“Sometimes antisocial but always antifacis” by Börkur Sigurbjörnsson is licensed under CC BY 2.0
“Sometimes antisocial but always antifacis” by Börkur Sigurbjörnsson is licensed under CC BY 2.0

in Note

Distraksi

Kehidupan media sosial pada akhirnya, hanya sistem yang berbasis pembenaran publik, likes, bagaimana agar cara pandang kita diterima oleh banyak orang, dan mendapatkan banyak pengikut.

ESSENA O’NIELL, seorang remaja asal Australia baru berusia 19 tahun. Seperti kebanyakan teman sebayanya, ia menggunakan Instagram. Ia sering mengunggah gambar dirinya mengenakan blouse, gaun, atau bikini. Ia bisa mendapat ribuan komentar, atau bahkan puluhan ribu likes dari pengikutnya. Akun Instagram O’Neill, pada akhir 2015, memiliki lebih dari setengah juta pengikut.

Instagram adalah platform media sosial untuk berbagi foto atau video. Pada 2012, perusahaan teknologi Facebook membeli saham Instagram senilai 1 milliar USD atau senilai 1,33 triliun rupiah.

Saat berada dalam dunia popularitasnya, O’Niell memutuskan berhenti menggunakan media sosial. Ia menghapus lebih dari 2.000 foto. Kemudian mengganti 96 deskripsi foto yang pernah ia unggah. Salah satunya, mengganti deskripsi pada foto berpakaian bikini menjadi sebuah satir. “Lihat bagaimana aku mengempiskan perut, memasang pose indah, dan menaikkan buah dadaku,” tulisnya menceritakan bagaimana foto-foto di Instagramnya dibuat.

“Aku hanya ingin anak-anak muda—terutama perempuan, tahu bagaimana dunia candid ini bekerja. Apakah keren atau menginspirasi. Ini adalah cara sempurna yang dibuat-buat untuk mendapat perhatian.” O’Niell merasa kehendak berlebih untuk mendapat perhatian akan membuat banyak remaja depresi.

Saya kira O’Niell bukanlah satu-satunya remaja yang ingin menarik perhatian publik, lewat media sosial. Di Indonesia, ada seorang remaja bernama Karin Novilda. Sebutannya di media sosial dikenal nama “Awkarin“. Popularitasnya bisa dibilang melebihi O’Niell. Awkarin memiliki akun Instagram dengan 1,6 juta pengikut.

Saya tidak pernah paham bagaimana Awkarin bertahan di media sosial. Padahal hampir tiap hari, mungkin ada ribuan orang yang melontarkan makian. Ia dicaci karena pakaian, ucapan, dan gaya hidup metropolitan yang diumbarnya sehari-hari. Dari semua caci maki yang diterima, Awkarin justru senang ketika namanya menjadi bahan pembicaraan publik. Ia pun mendapat peluang bisnis, hanya dengan mempromosikan merek busana di media sosial.

 

Jean M. Twenge, penulis buku Generation Me, pada 2006 meneliti sekitar 1,5 juta anak muda. Profesor di bidang psikologi di San Diego State University itu kecenderungan yang dialami oleh responden risetnya. Ia memaparkan, bahwa generasi muda saat ini cenderung memiliki rasa gengsi yang tinggi, kesulitan mengatasi dirinya sendiri, narsisme akut, dan keinginan setinggi langit. Meski demikian, Twange tidak memungkiri bahwa generasi milenial menganggap dirinya lebih penting dari generasi sebelumnya. Generasi ini juga lebih senang membantu orang lain.

Antara O’Niell dan Awkarin bagi saya adalah orang-orang yang mewakili generasi milenial. Media sosial membuat narsisme dan gengsi mereka semakin akut. Kemudian memasang ekspektasi setinggi langit. Namun berbeda dengan Awkarin, O’Niell akhirnya sadar.

“Media sosial … itu tidak nyata,” kata O’Niell. Kehidupan media sosial pada akhirnya, hanya sistem yang berbasis pembenaran publik, likes, bagaimana agar cara pandang kita diterima oleh banyak orang, dan mendapatkan banyak pengikut. “Ini adalah orkestra yang sempurna tentang bagaimana diri kita terhisap lubang bernama penghakiman. Aku telah masuk dalam lubang itu.”

Segala penghakiman dan pembenaran itu, barangkali juga menjadi alasan beberapa orang memilih tidak larut dalam media sosial. Rhett A. Butler, pendiri Mongabay pernah mengaku tidak aktif di media sosial. Lantas bagaimana ia berkomunikasi dengan banyak orang, serta menulis untuk mengembangkan dengan banyak media sains dan konservasi lingkungan, selama 18 tahun?

“Aku cukup efisien dalam menggunakan surat elektronik. Jadi begitulah metode yang paling aku sukai dalam berkomunikasi,” jelas Butler dalam sebuah wawancara. Baginya, pesan teks singkat atau beragam layanan perpesanan instan akan sangat mengganggu saat ia menulis. Ia biasanya bahkan tidak mengangkat panggilan telepon yang tidak direncanakan.

“Surat elektronik memungkinkan aku untuk membalas pesan sesuai dengan waktu yang tepat.”

Saya kira Butler sangat benar. Layanan perpesanan instan atau pesan singkat, pada satu titik bisa sangat mengganggu pekerjaan. Baik menulis maupun pekerjaan serupa. Membuat segalanya terasa semakin lebih cepat tanpa jeda. Sementara surat elektronik, semakin hari terdengar makin usang. Padahal berkat surat elektronik, saya bisa berkorespondensi dengan seorang mahasiswa asal China. Lalu akhirnya ia rutin mengirimi saya majalah digital seperti National Geographic, TIME, dan TheNewyorker, secara gratis.

Dalam waktu satu atau dua bulan ke depan, saya mungkin akan berhenti menggunakan media sosial dan layanan perpesanan instan. Bukan karena depresi seperti O’Niell, atau ingin menjadi seorang Butler, Tetpi agar punya lebih banyak waktu membaca buku, menulis di blog, dan tentu saja bisa lekas mulai menggarap skripsi. 😛

Tabik!