Kumamon berjabat tangan dengan seorang pengungsi di sekolah keperawatan Nishihara Hoikuen di Nishihara, Prefektur Kumamoto, pada 5 Mei. (Azumi Fukuoka/The Asahi Shimbun)

in Translation

Pengetahuan mutakhir tentang hal-hal imut

KUMAMON, sebuah karakter kartun berbentuk beruang yang awalnya dibuat untuk promosi pariwisata di sebuah daerah di Jepang, kini menjadi fenomena bernilai miliaran dolar. Saat ini, sebuah pendekatan akademik sedang mencoba untuk mencari jawaban yang tepat tentang apa yang membuat suatu hal terlihat imut—dan mengapa kita tidak bisa menolaknya.

PADA 14 April 2016, gempa sebesar 6.2 skala Richter mengguncang sebuah pulau di ujung selatan Jepang, merobohkan bangunan dan membuat para warga berhamburan ke jalan. Ratusan gempa susulan—salah satunya bahkan lebih besar 7.0 skala Richter—terjadi terus-menerus, hingga merenggut nyawa 49 orang, mencederai 1.500 orang dan mengusir puluhan ribu penduduk lainnya dari rumah mereka.

Seketika itu berita menyebar ke seluruh dunia lewat media sosial.

“Ada gempa bumi,” Margie Tam mengirim kabar dari Hong Kong. “R u ok kumamon?”

“Apakah Kumamon dan teman-temannya selamat?” Eric Tang, seorang mahasiswa bertanya-tanya.

“Mari berdoa untuk Kumamoto & Kumamon,” tulis Ming Jang Lee dari Thailand, kata-kata itu terus dirapal ribuan kali.

Pada 12 Maret 2016, sebulan sebelum gempa bumi. Kumamon berada di panggung terbuka pada acara pembukaan pesta ulang tahunnya di Kumamoto, sebuah kota berpenduduk 700.000 di pusat Kyushu. Sekitar 150 tamu—yang kebanyakan perempuan—bersorak, bertepuk tangan, dan bersiul. Kumamon melambaikan tangan dan mengangguk-angguk. Ia hanya setinggi 5 kaki, dengan bulu gelap yang lembut, pipi merah bundar dan lebar, mata terbelalak, dan pada acara itu ia mengenakan, kemeja putih dari kain satin yang dipadukan warna perak dan sebuah dasi pita berwarna merah.

Seorang perempuan di keramaian memegang sebuah boneka Kumamon yang dibalut selimut bayi. Seorang perempuan memberi pakaian abu-abu agar pas untuk bonekanya. Itu bisa saja menghabiskan waktunya sebulan. Sejumlah penggemar baru saja menempel kertas bundar warna merah pada pipi mereka untuk meniru Kumamon. Mereka yang berada pada barisan pertama telah tiba sejak pukul 3 pagi demi menempati posisi utama agar bertemu dengan objek kesayangan mereka.

“Sebenarnya, saya tidak tahu mengapa sangat menyayanginya,” kata Milkinikio Mew, yang telah datang dari Hong Kong bersama teman-temannya, Lina Tong dan Alsace Choi untuk hadir dalam festival selama tiga hari—meski di Hong Kong juga diadakan pesta ulang tahun Kumamon. Ia ketiduran, dan baru tiba pada pukul 6 pagi untuk pembukaan acara pada pukul 10, jadi ia dapat tempat di deretan belakang.

Kumamon sebetulnya bukan karakter gambar kartun, meski ia muncul di rubrik komik surat kabar harian. Ia bukan ikon buatan, layaknya Hello Kitty, meskipun mirip, gambarnya memang dijual sebagai cendera mata. Ia tidak seksi, namun saat Empress Michiko bertemu Kumamon—atas permintaannya—selama kunjungan beberapa pasangan di Kumamoto pada 2013, ia bertanya pada Kumamon: “Apakah kamu belum punya kekasih?”

Kue ulang tahun telah disajikan, dan banyak orang menyanyikan Happy Birthday. Kemudian sejumlah hadiah. Seorang perwakilan dari Honda, yang memiliki pabrik sepeda motor, memberi sebuah skuter bernuansa Kumamon. Seorang perancang sepeda motor dari Italia membuat pesanan sepeda motor balap untuk Kumamon. Ada juga DVD baru, berisi senam yang dipimpin Kumamon.

