in Music, Note

Kus Nandar dan Efek Rumah Kaca

Saya baru beranjak dari tempat duduk, menggendong tas ransel, lalu bersiap untuk pamit lebih awal. Saya terlanjur punya janji untuk berkumpul dengan beberapa teman kuliah untuk membahas salah satu tugas kampus, bergeser tempat duduk ke warung kopi lain.

Sebagian teman saya masih ingin duduk di Warung Buleck. Maklum, saat petang seperti itu beberapa bangku nampak lebih lenggang dari sebelumnya. Suasana lebih hening.

Seorang lelaki datang saat saya berdiri dan bersiap pergi. Ia berjalan mendekati satu meja ke meja lainnya, mengambil gelas kopi yang tinggal tersisa ampas di dalamnya. Sekali ambil, jari-jari tangannya mampu mengapit lima hingga enam gelas. Jika tangannya sudah genap mengapit gelas itu, ia berjalan menuju tempat pencucian gelas, meletakkannya secara hati-hati. Ia khawatir bila ada gelas yang terjatuh. Tapi gerak tangannya tak nampak ragu. Kedua tangannya begitu cekatan mengambil gelas-gelas di meja.

Lelaki berperawakan kurus itu punya nama lengkap: Kus Nandar. Konon nama itu adalah titisan dari pemusik legendaris.

Pernah suatu hari saya bertanya pada Cak Kandar perihal nama lengkap Cak Kandar. Ia menjawab, “Kalau Kusnandar itu nama penyanyi dari … dari … Surabaya,” kisah Cak Kandar terpatah-patah, mengingat penyanyi yang ia maksud. “Atau mungkin dari Bandung ya … saya lupa,” tambahnya cengingisan.

Kelompok populis di kalangan mahasiswa lebih akrab memanggilnya dengan nama Mas Boy. Sebagian orang memanggilnya Nandar, atau Cak Kandar. “Mas Boy sini ada rokok,” kata Sadam menawarkan. “Tidak sudah, ini saya sudah punya sendiri.”

Di kalangan teman-teman saya, berbagi atau menawarkan sebatang rokok kretek pada orang lain adalah cara mengakrabkan diri. Saya pun tiap bertemu Cak Kandar selalu menawarinya rokok. Sebaliknya, saat saya kehabisan rokok, Cak Kandar menawarkan rokok miliknya tanpa basa basi. Saya mengambilnya seabatang, lalu menyalakannya dengan api.

“Cak Rokoknya kok panas sekali!” kata Saya kaget. Rokok pemberian Cak Kandar rasanya begitu menyengat bibir saya. Antara panas bercampur pedas aroma rempah.

“Hehe iya, itu merek Gagak Hitam. Murah, jadi enak,” jawabnya coba menenangkan saya.

Seketika itu saya diam. Coba menghisap rokok dari Cak Kandar pelan-pelan. Jawaban itu seperti mengajarkan saya; bahwa hal kecil seperti rokok saja bisa dinikmati bukan karena rasa, namun harga yang murah. Lantas mengapa banyak orang yang memilih makan di restoran megah, bila ada nasi murah di pinggiran jalan.

Saya kembali mengisap rokok merek Gagak Hitam pemberian Cak Kandar, sambil merenungi jawabannya yang sederhana.

Cak Kandar, sepertinya sedang membangunkan saya dari kepalsuan iklan, keunggulan merek dagang, dan rayuan palsu yang membanjiri pasar. Kita diajak untuk mengenal kepuasan saat menggunakan produk bermerek X, dengan harga mahal, seolah itu adalah produk unggulan. Membuat kita seolah puas.

Saya jadi ingat dengan salah satu lagu yang dimainkan Efek Rumah Kaca. Bahwa segala yang ditawarkan pasar hanya kiasan belaka.

Juga juga suatu pembenaran. Atas bujukan setan, hasrat yang dijebak zaman.” Lantas kita beramai-ramai datang ke mall untuk, “Belanja terus sampai mati.” ***