in Note

Menikmati Kopi di Pinggir Bengawan Solo

Kota Gresik identik dengan dua hal: makam para sunan dan kawasan industrinya. Selain dua identitas itu, sebetulnya masyarakat daerah ini juga lekat dengan aktivitas minum kopi.

Bila Anda berkunjung ke kota Gresik akan mudah menemukan warung kopi. Tapi lebih asyik jika Anda berkunjung ke wilayah utara, di sana ada satu warung kopi berusia lebih dari seperempat abad.

Letak warung kopi ini memang jauh dari pusat kota. Tapi tak begitu sulit untuk menemukan warung ini. Dari Jalan Raya Deandles, yang menghubungkan kota Gresik dan Tuban, hanya berjarak sekitar lima kilometer menuju sungai Bengawan Solo.

Lantaran berada di pinggir aliran sungai Bengawan Solo, warung kopi ini lebih akrab dengan nama Warung Bengawan. Adhim dan Ridwan, lelaki dua bersaudara pemilik usaha warung ini memang tak memasang papan nama untuk warung kopi ini. Alhasil para pelanggannya bebas menyebut nama warung ini sesuka mereka. Dari Warung Bengawan, Warung Pinggir, Warung Cak Duwan, atau Warung Ocek.

Dua sebutan terakhir adalah nama akrab pemilik warung, Adhim dan Ridwan. Keluarga mereka memulai usaha warung kopi pada1988. “Ndisik pas Bengawan sik cedhak,” kata Adhim menujuk letak aliran sungai Bengawan Solo yang semakin menjauh. Derasnya arus sungai selama duapuluhan tahun itu membuat batas dengan daratan bergeser menjadi sekitar 15 meter.

Saat awal membuka usaha kopi, bentuknya masih sangat sederhana. Belum seperti warung pada umumnya, hanya bermodal sebuah gerobak kecil dan tempat duduk seadanya.

Bila aliran sungai meluap naik, maka Warung Bengawan pun libur. “Sampek gak banjir pokoke,” kata Adhim, yang ia menutup warungnya sampai banjir surut.

Meski dengan tampilan ala kadarnya, Warung Bengawan selalu padat pengunjung. Menurut Adhim, hal itu menjadi wajar karena memang masih sedikit ada usaha warung kopi.

Kini mereka berdua melanjutkan usaha keluarganya secara turun-temurun. Setelah berganti generasi, Warung Bengawan makin tumbuh. “Kalau pelanggan dari dulu ya bermacam-macam,” jelas Adhim. Mulai pedagang, kuli perahu, makelar motor, hingga pelajar sekolah.

 

Saat pagi hari, Warung Bengawan selalu ramai didatangi para pedagang yang akan pergi ke pasar. Beberapa dari pedagang itu berangkat ke pasar lewat jalur air. Mereka memarkir perahunya tak jauh dari Warung Bengawan, lalu singgah sebentar untuk menikmati kopi sebelum berdagang di pasar. Berbeda saat siang hari, Warung Bengawan akan dipenuhi oleh pelajar sekolah.

Bangku panjang terbuat dari kayu yang ditata mengelilingi sisi warung akan penuh, terutama saat akhir pekan. Akhirnya Adhim dan Ridwan menyediakan bangku berbahan bambu sebagai tambahan saat ia kedatangan banyak pelanggan.

Sabtu kemarin saya mampir ke Warung Bengawan bersama seorang kawan yang sedang kuliah di Surabaya. Ia memesan satu cangkir kopi, dengan takaran sedikit gula. Saya memesan satu cangkir kopi pahit, tanpa gula.

Menu kopi pahit mungkin sudah jadi menu andalan Warung Bengawan. Karena sebagian besar penikmat kopi di sini menganggap racikannya pas. “Ini enak karena gak ada campuran jagungnya,” kata kawan saya mengomentari rasa kopi yang ia pesan.

Di Surabaya, ia kesulitan menemukan warung kopi murah dengan citarasa yang pas. Karena kebanyakan pengusaha warung kopi di kota besar menyajikan kopi oplosan beras atau jagung. “Nah kopi oplosan kan bikin perut sakit.” Sedangkan harga kopi di kafe pun tergolong mahal.

Secangkir kecil kopi pahit di Warung Bengawan dihargai dua ribu rupiah. Dengan harga itu, pelanggan bisa menikmati kopi yang melalui proses roasting (sangrai) rumahan, dan ditumbuk kasar. Sehingga saat disajikan, bubuk kopi akan mengambang di permukaan. Untuk menikmatinya, bisa menunggu bubuk kopi turun ke bawah.

Lewat cara itu tingkat kepekatan kopi bisa terjaga, kata kawan saya. “Gak perlu dibuang ampasnya, biar tetap enak.”

Kemudian Anda bisa memilih tempat duduk di bangku bambu, di samping aliran Bengawan Solo selama berjam-jam. Ditambah dengan rimbunnya daun pohon waru yang memayungi aktivitas minum kopi. Jauh dari keramaian pusat kota, dan bebas dari polusi industri.

 

*) Catatan ini ditulis untuk Minumkopi.com. Pertama kali tayang 7 April 2015.