Sepeda motor Italia itu tidak dijual, pada saat itu. Tetapi dua barang lainnya, telah merupakan bagian dari 100.000 lebih produk bernuansa Kumamon—dari stiker dan buku catatan hingga mobil dan pesawat terbang (salah satu maskapai Jepang menerbangkan Kumamon 737). Saat perusahaan mainan Steif menawarkan 1.500 edisi spesial mainan Kumamon seharga 300 dolar, mereka mengaku bisa menjual habis lewat internet dalam 5 detik. Tahun lalu Leica membuat kamera Kumamon seharga 3.300 dolar, sebuah tawaran alternatif dibanding patung emas Kumamon buatan pengerajin perhiasan Tokyo, yang dijual seharga 1 juta dolar.

Kumamon adalah yuru-kyara, atau “karakter gembur”, salah satu makhluk paling suka disayang di Jepang yang mewakili semua hal dari kampung dan kota hingga bandara dan penjara. Istilahnya kadang-kadang diartikan sebagai “maskot”, namun yuru-kyara menunjukkan perbedaan dari banyak maskot di barat, seperti mengaitkan dengan tim sepak bola profesional, yang cenderung jinak, di satu titik hanya muncul dalam ranah sempit selama pertandingan berlangsung.

Kumamon telah tampil jauh sebagai yuru-kyara untuk Prefektur Kumamoto. Ia telah menjadi lebih dari simbol untuk wilayah itu, lebih dari hanya strategi untuk mendorong turisme dan hasil pertanian. Ia hampir dianggap sebagai kesatuan hidup, kesenangan dalam isi rumah tuhan (ini mungkin penting bahwa produk pertama Kumamon yang berlisensi adalah sebuah patung bermotif wajahnya Buddha). Ia terbang dalam dunia fantasi seperti karakter dari literatur anak-anak, sebuah perpaduan antara Cat in the Hat dan teddy bear.

Kumamon terbang dalam dunia fantasi seperti karakter dari literatur anak-anak, sebuah perpaduan antara Cat in the Hat dan teddy bear.

Setelah gempa April, linimasa Twitter Kumamon, yang memiliki jutaan pengikut, berhenti menampilkan interaksi. Dengan ribuan bangunan rusak, saluran air menuju kota terputus, rumah sakit tergoncang pondasi bangunannya, dan 44.000 orang keluar dari rumah mereka, pemerintah prefektur, yang mengurusi penampilan Kumamon, merasa punya hal lebih penting daripada sebatas mengatur panggung untuk beruang fiksi.

“Orang-orang menanyakan kenapa akun Twitter Kumamon diam saja saat daerahnya membutuhkan maskot beruangnya lebih dari apapun,” tulis Japan Times di laman Facebook pada 19 April.

Hingga seribu keheningan menyergap, kemudian ribuan gambar, yang dibuat anak-anak, remaja dan bahkan seniman manga profesional, tidak hanya dari Jepang, namun dari Thailand, Hong Kong dan Cina. Mereka melancarkan kampanye dadakan menggalang dukungan untuk mendapat bantuan gempa bumi menggunakan karakter beruang, yang berdiri di kota bersama para warga. Kumamon digambarkan memimpin upaya penyelamatan, dengan balutan perban di kepala, mengangkat batu untuk membangun ulang dinding-dinding Kastil Kumamon yang runtuh, menopang pondasi, menggendong anak-anak dengan kedua tangannya.

Ganbatte Kumamon!” tulis banyak orang, memakai ucapan yang bermakna sesuatu antara “jangan menyerah” dan “lakukan yang terbaik”.

Kumamon itu kawaii—kata yang bisa diartikan “imut”, namun sebuah kata berarti luas, punya berlapis makna, meliputi gambaran dan perilaku manis yang memikat.

Orang-orang menggunakan banyak avatar imut—Kumamon memperoleh 1 miliar dolar pada 2015, empat atau lima kali dari Hello Kitty. Tetapi apa yang manis? Apa yang menjadi dasar menarik? Apakah apresiasi dari sebuah keimutan datang secara natural, ataukah ia mengungkapkan sesuatu tentang masyarakat kita? Apakah ia meyakinkan secara luas—atau mungkin keimutan  memendam sisi yang lebih gelap juga? Ini adalah beberapa pertanyaan yang sedang ditangani oleh sebuah bidang akademik mutakhir, studi tentang keimutan.

