in Music

Anti Dangdut dan Bibit Fasis

Orang kampung juga melawan pangggung politik lewat musik dangdut

PENGALAMAN beberapa teman saya dalam mendengar musik dangdut cukup menarik. Respon mereka saat bersinggungan dengan musik peranakan tradisi melayu ini, sangat beragam. Ada yang meletakkan musik sebagai jejak historis sebuah rezim dan senjata politik. Sehingga musik dangdut selalu identik dengan panggung hiburan politik di daerah kecil. Bahkan ada pula yang memiliki trauma psikis saat mendengarnya, akhirnya jadi anti-dangdut.

Saya mengenal musik dangdut sejak kecil di kampung. Kebetulan Pak Rochis, tetangga saya yang berprofesi sebagai sopir mobil bak, punya sebuah radio. Lelaki berkumis tebal itu nyaris tak pernah absen menyimak kanal siaran dangdut di radio tiap siang hari saat pulang sekolah, hingga sore hari saat anak-anak seumuran saya main layang-layang di lapangan dekat rumah Pak Rochis.

Saya patut berterimakasih pada Pak Rochis. Berkat kebiasaannya mendengar musik dangdut lewat siaran radio, saya jadi kenal dengan beberapa pemusik dangdut yang punya cukup pengaruh di eranya. Misalnya Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Cici Paramida, A. Rafiq, hingga Ida Laila.

Sehingga saya tak kaget pula dengan nama Rhoma Irama, penyabet gelar “raja dangdut” itu punya mimpi jadi presiden. Karena jauh sebelumnya ia telah bermanuver dengan cerdik, menyampaikan suaranya ke kampung-kampung lewat siaran radio. Ia telah jauh melampaui batas kampanye politik hitam wakil rakyat kita belakangan ini.

Belakangan, Syarif curiga bahwa dangdut cenderung jadi alat kampanye partai politik saja. Tentu saja atas tujuan menghimpun massa sebanyak mungkin, kata teman ngopi saya itu. Entah apa memang benar.

Namun mengutip Andrew Weintraub, etnomusikolog yang menulis buku Dangdut Stories, pernah meneliti bahwa ada kesengajaan dalam pembentukan stigma musik dangdut adalah musik orang kampungan dan udik. Ia juga mengkritik keras bahwa media massa di Indonesia pada tahun 1970 ikut memupuk stigma ini. Dampaknya masih terasa hingga sekarang. Siapa yang mendengar musik dangdut hanyalah masyarakat kelas bawah, orang kampung, udik, dan tak punya selera musik laiknya para hipster di kota.

Salahkah mereka orang kampung saat mendengar musik dangdut? Tidak! Orang-orang kampung adalah korban dalam kasus ini. Mereka adalah entitas masyarakat yang hidup dari pusat keramaian kota, jauh program pembangunan berkelanjutan khas Orde Baru, dan hanya dekat dengan jurang bernama kemiskinan. Mereka adalah korban dari hegemoni media Orde Baru.

Justru mereka, para pembenci musik dangdutlah yang patut mengakui kesalahannya. Membenci pendengar musik dangdut, hanya karena termakan wacana bentukan Orde Baru. Mereka layak diadili dalam pengadilan rakyat kampungan pendengar musik dangdut.

SAYA mengakui pernah membenci musik dangdut. Mirip dengan Rosy, teman saya di Ideas, kebencian itu bermula dari pengalaman buruk yang selalu saya temui saat mendengar musik dangdut.

Saat SMA, saya diajak menonton orkes dangdut sepulang sekolah oleh seorang teman di daerah pesisir. Di daerah itu terkenal sering terjadi tawuran antar pemuda desa hanya karena masalah sepele: rebutan perempuan dan mabuk. Saya menolak tawaran nonton orkes itu. Tentu bukan karena saya terlibat dalam perkaran rebutan perempuan atau mabuk alkohol. Hanya sedang malas terlibat dan menonton tawuran antar kelompok yang kadang memakan nyawa.

Pada lain waktu, saya justru penasaran ingin nonton konser dangdut sepulang sekolah di alun-alun. Saya berangkat berboncengan dengan Zaki, teman SMA saya, memakai bawahan seragam abu-abu putih dan kaus oblong. Bak dua pasang remaja SMA yang romantis. Kami bediri di barisan belakang.

Baru menonton sekitar sejam, kami terpaksa harus pulang. Orkes dangdut dibubarkan polisi dan koramil. Lantaran dua orang penonton bersenggolan dan kena sikut, mereka bertengkar. Teman-teman yang lain membela kelompoknya. Pukulan-pukulan liar berjatuhan.

Saya dan Zaki lekas menyingkir, lalu pulang dengan perasaan kecewa. Kecewa karena tak bisa menikmati orkes dangdut sebagai hiburan, justru menonton panggung tinju antar geng. Saya benci musik dangdut, saat itu bagi saya orkes dangdut adalah ajang adu tinju dan kekerasan.

Terlebih saat kuliah, rasa jijik saya terhadap musik dangdut kian menguat. Entah karena banyaknya pengalaman buruk dan rasa trauma lain. Namun kebencian dan rasa muak itu terbukti hanya subjektifitas saya yang tanpa dasar. Saya minta maaf dengan menceritakan kisah ini dan mencatatnya.

Setidaknya kalian para pembenci akut musik dangdut, minta maaflah sebelum kalian juga ditertawakan mereka. Bahwa kalian membenci musik dangdut hanya atas hegemoni wacana penguasa Orde Baru saja.

Kalau kalian tak mau mengakuai dan akan tetap terus menghalalkan segala cara, untuk membenci musik dangdut sah saja. Kalau dengar musik dangdut kepalamu terasa pusing dan mual, sah saja. Tapi laku semacam itu, hanya akan menghasilkan dua tipikal manusia kata Taufik, teman saya di Jogja. Kalau tak jadi manusia alay, ya pasti jadi fasis. Segeralah minta maaf pada seniman dangdut yang telah kalian catut namanya.

Begitu negara, terutama antek Orde Baru yang sekarang menjabat di kursi pemerintahan, harus melakukan rekonsiliasi atas pembodohan ini. Misalnya merevisi kurikulum pelajaran seni budaya di SD dengan musik dangdut, agar anak SD tahu sejarah bangsa nan kelam ini.

Terakhir, percayalah orang desa atau kampungan tak sebodoh yang dibayangkan orang kota. Betul saja mereka datang berduyun-duyun ke orkes musik dangdut. Baik di musim mantenan atau musim politik. Sebagian jualan es, gorengan, dan mainan anak. Berjualan untuk menambah pendapatan mereka.

Yakinlah bahwa orang kampungan tak datang untuk mendengar orasi politikus dengan mulut penuh busa kebohongan. Mereka datang untuk mendengar kesederhanaan lirik dan irama musik dangdut, mereka mencari hiburan.

Meminjam kata-kata Michel Foucault, bahwa kuasa berjalan dalam dua arah. Tiap ada kuasa, tentu ada perlawanan. Saat politikus dan pemerintah berkampanye menggunakan musik dangdut sebagai alat kampanye, masyarakat kampung yang datang menonton tak serta merta tunduk pada ideologi yang diusung partai politik. Mereka hanya datang untuk menghibur diri, mereka melawan kuasa politikus.

Perlawananmu sudah sampai mana? Tabik!

*tulisan geje untuk tantangan writing challange bersama nak-kanak Persma Jember dengan tema dangdut. Ditulis dengan ponsel butut di perjalanan Semarang-Surabaya