in Note

Bunga dan Tembok

Perkenalan saya dengan Wiji Thukul bermula saat saya membacakan puisi berjudul “Bunga dan Tembok”. Saat itu memang saya tak bertemu secara langsung, apalagi berdiskusi dengan Wiji Thukul. Namun saya hanya mengenalnya lewat teks-teks biografis, buku, dan beberapa arsip media.

Puisi itu menggambarkan bagaimana sosok pemimpin adalah metafor sebuah tembok. Ia berdiri tegak, kaku, lalu menghdirkan sekat-sekat. “Kau lebih suka membangun rumah, dan merampas tanah,” tulis Thukul.

Bila kita semua percaya bahwa sosok pemimpin kita adalah orang-orang hebat, lantaran banyaknya program renovasi gedung, fasilitas publik, atau kucuran bantuan dana sosial. Tentu sah-sah saja. Namun kita tak boleh lupa, bahwa puisi ya cuma puisi. Ia bukan penentu naik-turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Ia takkan mengubah sesuatu semudah membalikkan telapak kaki. Ia hanya metafor.

Lalu Thukul, hanya mengajak kita menafsir: rumah, tembok, bunga, jalan raya, pagar besi, dan lain sebagainya –dengan ruang di sekeliling kita. Barangkali rumah dan pagar besi tak sekadar mewakili identitas hidup seseorang. Namun ruang-ruang yang perlahan dirontokkan di bumi kita sendiri.

Setelah membaca puisi Bunga dan Tembok di kelas puisi saat itu. Teman saya berkomentar. “Mas penampilannya sangar, tapi puisinya kok malah tentang bunga.” Saya mafhum, barangkali ia tak kenal Widji Thukul. Atau tak penting sama sekali membicarakan penyair yang dihilangkan keberadaannya oleh Rezim Soeharto dan namanya tak tercatat dalam kurikulum sekolah.

Thukul menulis puisi Bunga dan Tembok di Solo, 1987. Kini siapakah tirani, bunga, dan tembok yang kita maksud?

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji – biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : ENGKAU HARUS HANCUR!
dalam keyakinan kami
DI MANA PUN-TIRANI HARUS TUMBANG!

  • Related Content by Tag