SEKITAR satu pekan sebelum ulang tahun Kumamon, Soma Fugaki mengamati keramaian manusia pada malam pembuka di Blossom Blast, sebuah pertunjukan seniman perempuan di Galeri UltraSuprNew di wilayah persendian Harajuku Tokyo. Orang-orang minum dan menari. Tetapi Soma tidak ikut menari, atau sebatas berdiri. Ia hanya seorang bayi. Usianya baru lima tahun, Soma menggeliatkan kakinya dalam gendongan sang ayah, Keigo, yang menatap wajah anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Segala tentangnya adalah pantulan dari diriku,” kata Keigo, “versi kartunya … Aku memandanginya setiap saat. Ia nampak seperti aku. Ini adalah bagian dariku, namun yang dilebih-lebihkan: pipi yang lebih besar, mata yang lebih besar.”

Bayi adalah contoh keimutan bagi kita. Sedikitnya ada dua detail—pipi besar, mata besar—merujuk  pada istilah Kindchenschema yang diciptakan Konrad Lorenz, atau bagan bayi, sebagaimana didefinisikan dalam naskah penelitian pemenang penghargaan Nobel pada 1943 tentang “mekanisme pembebasan batinyang memunculkan rasa kasih sayang dan menaruh manusia: pipi gemuk, mata besar yang ditetapkan pada wajah, dahi tinggi, hidung dan rahang yang kecil, serta lengan dan kaki pendek yang gemuk, yang bergerak dengan lamban. Tidak hanya pada manusia: anak anjing, anak bebek dan bayi binatang juga termasuk dalam teori Lorenz.

Penelitian Lorenz adalah cetak biru tentang studi keimutan, tetapi hal itu tidak menghasilkan tanggapan positif pada kalangan akademis. Ia adalah psikolog Nazi yang menulis selama masa perang, menjelajah teori perkembangan partai politik tertentu (ia kemudian meminta maaf telah bergabung dengan partai Nazi dan tidak mengakui ideologinya).

Selama beberapa dekade, para ilmuan berfokus pada apa yang ada dalam pengelihatan bayi, dan bagaimana bayi berpikir. Namun pada abad ke-21, perhatian berganti pada bagaimana bayi merasakan diri mereka sendiri, seperti keimutan mulai menjadi ranah paduan dalam penelitian ilmiah. Percobaan-percoban mulai dilakukan untuk membuktikan bahwa melihat wajah imut bisa meningkatkan konsentrasi dan mengasah keterampilan motorik, yang berguna untuk modifikasi menggendong anak-anak. Percobaan yang menempatkan relawan pada alat pemindai citraan resonansi magnetis  itu menunjukkan bagaimana memandangi makhluk imut bisa menstimulasi otak untuk melepaskan dopamin. Tawaran masyarakat soal keimutan telah menuntun studi akademis tentang gender apakah untuk mengajari perempuan menjadi kekanak-kanakan, ataukah menjadi berarti oleh gadis belia untuk mengontrol seksualitas mereka.

Banyak percobaan mutakhir telah dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi standar estetika secara umum, yang bisa membuat benda mati bisa nampak imut. Dalam sebuah kajian di Universitas Michigan pada 2012, pakar informasi visual Sookyung Cho meminta seseorang “untuk menggambar kotak imut dengan menyesuaikan ukuran, proporsi, kebulatan, rotasi, dan mewarnai gambar itu”.

Apa yang ia temukan mendukung gagasan bahwa “ukuran kecil, bulatan, kemiringan, dan tingkat kecerahan sebuah warna bisa membantu sebagai faktor penentu presepsi keimutan pada gambaran benda”. Ini berarti, ia menemukan, jika seseorang menggambar sebuah persegi panjang berarti ia berada di Amerika Serikat atau Korea Selatan. Keimutan itu memiliki spesifikasi budaya, dan ia telah menjadi suatu hal yang kaya akan penjelasan.

 

Keimutan berkaitan dengan Jepang bahwa negeri yang sebenarnya bisa datang sebagai bagian yang mengejutkan. Di kereta bawah tahah Tokyo, yang disesaki banyak pebisnis berpakaian warna gelap, perempuan mengenakan masker, anak-anak berseragam sekolah, adalah contoh dari keimutan yang berada di titik paling bengis. Selebihnya, ada keimutan lain yang bisa ditemukan: jimat yuru-kyara kecil yang menggantung di tas atau yang menyembul dari gambar-gambar poster atau hambatan pekerjaan konstruksi yang menyerupai bentuk bayi-bayi bebek.

