Sumber gambar: press kit Apple
Sumber gambar: press kit Apple

in Note

Selamat Tinggal Apple Music, Inilah Indonesia

Ada kabar baik bagi pendengar musik di Indonesia pada akhir 2015 lalu. Pengguna ponsel bersistem operasi Android bisa menikmati jutaan lagu di perpustakaan musik Apple, lewat aplikasi Apple Music.

Ini terobosan nekat bagi raksasa teknologi seperti Apple. Karena Apple Music merupakan aplikasi pertama yang dibuat Apple untuk perangkat ponsel non-iOs. Padahal kebijakan Apple dalam melindungi perangkat lunaknya bisa dibilang paling tertutup, untuk penggunaan di luar perangkat keluaran Apple.

“Musik adalah salah satu hal yang disukai semua orang di dunia,” kata Eddy Cue. Wakil Presiden Senior Apple itu ingin lebih banyak orang bisa menikmati musik, tanpa ada batasan usia dan kelompok masyarakat. “Kami telah mencoba dan bekerja keras membuat aplikasi Apple Music untuk Android.”

Saya mulai berlangganan Apple Music setelah kelompok musik Efek Rumah Kaca (ERK) merilis album Putih pada September 2015. Niatnya hanya ingin mendengarkan musik ERK tanpa harus menunggu versi bajakannya beredar. Ini juga untuk mengurangi kebiasaan mengonsumsi musik bajakan dan menghargai karya pemusik atas kerja keras mereka.

Belum genap satu tahun usia Apple Music di Indonesia, Spotify hadir menjadi pesaing di pasar Indonesia pada akhir Maret 2016. Daniel Ek dan Martin Lorentzon, dua pemain lama di bidang layanan streaming musik asal Swedia, yang mulai membangun Spotify sejak 2008 akhirnya kembali. Ini tentu menjadi kompetisi bagi dua penyedia layanan musik streaming di Indonesia.

Fitur

Pertama kali menginstal di perangkat PC dan ponsel, Spotify lebih enteng daripada Apple Music dan iTunes. Performa Spotify nampak lebih siap untuk terjun ke pasar. Dari segi tampilan, Spotify lebih minimalis dan ramah terhadap pengguna. Sementara Apple Music sejak awal beredar masih dalam versi beta, atau tahap pengembangan. Ada beberapa bug yang tak diperbaiki. Seperti aplikasi yang tiba-tiba terhenti saat memutar musik.

Letak ujung tombak Apple Music mungkin pada menu For You. Fungsinya memberi rekomendasi pengguna pada daftar lagu tertentu, sesuai dengan genre musik kesukaan mereka. Rekomendasi ini juga berdasarkan kecenderungan musik yang paling sering atau musik yang terakhir kali diputar. Algoritma Apple Music dan tim kurator kemudian memberi beberapa opsi pada pengguna untuk mendengarkan musik, genre, atau artis tertentu.

Fitur lain yang tak ada di Apple Music adalah rekomendasi daftar lagu berdasarkan mood atau suasana hati pengguna. Spotify memiliki fitur ini. Jika diamati, daftar lagu berdasarkan suasana hati ini muncul bergantian sesuai dengan waktu pengguna membuka aplikasi. Saat malam hari, rekomendasi yang muncul tentu dafar lagu yang siap menemani pengguna beristirahat. Di pagi atau siang hari, ada daftar lagu untuk menemani pengguna saat bekerja.

Keunggulan lain Spotify, pengguna bisa melakukan kontrol pemutaran (remote) saat memutar musik. Misalkan pengguna sedang memutar musik lewat Spotify di PC, kemudian ingin menghentikan musik, bisa dilakukan lewat fitur remote via ponsel. Asalkan dua perangkat saling terhubung di jaringan internet.

Hingga Juni 2016, Playstore mencatat Apple Music telah diunduh sekitar 5 juta kali oleh pengguna ponsel Android. Tertinggal jauh dari Spotify, yang telah diunduh sekitar 100 juta kali oleh pengguna ponsel Android.

Persaingan Harga

Memang kedua aplikasi ini bisa dipakai gratis dengan fitur terbatas. Spotify memberi akses pengguna ke semua daftar lagu, namun hanya bisa diputar secara acak. Kemudian pengguna non-premium juga harus melewati beberapa iklan audio sebelum memutar musik lainnya. Sementara pengguna non-premium Apple Music tidak bisa mendengarkan daftar lagu dari perpustakaan Apple, mereka hanya bisa mendengar lagu lewat siaran streaming radio Beats 1.

Apple Music mematok harga 69 ribu rupiah untuk akses fitur premium. Sedangkan Spotify hanya mengenakan harga senilai 49 ribu. Spotify berani memasang harga lebih murah.

Hal penting yang dilewatkan oleh Apple Music adalah metode pembayaran untuk pengguna fitur premium. Misalnya sedikitnya kelompok masyarakat di Indonesia yang terbiasa bertransaksi menggunakan kartu kredit. Apple Music tak memberi metode pembayaran lewat penyedia jasa pembayaran pihak ketiga seperti Paypal. Namun pengguna yang hendak berlangganan fitur premium dan tak punya kartu kredit, bisa membayar dengan melakukan redeem giftcard yang disediakan Apple.

Berbeda dengan Spotify. Ada banyak tawaran metode pembayaran untuk mendaftar fitur premium. Mulai dari kartu kredit, ATM bersama,  internet banking, e-wallet, hingga pembayaran tunai lewat payment point di beberapa minimarket. Ini mempermudah pembelian pengguna Indonesia yang tak punya kartu kredit.

Akhir Maret lalu, The Verge melaporkan Spotify telah mendapat sebanyak 30 juta pengguna fitur berbayar. Sementara pengguna berbayar Apple Music masih berkutat pada angka 10 juta pengguna.

Barangkali Apple perlu bekerja lebih keras untuk mewujudkan visinya. Bahwa musik memang disukai semua orang di penjuru dunia, tetapi bukan musik yang dibanderol dengan harga mahal.***