in Note

Pesan Nabi

Isi media sosial beberapa hari ini penuh dengan tautan artikel media onlline. Mulai dari konten berita, rilis media, opini, komentar, makian, hingga hasutan untuk berperang atas nama agama.

Semua bergulir begitu saja menjadi satu. Topik baru bermunculan tiap sekian detik.

Kemarin banyak teman membagi tautan berita terbakarnya rumah ibadah warga muslim di Tolikara, Papua. Sebagian lain saling lempar tanggapan. “Bakar saja gereja di kampung sebelah! Biar orang Kristen tahu rasa.” Ada juga yang memprovokasi untuk mengirim serangan balik, “Jihad di depan mata,” kata sebagian lain.

Saya hanya meringis sedih. Bagaimana tidak, hanya gara-gara tautan artikel dari media kompor yang tak jelas kredibiltasnya, provokasi mengalir begitu derasnya. Tak jelas mana fakta dan kebohongan.

Segala hal yang muncul langsung dikomentari. Ibarat sampah hanyut di tengah banjir informasi.

Sejak awal muncul provokasi Islam-Islaman yang menyikapi isu terbakarnya rumah ibadah di Papua kemarin, saya berusaha anteng saja. Karena tak tahu banyak soal masyarakat Papua. Memang saya pernah diskusi beberapa kali bersama teman-teman dari Papua. Tapi itu saja tak cukup untuk menjustifikasi, atau mengkotak-kotakkan masyarakat di sana berdasar perbedaan agama saja.

Papua begitu luas. Tak seluas kolom sosial media atau nalar banal para penyebar kebencian.

Lantas siapa yang seharusnya menjadi penengah? Tentu nalar sehat kita sendiri. Setidaknya itu yang saya pelajari dari Bill Kovach, pewarta dari Amerika yang menulis buku Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload. Bukan saatnya kita hanya jadi bayi yang terus menelan informasi olahan perusahaan media. Kita juga bertugas menjadi editor pada tiap informasi yang kifa terima.

“Kita mengatur pola diet informasi sesuai kebutuhan kita.”

Kalau tak mau ikuti pesan Kovach, lantaran dia pewarta dari Amerika dan tidak tidak sesuai dengan iman anda, boleh saja. Tapi jangan malas untuk periksa kabar baru yang anda terima. Periksa dari mana kabar itu bersumber, sejauh mana integritas perusahaan media yang menjalankan sirkulasi informasi.

Pesan yang terakhir ini saya lupa sumbernya, dari buku Kovach atau dari buku dongeng Nabi-Nabi.