Di Kumamoto, selama ulang tahun Kumamon pada akhir pekan di bulan Maret, saat keluar dari kereta cepat Shinkansen di stasiun Kumamoto, saya melihat tanda-tanda demam  keiimutan. Saya tidak kecewa: saya melihat kepala Kumamon yang besar sekali di lantai bawah, di ruangan kepala stasiun yang memang dibuat untuk Kumamon. Pertokoan di stasiun dipenuhi dengan pernak-pernik Kumamon, dari botol sake hingga aksesoris hewan piaraan. Di kota ini, wajahnya menyebar pada dinding bangunan perkantoran, dengan spanduk ulang tahun menggantung pada areal pertokoan yang menjadi ciri setiap kota di Jepang.

Enam tahun lalu, Kumamoto tidak banyak dikenal. Saat itu ada gunung berapi aktif, Gunung Aso, di sekitar Kumamoto, dan sebuah kastil dari abad ke-16 yang terbakar pada 1877 dibangun ulang pada tahun 1960-an. Penduduk Kumamoto percaya tidak ada apa-apa di kotanya yang membuat orang-orang mau berkunjung ke Kumamoto. Wilayah itu merupakan daerah agraris, yang ditumbuhi melon dan stroberi.

Namun pada 2010, lintasan kereta api Jepang mulai beroperasi untuk menghubungkan kereta api cepat Shinkansen dengan Kumamoto, dan walikota sangat ingin para turis menggunakannya. Maka mereka membuat sebuah logo untuk mempromosikan daerahnya, mempekerjakan desainer yang menawarkan gaya berlambang slogan resmi mereka, “Kejutan Kumamoto”, telah berhasil pada banyaknya orang Jepang yang terkejut dengan pemandangan menakjubkan yang mereka temukan di Kumamoto.

Penegasan pada logo adalah titik merah, menyerupai sol sepatu. Desainernya, berupaya menambahkannya, dan memahami popularitas yuru-kyara, membubuhinya dengan beruang hitam sebagai kejutan. Kuma dalam bahasa Jepang untuk beruang. Mon adalah pelesetan untuk man yang dalam  bahasa Inggris berarti jantan.

Ia diberi sedikit karakter nakal—Milkinikio Mew, yang datang dari Hong Kong untuk perayaan ulang tahunnya, memanggilnya “sangat nakal”. Kumamon pertama menjadi headline setelah Kumamoto mengadakan konferensi pers untuk melaporkan bahwa ia telah hilang dari tempatnya, karena berlari menuju Osaka untuk mendorong penduduk di sana naik kereta api. Pertunjukannya dimulai. Kumamon terpilih menjadi yuru-kyara paling terkenal pada 2011. (Jepang mengadakan kontes nasional, Yuru-kyara Grand Prix, yang diadakan pada November. Kontes terakhir dihadiri oleh 1.727 maskot yang beragam dan sedikitnya 77.000 penonton. Jutaan dukungan datang.)

Pada salah satu sisi kotak radio kontrol Tamiya versi kereta Kumamon ada foto-foto destinasi wisata yang menarik di Kumamoto. Salah satu dari beberapa lagu DVD lagu olahraga—yang dipimpin Kumamon—dirilis pada hari ulang tahunnya, mereka beralasan, “Toh-MAY- toes … straw-BEAR-ies … wah-TER-melons”—adalah semua hasil pertanian pilihan Kumamoto. Di toko grosir, senyuman Kumamon dari setiap keranjang stroberi dan pembungkus buah melon.

Kereta cepat mulai beroperasi menuju Kumamoto pada 12 Maret, bertepatan dengan ulang tahun Kumamon. Ia telah di sana untuk menyambut jadwal kereta pertama, momen yang dibuat selama rangkaian festival ulang tahunnya. Para fans berbaris di stasiun untuk memeluknya, menjangkau tangan-tangan yang tidak bisa berlama-lama karena ada banyak fans yang menunggu giliran.

