dan mencintai itu. Kenapa tidak dimunculkan benturan antar keduanya. Keduanya kan punya ego yang tak mungkin bisa bertemu,” sambung Dieqy.

Ia mengatakan bahwa pada akhirnya cinta hanyalah persoalan dominasi dan patriark. Selebihnya kekuasaan. Sehingga antara seseorang yang mencintai dan dicintai, “Ada upaya saling merebut kekuasaan.”

“Kalau mencintai api harus menjadi apai,” tambah Dieqy mengutip Sapardi Djoko Darmono.

Dieqy curiga jangan-jangan cinta termasuk bagian yang utopis. Karena yang ada hanyalah proses menempuh atau mendapatkannya. “Nietzsche pun pernah menangis pada seorang wanita lalu berkata, kalau tidak ada tuhan lalu siapa yang akan mengatur kita? Akhirnya berhari-hari ia minum.”

Konsep ‘yang otentik’ bagi Dieqy juga sebuah bentukan, apa yang otentik atau tidak. “Kematian Sartre yang berada dalam satu kuburan dengan Behauvoir pun hanya bentukan dari orang di luar Sartre. Karena itu konsekuensinya ya harus dan selalu ada benturan.”

Hery kembali merespons tanggapan Dieqy. Hery menganggap konsekuensi yang perlu ditarik adalah persoalan empati. Sejauh mana seseorang bisa meletakkan dirinya dalam perasaan orang atau kelompok lain. “Ini bukan lagi persoalan otentik atau tidak,” kata Hery. “Jean Baudrillard saat membicarakan otentik pun hanya proyek utopis.”

“Tapi bukan berarti bahwa kita harus menjalani hidup seperti si Albert Camus. Bahwa hidup ini absurd.”

Persoalannya kemudian adalah bagaimana seseorang menjalani hidup dengan yakin. “Bagi saya yang paling asyik adalah kita mampu menjalani ini dalam permainan ruang kekuasaan kita. Kalau anda ingin mencintai ya cintailah,” tutur Hery. Selanjutnya bagaimana cara seseorang mencintai, dan bagaimana membuat dirinya bermain-main dengan cinta bukan lagi persoalan emansipatorik. “Tapi anda mengandaikan bahwa di situ ada egaliter.”

Akhirnya manusia bisa bermain-main dengan posisi-posisi sosial mereka. “Tantangannya kemudian bagaimana kita memberi dan menerima untuk meneguhkan kekuasaan kita.”

Diskusi pada Rabu malam, pekan lalu ini berlangsung hingga sekitar pukul sebelas malam. Hingga akhir diskusi, moderator tak menarik satu kesimpulan yang membatasi perspektif peserta. Diskusi berlanjut dengan obrolan kecil, soal pengalaman pribadi seorang peserta dan kegagalannya dalam mencintai, hingga soal pengalaman cinta seorang santri pada kiainya.[]