COLLECTIE TROPENMUSEUM Een brug over de rivier Solo bij Tjepoe Oost Java
COLLECTIE TROPENMUSEUM Een brug over de rivier Solo bij Tjepoe Oost Java

in Note

Kalap

HANTU pada masa kecil saya adalah hal yang membuat takut. Ibarat musuh yang harus diperangi. Di satu sisi juga selalu berhasil membuat penasaran.

Sebagian besar ingatan saya tentang hantu, dibangun oleh cerita teman dan kerabat saya. Saat kecil, ibu melarang saya bermain di dekat aliran Sungai Bengawan Solo. Padahal jaraknya tak lebih dari setengah kilometer dari rumah. Ibu mungkin kawatir anaknya diculik kalap, sebangsa jin yang menyamar jadi seseorang yang kita kenal lalu menculik anak-anak di siang hari. Telapak kakinya serupa bebek, kata ibu menggambarkan.

Saya tak membayangkan bagaimana akhirnya jika saya nekat bermain di dekat aliran Sungai Bengawan Solo, bertemu kalap, diculik, lalu dimakan hidup-hidup.

Hingga kemudian hari beberapa teman SD saya bercerita pengalaman mereka saat mandi di parit, dekat Sungai Bengawan Solo. Parit itu sejatinya bukan tempat mandi, namun saluran irigasi. Sekitar 20 meter dari tepian sungai, ada mesin pompa yang menyedot air lewat pipa plastik. Lalu mesin itu menyemburkan air begitu kencang. Air itu mengalir ke tiap petak lahan pertanian warga, melalui parit berlapis semen yang dibangun lumayan lebar.

Sebagian teman yang dengar cerita itu penasaran, ingin ikut. Mereka berencana mandi di parit pada siang hari, sepulang sekolah. Saya juga sangat penasaran, namun masih ragu untuk ikut. Tiba di rumah sepulang sekolah, saya makin penasaran dengan cerita teman-teman di sekolah. Pikiran saya dipenuhi cerita tentang mandi dan menyelam di parit. Tanpa pamitan, saya bergegas pergi ke arah sungai Bengawan Solo. Tanpa berpikir harus pamit orangtua dahulu. Ketakutan soal hantu bernama kalap pun tak sempat terpikirkan.

Beberapa teman sudah lebih dulu tiba. Sebagian bertelanjang dada, sebagian bahkan sudah bertelanjang bulat. Mereka bergantian lompat dari tepi parit, terjun ke aliran air yang cukup deras. Saya mencebur pelan-pelan, karena tak tahu seberapa dalam parit itu. Sekitar sejam kami mandi sambil mentertawakan kekonyolan satu sama lain.

Kami baru berhenti saat kulit telapak tangan dan kaki terasa berkerut. Di saat seperti itu, kami memilih duduk di tepi parit, mengeringkan tubuh sambil memandangi lengkung aliran Sungai Bengawan Solo.

Salah satu dari kami, melihat ada bayangan bergerak mendekat. “Eh, opo iku (eh itu apa)?” ucapnya pelan. Semua anak memandang ke arah yang sama. “Deloken sikile (lihat kakinya),” kata teman yang lain. Pikiran saya langsung teringat pada sosok hantu berkaki kalap yang pernah digambarkan ibu. Bayangan itu makin dekat. Kami pensaran dan bersiap memakai pakaian kembali, sebelum lari menghindar.

Kami tak jadi lari, karena akhirnya bayangan yang mendekat itu adalah seorang lelaki, dengan rambut beruban yang hendak pergi ke surau dekat parit. Saya memastikan bahwa kakinya betul-betul kaki manusia. Kami pun pulang, dengan sedikit kecewa karena dikagetkan dengan sosok lelaki itu. Namun kami mendapat pengalaman baru.

 

LAWRENCE EDWARD PAGE dan Sergey Mikhailovich Brin, pada September 1998 merancang sebuah teknologi berbasis jaringan komputer dan internet. Dua mahasiswa Universitas Stanford itu menginginkan teknologi digital berkinerja mirip laba-laba. Bisa merayap ke semua laman situs, blog, jurnal daring, dan segala yang bisa diakses sambungan internet. Tak hanya merayap, namun juga mencatat daftar frasa dan istilah penting dalam laman itu. Hampir mirip halaman indeks di bagian akhir sebuah buku atau ensiklopedia.

Teknologi itu kini akrab kita sebut dengan nama Google. Mesin pencarian yang jadi andalan banyak orang dalam mencari profil singkat seorang tokoh, berita, hingga lowongan pekerjaan.

Andai saat SD saya sudah kenal dengan teknologi mesin pencarian macam Google, saya tentu akan mencari hantu yang disebut ibu saya sebagai kalap dengan mesin pencarian. Setidaknya bisa menjawab rasa penasaran tentang bagaimana bentuk fisik kalap, di mana habitatnya, dan untuk apa ia ada. Sehingga tak ada ketakutan yang berlebihan saat ia datang tiba-tiba di hadapan saya.