Pada 2014, Kumamon memberi konferensi pers pada Foreign Coreestpondents’ Club Jepang, yang saat itu ia menjabat sebagai direktur Hubungan Maysarakat. Para jurnalis memberi beberapa pertanyaan. “Berapa staf yang anda miliki, untuk membantu aktivitas anda?” tanya seseorang. Jawabannya—“Kami memiliki sekitar 20 anggota staf bagian”—disampaikan oleh salah satu staf, Masataka Naruo, yang secara santai menceritakan bahwa Kumamon adalah bosnya.

Namun bagi sebuah maskot agar bisa sukses, menjadi imut saja tidak cukup. Bagi semua yuru-kyara yang populer, ada ratusan Harajuku Miccolos—sebuah lebah warna kuning kemerahan setinggi 5 kaki—, yang saya temui sedang berdiri di trotoar di luar kafe dan toko roti Colombin, sedang merayakan Hari Lebah Madu dengan berjalan-jalan selama tiga jam di depan kafe, menyapa para pejalan kaki. Kebanyakan orang tidak meliriknya dan tetap berjalan dengan tenang, meskipun beberapa orang menghampiri dan mengajaknya berfoto. Tidak ada antrian.

Harajuku Miccolo, ikon karakter Colombin, itu imut namun belum begitu jelas—seperti nasib umum bagi kebanyakan yuru-kyara. Kota Osaka memiliki 45 karakter beragam yang mempromosikan beberapa sisi kota dan menggantinya secara berkala demi efisiensi. Salah satu pejabat dengan memelas mengatakan bahwa pemerintah yang membuat karakter-karakter itu bekerja keras untuk mereka dan akan merasa sedih jika mereka diberhentikan.

Harajuku Miccolo sedang berusaha menghindari takdir itu.

“Ia belum sukses,” salah satu pawangnya mengakui, sambil menyebarkan beberapa kotak kue madu. “Kebanyakan memang tidak berhasil …”

“… seperti Kumamon?”

“Kami masih berusaha …”

 

TIDAK ada seorangpun yang imut bagi Shakespeare. Tidak ada kata itu dalam bahasa Inggris hingga sekitar 1700s, saat huruf “a” dalam kata “acute” diganti dengan tanda apostrof  atau tanda petik—‘cute—lantas kemudian dihilangkan. Kata acute berasal dari acuse, Bahasa Latin dari “jarum”, huruf yang menunjukkan suatu hal yang runcing, “so cute” mulanya bermakna “cerdas, pandai, pintar, tajam, lihai”, merujuk pada kamus Bahasa Inggris Oxford edisi 1933, sama sekali tidak merujuk pada istilah untuk mendeskripsikan tampilan visual.

Penggunaan istilah terbaru masih ditolak di Inggris pada pertengahan 1930, saat seorang wartawan Daily Telegraph memasukkan kata “cute” dalam daftar “pernyataan bajingan orang Amerika” bersamaan dengan OK dan radio. Penggambaran imut, bayi gemuk nyaris tidak muncul dari dunia seni rupa sebelum abad ke-20. Bayi dalam lukisan abad pertengahan digambarkan sebagai miniatur orang dewasa yang keriput. Gambaran imut sebagaimana yang kita pahami saat ini mulai muncul sekitar 1900, saat budaya populer telah menemukan ceruk pemasaran dari hal-hal imut. Pada 1909, ilustrator asal Amerika Rose O’Neill menggambar komik tentang “kewpies” (menyadur dari cupid)—makhluk mirip seperti bayi yang bersolek dengan sayap kecil dan kepala besar, yang diberikan sebagai hadiah karnaval dan menjadi iklan Jell-O  (sampai sekarang, Kewpie Mayonnaise, yang diperkenalkan pada 1925, menjadi produk dengan penjualan terbaik di Jepang). Keimutan dan komersialisasi modern saling berhubungan erat.

Tetap saja, kewpies mengikuti garis-garis anatomi manusia sedikit banyaknya, cara yang digunakan Mickey Mouse menyerupai tikus sungguhan saat pertama kali ia muncul di film pada 1928. Setengah abad perbaikan akhirnya membuatnya jauh lebih kekanak-kanakan, seorang ahli proses evolusi biologis Stephen Jay Gould menjelaskan dalam “pemujaan biologis” pada Mickey, yang telah ia telusuri bahwa kejailan tikus dan kadang-kadang kekerasan pada akhir 1920 sebagaimana metamorfosisnya jadi jinak, telah diamati secara luas oleh korporasi perusahaan. “Ia telah mengambil penampilan yang lebih kekanak-kanakan sebagai karakter tikus dari Steamboat Willie jadi imut dan tidak mengganggu untuk kerajaan sihir,” tulis Gould.

