Gambar diambil dari https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=&url=http%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DGU9xtXmNVFA&psig=AFQjCNG5s65_nlpQNvmW4YDQ9x3vriUp0w&ust=1442598456043180

in Music, Note

Perjalanan Syarif dan Musik Metal

SORE hari di Warung Bulek adalah sebuah sakralitas. Bagaimana deretan meja persegi panjang di ruang depan penuh sesak oleh mahasiswa, dosen, pedagang bakwan keliling, pegawai bank, sales, hingga petugas kebersihan. Mereka duduk untuk saling bercakap, memutar musik, atau hanya sekadar menunggu gelap.

Ada tiga meja berukuran persegi panjang berajar di bagian depan Warung Buleck, tiga di bagian samping, dan empat meja di bagian belakang. Totalnya ada sebelas meja. Saya tiba di warung itu sekitar pukul lima sore, menyusul beberapa orang teman yang sudah tiba lebih dulu. Mereka duduk di bangku belakang Warung Bulek. Meja yang paling lenggang.

Banyak hal yang menjadi topik percakapan sore itu. Mulai dari soal intensitas waktu yang terbuang di ruang kuliah, pengalaman teman saya yang genap dua minggu bertugas jadi editor, dan teman saya bernama Syarif yang punya hobi baru; mendengarkan musik metal.

Saya tak paham betul soal genre musik metal, underground, hardcore, death grind, atau semacamnya. Satu hal yang identik dengan musik metal bagi saya, tentu pakaian serba hitam bergambar tulisan tribal yang dikenakan para penganut genre ini. Tentu masih banyak pula hal-hal identik; lingkar mata dan bibir yang dibikin lebih hitam, kemampuan merasakan keindahan di tengah pacu dentuman bass drum dan raungan efek distorsi gitar, dan penggemar beratnya yang hendak menunjukkan diri bahwa tak pernah ada sisi kehidupan yang tenang dan baik-baik saja. Sementara tak jauh dari keberadaan kita, masih banyak ruang penindasan yang dilegalkan atas nama sistem. Kehidupan ini cadas!

Entahlah, saya bukan penganut musik metal tulen. Namun Syarif barangkali satu hari nanti jadi penggemar musik metal fanatik.

Sejak dua minggu lalu, ia mulai gandrung memutar musik metal. Saya duga, ini dampak psikisnya sejak ia menonton konser kelompok Burgerkill di GOR Kaliwates, Jember. Kelompok musik cadas asal Bandung itu memang gagal membuat Syarif ikut mengangguk-anggukkan kepala, saat membawakan lagu pertama dan kedua mereka. Tetapi di lagu ketiga yang mereka bawakan, Syarif tak sadar kepalanya mulai diangguk-anggukkan. Pelan. Lalu semakin cepat.

“Benar gak cuk kowe ikut headbang?” saya bertanya pada Syarif, memastikan. Ia hanya tertawa, mungkin malu mengakuinya.

Headbang adalah aksi mengaggukkan kepala secara cepat. Mendengar kisah Syarif, saya sedikit khawatir jika ia sampai muntah saat melakukan aksi headbang, atau terlibat pekelahian dengan penonton lainnya. Beruntung, karena saat itu ia memilih tempat yang lenggang, tidak bergerombol. “Ada penonton yang sampai kena pukul,” kata Sadam, yang saat itu menemani Syarif menonton konser Burgerkill. “Habis dipukul, sembunyi di bawah panggung cuk!”

Barangkali itu memang risiko menonton pertunjukan musik cadas. Jurnal kesehatan The Lancet, pada 2014 lalu melansir laporan soal penggemar musik cadas asal Jerman berusia 50 tahun, yang mengalami cedera otak karena sering melakukan headbang. Dr. Ariyan Pirayesh yang ikut menangani kasus itu, mengatakan bahwa akselerasi dan perlambatan gerakan kepala yang tajam dan kuat, berpotensi memutus sambungan pembuluh darah di kepala.

Meski demikian, ia tak mendakwa bahwa aksi headbang saat menonton pertunjukan musik cadas adalah satu-satunya sebab cedera otak. “Risiko terjadinya cedera itu sangat kecil.” Ia justru optimis bahwa ini bukan petanda buruk bagi penggemar musik cadas. “Penggemar heavy metal akan tetap menggila,” kata Dr. Pirayesh.

“Santai cuk! Aku cuma biasa wae kok,” kata Syarif sambil menggangguk-anggukkan kepalanya, meyakinkan saya agar tak cemas.

Saya tak begitu khawatir dengan hobi baru teman saya. Setidaknya ia bisa mengetuk sebagian kelompok moralis yang mengutuki musik metal sebagai musik setan. Saya hanya terkejut saat tahu Syarif yang notabene adalah mahasiswa di sebuah kampus Islam, di Jember, telah berpindah haluan: dari kebiasaan mendengar musik Koplo Banyuwangian ke musik metal.

Peralihan yang sedikit lebih cepat dari yang saya perkirakan. Seperti segelas kopi yang tiba-tiba habis dalam beberapa jam percakapan kami sore hari tadi di Warung Buleck.***