Sehingga saat masih SD saya hanya menyimpan rasa penasaran, sekaligus keraguan terhadap hantu kalap. Saya tak kecewa, karena dari keterlambatan mengenal teknologi itu, ada beberapa pengalaman menarik yang diceritakan banyak orang soal hantu.

Jauh berbeda saat beranjak masuk SMA, banyak teman saya memandang bahwa pengalaman bertemu hantu dan makhluk halus adalah momen heroik. Sensasi itu, bagi sebagian teman saya bermula dari rasa puas jika bisa melihat hantu. Seolah-olah ia adalah bagian dari golongan manusia sakti, manusia yang pandangannya disucikan, manusia yang terlahir berbeda. Belum lagi jika mereka berhasil melawan atau mengusir keberadaan hantu yang ditemui. Mereka akan sangat bangga dan mengisahkan pengalaman itu, tak mau ada bagian yang dilewatkan. Hasrat menguasai pun mulai tumbuh dan jadi kebanggaan.

Saya sendiri tak pernah betul-betul melihat fisik hantu kalap maupun pocong. Beberapa kali memang sempat mengalami momen aneh. Seperti melihat bayangan hitam saat berjalan lewat tengah malam di lorong kantin Fakultas Ekonomi, menuju Fakultas Sastra. Begitu pula saat lewat depan perpustakaan Fakultas Sastra saat dini hari. Beberapa teman mengatakan bahwa dua tempat itu jadi angker, setelah sekitar sepuluh tahun lalu, seorang mahasiswa di ruang perpustakaan Fakultas Sastra mati karena bunuh diri.

Saya toh justru tak tertarik pada bentuk fisik dan bagaimana rupa penamakan hantu di lorong itu, atau di tempat bekas lokasi mahasiswa itu bunuh diri. Saya malah tertarik mengetahui mengapa mahasiswa itu bunuh diri di kampus. Beberapa obrolan yang sempat saya dengar justru hanya bicara soal ciri penampakan, jam berapa munculnya, dan bagaimana lokasi sekitar saat terjadi penampakan. Apa betul si mahasiswa mati karena bunuh diri?

Saya bisa terima jika semua kisah hantu itu hanya sebuah kebohongan kultural. Setidaknya untuk menjaga laku manusia agar tak berbuat sembarangan di sebuah tempat. Ia bisa menjaga nilai yang berlaku di sebuah tempat. Yang paling sederhana bisa mencegah seseorang agar tak kencing dan berak sembarangan.

Maka dari itu saya tak begitu suka pada serial televisi bertema hantu dan mistisme. Membosankan. Misalnya program acara televisi yang dibuat jadi kompetensi uji keberanian berdiam di tempat sunyi di tengah hutan. Selain monoton dalam penulisan skenario acara, serial bodoh itu hanya mengumbar ketakutan peserta. Penonton diajak menikmati momen di mana hantu datang, dan peserta mengerang ketakutan. Akhirnya melambai ke kamera. Tayangan yang teralu dangkal dalam mengulas latar historis beberapa tempat sakral. Apalagi kalau bukan peringkat siaran televisi yang dikejar?

Saya jadi ingat kebiasaan seorang teman di Yogyakarta, Taufik Nurhidayat sekitar setahun lalu. Seorang mantan aktivis pers mahasiswa Ekspresi di Universitas Negeri Yogyakarta yang gemar mengirim foto pocong bermuka hitam. Saya pertama tahu kebiasaan aneh itu saat minta alamat surel semua pers mahasiswa di Yogyakarta. Saat itu saya diminta teman-teman LPMS IDEAS mendistribusikan edisi digital majalah IDEAS. Lewat surel, Taufik mengirim sebuah file berisi alamat redaksi pers mahasiswa di Yogyakarta, lalu satu file tanpa nama. Saat saya buka ternyata yang ia lampirkan adalah foto pocong bermuka gelap.

Karena kelakuan aneh Taufik, saya dan beberapa orang di IDEAS sempat misuh-misuh. Tentu saja karena foto pocong itu masuk ke surel milik IDEAS, bukan milik personal.

Baru-baru ini, Taufik malah mengirim foto pocong ke hampir semua teman-teman pers mahasiswa di Jember. Ia tak menyampaikan apa maksudnya. Saya curiga ia hanya bergairah menebar penanda visual gambar pocong itu saja. Lalu tak bertanggungjawab membuat ruang dialog yang membicarakan gagasan besar di balik tindakan anehnya. Entahlah, apakah ia hendak membuat teror visual, atau mengejar peringkat laiknya televisi swasta yang menayangkan program mistis.[]

 

*) Tulisan ini dipersembahkan untuk menjawab tantangan #WritingChallange bersama beberapa kawan di Jember, Jogja, dan ada yang nyusul dari Jakarta. 🙂