Di Jepang, pesona keimutan terlihat dalam tulisan anak-anak perempuan, sekitar 1970, sekolah perempuan di Jepang mulai meniru tulisan komik manga—atau apa yang disebut koneko-ji, atau “tulisan kucing”. Pada 1985, setengah dari anak-anak perempuan di Jepang menerapkan gaya, dan perusahaan pensil, buku catatan dan barang terjangkau lainnya, seperti Sanrio, belajar bahwa barang-barang tersebut akan terjual dengan lebih baik saat dihiasi dengan berbagai karakter, seperti ratu bagi Hello Kitty.

Nama lengkapnya adalah Kitty White, dan ia berkeluarga dan tinggal di London (karena sebuah tren Jepang untuk semua hal di Inggris pada pertengahan 1970an). Produk Hello Kitty yang pertama, sebuah dompet vinyl untuk koin, yang mulai dijual pada 1974. Hari ini, sekitar 5 miliar dolar nilai jual aksesoris Hello Kitty dijual tiap tahunnya. Di Asia, ada taman hiburan Hello Kitty, restoran dan kamar hotel. EVA Air, maskapai pesawat Taiwan, menerbangkan tujuh jet bernuansa Hello Kitty, yang bergambar Hello Kitty dan teman-temannya tidak hanya pada lambung jet, namun juga di seluruh kabin, pada bantal-bantal dan seperei kursi.

 

JIKA target anda adalah perempuan muda, maka pasar akan mengalami surplus,” kata Hiroshi Nittono, direktur Laboratorium Psikologi Kognitif di Universitas Osaka, saat bicara soal pasar untuk barang imut di Jepang. Itu memang benar. Sebagai upaya tampil menonjol, beberapa yuru-kyara kini dibuat secara sengaja dibuat dengan kasar atau sedikit menakutkan. Ada seluruh jenis komo-kawaii, atau “imut tapi kasar”, seperti yang dicontohkan Gloomy, sebuah beruang merah muda dengan cakar merah dengan darah anak pemilik, yang terbiasa melukainya. Bahkan Kumamon, dicintai sebgaimana dirinya, masih menjadi subjek yang cukup popular menjadi meme di internet di mana karya-karyanya dikerjakan “untuk menyembah Setan”.

Karena kebiasaan meletakkan karakter pada produk ini sangat umum, Nittono, seseorang yang tenang, ramah senyum dan berdasi, telah bekerja bersama pemerintah untuk mengembangkan produk yang imut secara intrinsik. Ia menyarankan kami bertemu dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri di Hiroshima, di mana ia merampungkan jabatan tetap posisi akademisnya.

Untuk beberapa tahun silam, Nittono dan pemerintah telah berkolaborasi untuk mengembangkan barang yang imut, beberapa diantaranya diletakkan di atas meja di kantornya: sebuah  kuas make-up, mangkuk, tungku, beberapa medali dan ubin yang seluruhnya berbentuk gemuk. Memberikan beberapa struktur yang membingungkan dari barang-barang imut yang tersedia di pertokoan pada semua mall di seluruh dunia, dengan tampilan bersemangat.

“Kami memakai kawaii untuk sentimen-sentimen seperti itu, perasaan—hal-hal yang bersifat kawaii itu tidak mengancam, itu adalah bagian yang paling penting, mungil dan tidak berbahaya,”  kata Nittono. “Sebuah produk berkualitas tinggi agak berjarak dengan pelanggan; terlihat mahal. Namun jika anda menempatkan nuansa kawaii pada produk tersebut, mungkin benda-benda seperti itu bisa lebih diterima.”

Jika anda memiliki sesuatu yang lucu, lalu anda ingin menyentuhnya, barulah anda anda melihat kualitasnya,” tambah  Youji Yamashita, seorang pejabat kementerian.

Sebuah objek bisa juga kawaii secara tidak disengaja. Bersama istrinya, Makoto dan Date Tomito memiliki Bar Pretty, sebuah kedai di sisi jalan di Hiroshima. Enam orang mau duduk beramai-ramai di kedai ini. Makoto berjalan dari sebuah kerumunan sambil membawa tanaman kecil warna kuning, sebuah kado dari istrinya.

