in Note

Jatuh

SAYA akhirnya merasakan pengalaman itu kembali. Jatuh dari motor saat melintasi perempatan di tengah kota. Jatuh saat mengendarai motor sudah lama tak saya alami. Terakhir kali jatuh dari motor di tengah kota, ketika masih kelas dua SMA. Badan plastik motor remuk pada sisi kirinya. Tutup mesin di dekat perseneling motornya menganga. Oli mesin meluber ke permukaan jalan. Teman sekolah saya panik, pasrah, sekaligus bingung.

Sebelum akhirnya melapor ke kantor polisi terdekat, lalu membayar tilang karena menabrak plastik pembatas jalan di Surabaya saat itu. Lalu memasang muka tak berdosa saat mendengar polisi mengomel hingga sejam lamanya, sambil menahan ngilu di pergelangan kaki yang terkilir dan jempol kaki yang berdarah. Beruntung Rabu malam kemarin, saat sebuah mobil Panther menabrak motor saya tak berujung pada darah ataupun luka yang cukup parah. Juga tak ada polisi minta uang tilang.

Kejadian malam itu bermula saat pulang dari rumah kontrakan seorang teman. Saat itu ia sedang sakit, tak mau dibawa ke klinik kesehatan untuk diperiksa dokter. Saya sendiri tak biasa menunggui seorang yang sakit berlama-lama. Belum lagi kondisi badan pun kurang sehat pula, akibat kurang tidur selama beberapa hari. Saya memutuskan untuk pulang.

Jarak dari rumah kontrakan teman saya menuju tempat kos tak begitu jauh. Sekitar 10 menit perjalanan motor, dari Jalan Letnan Pandjaitan menuju Jalan Sumatera.

Tepat di sebuah perempatan, sebelum berbelok ke arah Jalan Sumatera, saya menyalakan lampu sein tanda akan belok. 15 meter dari arah berlawanan sebuah mobil Panther warna abu-abu tua bergerak pelan. Ia tampak akan berbelok, namun tak memberi tanda. Traffic Light yang berada di beberapa titik sudah mati tak berfungsi karena sudah lewat pukul 10 malam.

“Prrrakkk…!!!”

Ujung badan mobil itu menabrak motor. Tubuh saya terseret bersama motor di permukaan jalan. Saya melihat sekilas tutup lampu depan mobil itu pecah, tercecer di jalan. Pandangan mata hanya mengarah lalu pada mobil yang menabrak. Ia melaju lebih pelan. Di sekitar perempatan orang-orang mendekat menolong, membantu mengangkat motor yang jatuh. Seorang lelaki memastikan jika saya baik-baik saja, tak terluka. Meski saat tergelincir, kaki kiri sempat terasa sengatan panas dari mesin motor.

Sepintas saya memeriksa semua badan motor. Tepat dudukan kaki kiri dan perseneling bengkok, karet penyanggahnya lepas. Besi penyanggah spion bengkok, hampir pecah. Jagang standar samping rusak karena per pengaitnya lepas.

Tak lama kemudian, saya berjalan ke arah Jalan Lentan Panjaitan untuk mencari mobil yang menabrak motor. Sebelumnya, beberapa orang yang berada di sekitar lokasi tabrakan berusaha menghentikan mobil itu. Namun sial, mobil itu telah pergi. Ia nampaknya tak mau punya urusan panjang. Saya kecewa karena pengendara mobil itu lekas pergi, padahal saya tak bermaksud untuk memarahinya. Paling tidak urusan malam itu bisa dibicarakan baik-baik, atau bisa tuntas untuk saling berminta maaf atau memberi ganti rugi.

Saya pasrah dan kembali menuju ke tempat motor diparkir. “Plat nomornya sampean catat saja dek,” kata seorang lelaki yang melihat kejadian tadi. Saya langsung mengambil ponsel dan mencatatnya. Setelah itu langsung pamit pulang. Seorang ibu pemilik warung kopi di dekat perempatan sempat tak membolehkan saya pulang dulu, “minum teh dulu dek biar gak kaget.”

Saya menolaknya dengan halus. “Terimakasih¬†buk, ini agak buru-buru pulang.” Sebetulnya tak sedang buru-buru, namun merasa tidak biasa saja jadi perhatian banyak orang setelah terjatuh.

Di perjalanan, suara knalpot motor berubah. Terdengar letupan angin lebih nyaring. Setiba di kos, saya memeriksanya lagi. Rupanya pipa knalpot di dekat mesin motor ikut bocor saat jatuh. Saya langsung mengambil segelas air minum, lalu beristirahat. Esok harinya saat bangun tidur, kaki dan tangan terasa sakit. Linu. Seperti habis melakukan kerja berat. Selama seharian saya putuskan tak pergi kemana-mana.

 

JUMAT pagi, saya beranikan diri untuk memeriksa lagi keadaan motor. Memang sempat khawatir jika kondisi motor lebih parah daripada saat terjatuh malam hari sebelumnya. Dua minggu sebelumnya motor itu telah dibawa ke bengkel untuk diperbaiki, diganti oli mesin, dan beberapa komponennya. Tentunya menghabiskan biaya yang tak sedikit pula.

Pagi itu pula saya baru sadar bahwa tak hanya besi penyanggah kaki dan perseneling motor yang bengkok. Badan plastik di bawah jok ikut pecah, kain jok motor sobek berlubang, dan yang paling parah shockbreaker kiri motor bengkok. Saya baru sadar bila tabrakan malam itu sedemikian parah.

Saya sengaja tak memberi tahu teman-teman di kampus, karena tak ingin bikin orang lain kawatir dengan kejadian itu. Hanya ada satu orang teman yang tahu. “Cuk ditabrak mobil,” kata saya lewat pesan singkat. Beberapa menit kemudian ia menelfon. Saya tak mengangkat panggilan itu. “Santai wae, aku aman, cuma motorku terluka,” tambah saya agar ia tak ikut panik.

Malam harinya saya langsung beri kabar pada orang tua saya di rumah. Lalu memastikan bahwa saya tak terluka cukup parah, apalagi sampai masuk klinik.[]