Lukisan O. Von Corven, "The Great Library of Alexandria" yang dibuat pada abad 19 masehi.
Lukisan O. Von Corven, "The Great Library of Alexandria" yang dibuat pada abad 19 masehi.

in Note

Mesin Pengarsip Internet

ADRIENNE LAFRANCE, kolumnis majalah The Atlantic untuk isu teknologi, pernah menulis soal bagaimana data-data yang tersimpan di internet sangat rentan hilang. Salah satunya adalah situs web. Ia menyebutnya sebagai phantasmagoria. Bias yang mengaburkan antara kenyataan dan khayalan. Menjadi kenyataan saat seseorang mengira jutaan teks hingga gambar gerak pada sebuah situs web sebagai yang nyata, padahal tak lebih dari baris-baris kode yang diolah mesin penjelajah.

Informasi berbasis data digital memang punya banyak keunggulan. Misalnya jutaan naskah buku tidak menutup kemungkinan bisa dibaca oleh manusia saja, tetapi juga mesin. Tak hanya membaca tetapi juga menyortir data dan menganalisisnya. Ia bisa disebarluaskan secara mudah. Tanpa harus melipatgandakan ongkos produksi kertas, tinta, dan percetakan. Namun ada pengecualian. Jika data-data itu hilang, maka akan hilang selamanya.

“Jika 34 seri laporan investigasi finalis penghargaan Pulitzer bisa hilang,” kata Lafrance. “Segalanya tentu bisa hilang juga di internet.”

Barangkali ini yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak memakai internet untuk menyimpan data berupa dokumen, foto, hingga gambar gerak.

Mari kita lanjutkan dengan rata-rata usia hidup situs web. Brewster Kahle, seorang sarjana lulusan Institut Teknologi Massachustetts, Amerika pada 1994 meneliti rata-rata usia hidup sebuah situs web. Ia mencatat rata-rata usia hidup situs web hanya 44 hari. Sementara itu, pada 2001 tim riset dari Institute of Electrical and Electronics Engineers, mencatat rata-rata usia hidup situs web adalah 75 hari. Sekitar dua bulan. Setelah jangka waktu pendek itu pembaca tidak bisa mengakses informasi dalam situs web itu.

Internet Live Stats pada 2014 menghitung ada lebih dari 986 juta situs web di dunia. Angka ini terus bertambah. Apalagi dengan akses internet yang semakin mudah. Padahal dua dekade sebelumnya, di tahun yang sama pada saat Yahoo diluncurkan, hanya terhitung ada 2.738 situs situs web.

Pada satu titik, internet dipuji sebagai sebuah metode baru untuk mendistribusi informasi secara mudah dan cepat. Namun menjadi sebuah keniscayaan bahwa sewaktu-waktu informasi itu bisa lenyap, tidak bisa diakses. Ini tentu sebuah paradoks.

Jason Scott, seorang seorang sejarawan dan pengarsip di Internet Archieve pernah memikirkan masalah ini. Bahwa informasi yang ditulis pada lembaran kertas mungkin bisa hilang saat dibakar. Tetapi masih ada material tersisa. Namun ketika informasi itu disimpan dalam peranti diska yang bisa diakses dalam jaringan, tidak menyisakan apa-apa saat hilang. Lenyap begitu saja.

Kekhawatiran inilah yang memompa semangat Internet Archieve, sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada pembangunan perpustakaan berbasis daring, untuk mengarsipkan data-data penting di internet. Wadah ini tentu berguna untuk peneliti, sejarawan, akademisi, dan banyak orang untuk mengakses materi sejarah dalam format digital.

Selain perpustakaan berbasis daring, salah satu mesin yang mereka lahirkan bernama Way Back Machine. Sebuah mesin yang bisa menampilkan kembali sebagian tampilan dan konten dalam situs web yang telah mati. Mesin ini melakukan perayapan pada beberapa bagian situs web secara berkala, kemudian menyimpan hasil perayapan itu, layaknya kamera yang menangkap citraan gambar sebuah objek.

Mereka menyadari bahwa perpustakaan Aleksandria di Mesir, yang bagi sebagian orang disebut sebagai perpustakaan legendaris, telah kehilangan ratusan ribu koleksi buku dan naskah kuno saat invasi bangsa Romawi. Karena itu sebaiknya segala bentuk dokumentasi sejarah atau artefak kebudayaan berbentuk digital bisa diarsipkan. Tanpa khawatir akan lenyap. Karena data-data yang disimpan dalam internet tak bisa dilenyapkan seperti membakar lembaran buku.

 

SAYA berkali-kali kehilangan dokumen penting yang tersimpan di flashdisk maupun di komputer jinjing. Pertama kali memiliki perangkat komputer, saya tak begitu teliti dalam mengelola penyimpanan dokumen.

Karena itu saya memilih blog untuk menyimpan beberapa dokumen dan catatan. Misalnya naskah pemantik diskusi, reportase, hingga catatan pribadi pun saya unggah di blog. Tentu tak semuanya naskah seperti catatan pribadi dan hal remeh ditampilakan untuk publik. Keuntungannya jelas. Tentu tak perlu khawatir lagi dengan kehilangan catatan dan dokumen penting.

Beberapa layanan blog bahkan menyediakan penyimpanan gratis untuk foto, gambar gerak, dan dokumen untuk penggunanya. Selain itu mereka punya fitur pengategorian dan penandaan konten berdasarkan kata kunci. Ini hampir mirip dengan mesin pencarian sederhana untuk melacak apa saja yang pernah kita tulis. Atau barangkali juga mirip dengan ensiklopedia kecil untuk rekam jejak karya apa saja yang pernah kita hasilkan.

Apa bedanya dengan mikroblog atau jejaring sosial, yang memberi penggunanya ruang untuk menulis dan mengunggah dokumen? Tentu saja banyak. Tetapi bagi saya ada yang paling sederhana. Mengajak pembaca untuk membuat jeda dari tiap konten yang mereka akses. Jeda yang membuat orang punya lebih banyak waktu untuk berpikir, saling menanggapi, dan tidak reaksioner dalam merespons hilir mudik isu.

Kemudian yang terpenting barangkali blog bisa jadi ruang yang lebih lebar daripada kalimat-kalimat singkat di sosial media. Saya percaya tulisan memiliki kekuatan menyampaikan pesan. Sebagaimana puisi yang terus melahirkan maknanya saat bertemu pembaca. Menyitir kata-kata Lord Alfred Tennyson, dalam sajaknya dalam bunga rampai The Princess, yang berjudul O Swallow. Bahwa hidup itu singkat, namun menulis itu abadi.

Akhirnya inilah blog saya yang kesekian kalinya berganti nama, berganti platform dari Blogger ke WordPress, dari kholidraf.wordpress.com ke kholidrafsanjani.net, kemudian berganti-ganti tampilan. Selamat menjelajah!