“Ini kawaii,” kata Date, sambil memegang tanaman, mengurainya. “Ada banyak arti yang berbeda untuk kawaii: imut, kecil, canggung. Beberapa hal hanya disebabkan oleh bentuk yang imut.”

“Ya tidak buruklah,” ia menambahkan. “Saya tidak pernah memakai kata kawaii dengan cara yang ironis. Kawaii adalah sejenis pujian terbaik di kalangan orang-orang Jepang, terutama untuk perempuan dan anak perempuan. Mereka benar-benar menyukai barang-barang  dan hal-hal kawaii.

Tidak semua perempuan setuju. Hello Kitty bisa menarik kajian akademis, kecuali di Jepang, di mana perkembangan kaum perempuan sangat tertinggal dari industri nasional lainnya. Sifat kekanak-kanakan perempuan adalah menjadi obsesi nasional—Jepang tidak melarang kepemilikan pornografi anak hingga 2014—dan ikon paling populer di kalangan perempuan, Hello Kitty, tidak punya mulut. Jika keimutan menjadi sebuah wilayah kajian akademis, daripada banyak kredit yang diberikan pada kelompok feminis untuk menekan balik apa yang disebut Hiroto Murasawa dari Osaka Shoin Womens’s University sebut sebagai “mentalitas yang tidak bisa dipercaya”.

Perempuan jepang masih hidup dalam tradisi di mana perempuan lajang pada usia 30an kadang-kadang dikenal sebagai “sisa kue natal”, yang bermakna bahwa setelah usia 25an—dari kue Desember, ulang tahun untuk perempuan—mereka telah melewati masa akhir mereka dan harus segera disingkirkan. Tidak ada orang yang mau dengan mereka.

Mereka yang memakai masker bedah di tempat publik bertujuan menghindari pilek, polusi, dan alergi. Tapi banyak perempuan Jepang mengatakan bahwa mereka memakainya “date masuku”—hanya untuk penampilan—karena mereka tidak punya waktu untuk berias, atau karena mereka tidak menganggap diri mereka cukup imut, dan mereka ingin perisai agar tidak mengganggu pemandangan dunia. Sebuah studi di Jerman  tentang 270.000 orang dari 22 negara, saat ditanya responden apakah mereka bahagia dengan penampilan mereka, orang-orang Jepang berada di urutan akhir.

 

Joshua Paul Dale, seorang pakar kajian budaya berusia 50 tahun yang mengajar di Universitas Tokyo Gakugei, telah menggerakkan studi keimutan. Sebagian ilmu tentang perilaku, sebagian kajian budaya, sebagian biologi, wilayah kajiannya sangat baru dan belum ada diadakan konferensi sebelumnya.

Dale adalah yang pertama membuat sebuah bibliografi online tentang kajian keimutan, sebuah daftar yang saat ini berisi lebih dari 100 publikasi. Mereka disusun berdasarkan urutan alfabet dari C Abidin’s “Agentic cute (^.^): Pastiching East Asian cute in Influencer commerce”, dari jurnal budaya populer Asia Timur, hingga Leslie Zebrowitz et l’s “Baby talk to the babyfaced”, dari jurnal tingkah laku nonverbal.

Studi keimutan—sebagian adalah ilmu tentang perilaku, sebagian kajian budaya, sebagian biologi—adalah kajian yang sangat baru dan belum pernah ada konferensi sebelumnya

Dale juga menyunting Jurnal Budaya Populer Asia Timur untuk edisi keimutan, ia terbit pada April 2016. “Tulisan yang terkumpul dalam edisi ini menunjukkan keluwesan dari keimutan sebagai sebuah kategori analisis, dan menghasilkan cakupan wawasan yang luas,” tulisnya dalam pengantar jurnal.

Keimutan belum muncul sebgai sebuah bidang wilayah kajian ilmiah—Dale memperkirakan hanya beberapa lusin akademisi di dunia yang berfokus pada topik ini—namun ia berharap bahwa saat ini masih dalam proses. Saat kami bertemu dengannya di sebuah apartemen penuh cahaya di Sendagaya bagian dari Tokyo, ia membuat perbandingan dengan studi pornografi, yang saat ini memiliki jurnal tiga bulanan sendiri, yang dibuat setelah beberapa akademisi berkumpul untuk fokus pada topik yang mereka rasa sedang diabaikan para peneliti, di luar dugaan.

