in Music, Note

Saya dan Musik Latah

Saya tak ingat betul kapan tepatnya telinga saya mulai akrab dengan alunan musik Iwan Fals. Mungkin sejak ayah saya mempunyai tape player, sekitar tahun 1995-an. Lalu di salah satu sudut rumah, ada sebuah rak kayu berisi deretan kaset pita album musik, bersampul pria berambut Hi Top Fade, mengenakan busana mixed-up. Sebagian lainya bejajar kaset pita album qasidah.

Mungkin saya mulai menggandrungi lantunan lagu Iwan Fals seusai menonton konsernya, dengan tagline “Perjalanan Spiritual Bersama Ki Ageng Ganjur” secara langsung, sekitar tahun 2013. Saya tak ingat betul.

Pertunjukan musik itu memang sedikit berbeda. Penonton tak dipatok tiket masuk area konser. Alasan itu kemudian membuat saya dan seorang tetangga saya antusias untuk datang melihat sosok Iwan Fals secara live. Saya datang sedikit terlambat. Iwan sedang menyanyikan lagu keduanya malam itu, Si Budi Kecil.

Biru, biru, biru, biruku…

hitam, hitam, hitamku…

Dua menit setelah lagu ketiga mulai dibawakan, Nyanyian Jiwa, puluhan penonton di deret paling belakang berdesakan. Mereka saling dorong mendorong, hingga beberapa saling bertabrakan dan jatuh terinjak penonton lainnya. Selang beberapa detik kemudian, beberapa lelaki berseragam Oi, organisasi masyarakat beranggotakan fans Iwan Fals datang meredam beberapa pemuda yang memprovokasi keributan. Aparat kepolisian setempat datang setelahnya.

Saya dan teman saya kecewa berat. Kami berdua memutuskan pulang, mampir sebentar di warung kopi, memutar ulang video penampilan Iwan Fals yang sempat terekam di ponsel kami, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Tiba di rumah, saya menyalakan komputer dan memutar lagu-lagu Iwan Fals hingga dini hari. Saya akhirnya punya kebiasaan baru, memutar album-album Iwan Fals, dari album Swami hingga Kantata Takwa. Kebiasaan ini berlanjut hingga saya lulus SMA. Kegagapan saya akan piranti internet, membuat saya sesekali merasa perlu untuk menulis ulang lirik lagu Iwan yang sedang saya dengar. Lalu saya coba memahami makna atau pesan disampaikan lewat lagu-lagu itu.

Saya mulai ikut-ikutan bergabung di keanggotaan Badan Pengurus Kota Oi Gresik . Namun tak bertahan lama, karena saya melanjutkan studi di luar daerah. Di kota tempat saya studi, rupanya banyak juga mahasiswa di kampus yang kecanduan dengan musik Iwan Fals.

Melihat banyaknya orang-orang di sekitar saya terilhami sosok Iwan Fals, saya seperti menelanjangi diri sendiri. Makin banyak bermunculan orang-orang yang menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals, tak mau menghamba pada pemusik selain Dewa Dari Leuwinanggung itu. Akhirnya Iwan Fals menjadi tuhan baru dalam imajinasi remaja kekinian.

Hipotesis mentah saya tentu berkata, bahwa Iwan Fals makin punya banyak fans baru setelah ia tampil dengan lagu legendarisnya, “Bongkar!” dalam kemasan iklan produk kopi sachet, membawakan lagu-lagu cinta bersamaan dengan naik daunnya kelompok musik mainstream di Nusantara. Mereka tak lebihnya fans prematur. Tak tahu siapa dan bagaimana historiografi Iwan, namun hanya ingin menyanyikan lagu Lonteku, Ku Menanti Seorang Kekasih, Denting Piano, pada lawan jenis mereka. Selanjutnya sosok Iwan Fals hanya pseudo untuk para fans belia nun banyak di sana.

Hemat saya, gejala ini mirip dengan fenomena mahasiswa yang cinta berdemonstrasi di jalan dengan dalih ‘mewarisi cita-cita founding fathers bangsa kita’ sekarang. Namun gagal dalam memahami konstelasi politik, dan tahu betul sejak kapan hasrat berdemonstrasi itu tumbuh dalam dirinya. Atau hanya relasi antar dirinya dan realitas di sekitarnya.***