Hiroshi Nittono berkontribusi untuk Jurnal Asia Timur edisi khusu. Nittono yang menulis pertama ulasan ilmiah dengan istilah kawaii di judulnya, membuat dalil “dua lapis model” keimutan: bukan hanya untuk membantu orangtua yang baru melahirkan anak, namun sekali bayi bergerak ke masa balita dan mulai berinteraksi dengan dunia, keimutan bisa membantu sosialisasi.

“Ini menarik karena ia melekat dalam konsep imut itu sendiri,” kisah Dale pada saya. “Hal-hal imut bisa dengan mudah berhubungan dengan hal lainnya. Ini seperti meruntuhkan sedikit hambatan antara diri sendiri dan orang lain, atau subjek dengan objek. Itu berarti merupakan undangan kerja untuk berbagai bidang wilayah studi. Ini sangat menarik untuk mengajak orang-orang berkumpul dari wilayah studi yang beragam untuk membicarakan soal subjek yang sama.”

Jepang telah dengan unik menjadikan keimutan sebagai refleksi dari karakter nasional mereka bagaimana cara melakukan upacara  minum teh atau bunga sakura yang pernah dijadikan sebagai simbol kebangsaan Jepang. Pada 2009, pemerintah menunjuk trio “duta imut”, tiga perempuan dalam balutan busana pisa dan babydoll yang mewakili negara di luar negeri.

 

Kemanusiaan selalu merangkul dewa rumah tangga: bukan dewa yang menciptakan dunia, tapi yang lebih kecil, lebih personal untuk memperlembut kehidupan yang keras dan sepi. Tidak semua  orang memiliki teman yang mereka anggap layak atau bayi yang bisa banggakan. Seringkali orang kesepian di dunia. Teddy bear hadir karena ada malam panjang yang gelap dan di beberapa titik orang tua anda harus tidur dan meninggalkan anda. Ada kenyamanan yang nyata dalam keimutan.

“Mengisi kebutuhan emosional adalah tepat di mana kawaii memainkan peran penting,” kata Christine R Yano, profesor antropologi di Universitas Hawaii di Manoa, dan penulis Pink Globalization: Hello Kitty’s Trek Across the Pacific.

“Bahkan di Amerika, jurnalis Nicholas Kristof telah menulis sebuah ‘jarak empati’ dalam masyarakat hari ini,” kata Yano. “Ia menunjuk pada tempat dari beberapa objek yang mungkin secara sadar menggerakkan ‘kebahagiaan’, ‘pelipur lara’, kenyamanan’. Saat masyarakat butuh penyembuhan, ia mencari kenyamanan dalam kekeluargaan. Dan seringkali dalam kekeluargaan bersemayam keimutan. Menyaksikan kegunaan teddy bear sebagai sumber kenyamanan bagi pemadam kebakaran yang terbangun saat peristiwa 9/11 di New York. Jadi saya melihat sesuatu hal yang bersifat kawaii sebagai salah satu pembangkit empati.

Kumamon membangkitkan berton-ton empati. Sepekan setelah gempa bumi Kumamoto, Kumamon sangat dibutuhkan bahwa ketidakhadirannya menyihir para penggemarnya sendiri, secara mandiri, sebagai sebuah objek simpati, penyelamat tak kenal lelah, pahlawan yang nyata.

Tiga minggu setelah gempa bumi 14 April Kumamon mengunjungi balai pertemuan kota Mashiki yang terguncang keras, di mana para penduduknya masih tertidur di dalam mobil-mobil demi keselamatan 1.200 getaran yang terus bergemuruh di seluruh daerah itu. Kunjungannya dilaporkan di TV dan di koran sebgai berita, seakan seorang pejuang yang sudah lama dicari itu baru saja terhuyung-huyung masih hidup dari reruntuhan. Anak-anak, yang kebanyakan kehilangan rumah mereka dalam gempa bumi itu, berbondong-bondong mengelilinginya, memekik, berfoto. Sahabat mereka telah kembali.


Naskah liputan ini merupakan karya Neil Steinberg dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Naskah versi asli berjudul The new science of cute
yang diterbitkan di The Guardian.