in Note

Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan bahwa pameran bertajuk “Singgah” ini, hanya akan menampilkan romantisme personal dari perupa. Romantisme atas kenangan dan omong kosong tentang perpisahan dengan kekasih, yang tidak pantas dipamerkan pada khalayak. Ibarat sentimen yang mendorong beberapa para penyair, untuk menulis puisi gelap—yang dihadiahkan untuk merayu perempuan.

Tapi sejak masuk ke ruang pameran, gambar-gambar yang dipajang seperti mengajak kita membaca sebuah buku sejarah. Tidak ada gambar-gambar obskur. Bayangan awal saya salah.

Pameran ini mengajak kita menyelami gagasan dari tiga orang perupa muda asal Jember. Mereka berusaha mengumpulkan kembali tiap babak dari persinggahan. Mereka coba mewujudkan persinggahan sebagai jeda antara pengulangan yang kepalang membosankan, tempat berpulang bagi waktu yang semakin gegas, perkara hidup yang fana, dan kuasa sebuah rezim untuk membunuh jutaan manusia.

Born Into Hearse — Ali Ashgar

Ali Asghar, melalui Born Into Hearse seperti ingin mengajak kita menyimak kembali kitab dan mitologi tentang kematian. Apakah kematian biologis seseorang adalah akhir dari kehidupan, atau kematian justru sebuah persiapan sebelum melakukan reinkarnasi?

Dua dari empat gambar Asghar mengajak kita berangan-angan, kematian akan mengantar pada sebuah singgasana. Manusia mungkin akan bermukim di tempat yang nyaman penuh ekstase. Agama-agama dari timur seperti Islam, Nasrani, dan Yahudi mungkin menyebutnya dengan nama surga. Namun bagaimana jika surga hanya bujuk rayu dibesarkan oleh rahim-rahim agama? Manusia mungkin hanya akan menghabiskan hari-hari setelah kematian di permukaan tanah, sambil membiarkan tubuhnya membusuk.

Di titik lain, Born Into Hearse bertendensi menyinggung bagaimana kekuasaan dihidupkan kembali setelah manusia mati. Ia mengingatkan saya pada monumen para diktator di Italia. Di kota Roma, kita bisa melihat bagaimana Benito Mussolini diabadikan lewat patung dan bangunan. Tidak hanya itu saja, pada 1922 Mussolini mulai giat mengabadikan ideologi fasisme di tempat publik, hingga poster-poster di ruang kerja dan kamar mandi. Ruth Ben-Ghiat, seorang profesor sejarah dan kajian Italia menyebut fenomena ini sebagai ideologi fasisme yang telah mengkolonialisasi ruang publik.

Selain Asghar, Elmi Aulia Bayu melalui Perihal Ketakutan juga memiliki semangat menjadi antiklise. Ia tidak lagi menafsirkan “singgah” sebagai pemberhentian yang bersifat sementara. Bukan juga perkara kehadiran atau kepergian yang cukup ringkih untuk disimpan dalam ingatan.

Kita bisa melihat potret seorang jenderal bintang tiga berseragam kumal pada Perihal Ketakutan, dengan sepasang bola mata yang telah dicongkel sampai jatuh. Ia barangkali seorang jenderal yang tewas pada tragedi 30 Semptember 1965, sebagai paragraf kecil dari skenario kebohongan Orde Baru atas pembunuhan 7 jenderal di Lubang Buaya. Namun lencana bertuliskan “ENAM PULUH LIMA” di seragamnya mungkin menyiratkan maksud lain; penghargaan untuk seorang jenderal, yang memutuskan untuk mempekerjakan anggota partai dan gerakan kiri di Jawa Barat selama puluhan tahun secara paksa—ketimbang membunuhnya.

Namun siapa yang dapat memastikan kebenarannya? Sebab teks sejarah 30 September 1965 di Indonesia telah menjadi luka yang terus ditutup-tutupi. Rezim Orde Baru telah berhasil menutup luka itu dengan sebuah tabir hitam, hingga nalar anak-anak di bangku sekolah formal akan semakin sulit menyingkap kebenarannya. Ia catatan kejahatan yang sepatutnya dibakar habis. Lewat potret jenderal ini, Elmi menjadikan sejarah sebagai memori kolektif yang mewariskan trauma.

Perasaan trauma itu juga muncul jelas sorot mata nanar seorang laki-laki gundul. Sorot mata yang marah dan menghakimi.

 

Perihal Ketakutan — Elmi Aulia Bayu

Perihal Ketakutan — Elmi Aulia Bayu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika Ashgar berusaha menawarkan potret kekuasaan, Elmi berusaha menggambar trauma dari jejak kaki sejarah, Dimas Feliawan melalui Sekat justru menyajikan pola pikir yang lain. Ia berusaha menjadikan ‘singgah’ sebagai narasi yang dibangun, “dengan kumpulan garis dan ratusan titik.”

Saya melihatnya sebagai upaya untuk mengembalikan karya pada makna awalnya. Kita mungkin sering lupa bahwa sebuah coretan garis dari pensil di atas kertas, dibangun oleh ratusan atau mungkin ribuan titik, yang tidak mampu direkam oleh bola mata. Kemudian foto dan video di layar monitor, adalah proyeksi ratusan titik dengan kombinasi beberapa warna dasar.

Sayangnya, motif awal tersebut nyaris tidak punya kaitan teknikal dengan gambar dalam karya Dimas. Tapi mari kita melihat lebih jeli karya Dimas, sebelum membuat kesimpulan. Sekat menawarkan simbol-simbol kemasonan, perang pasukan Templar, dan sebuah pedang seorang algojo dari abad 17 di Eropa.

Jika ditarik sebuah benang merah, Sekat ingin menawarkan gagasan, bahwa segala kejayaan dibangun oleh jutaan titik darah, keringat, dan nyawa manusia. Anggapan ini tentu berlawanan dengan pandangan umum, bahwa sebuah kemenangan atau kejayaan rezim adalah hasil jerih payah penguasa dan sosok sentral yang heroik. Meminjam istilah Dimas, sebuah garis dibentuk dari ratusan atau mungkin jutaan titik. Begitu pula dengan kerajaan atau negara.

Sekat — Dimas Feliawan

Pameran Singgah tidak mengikat karya dengan sebuah tema spesifik. Oleh sebab itu, Asghar, Elmi, dan Dimas memiliki keluwesan tersendiri dalam menggunakan teknik dan mengembangkan gagasan. Teknik dan gagasan mereka tentu dipengaruhi oleh kebiasaan, memori,  dan pengalaman personal mereka.

Salah satu benang merah yang menghubungkan antara karya Asghar, Elmi, serta Dimas—yang cukup mudah saya tangkap— adalah narasi atas manusia dan kekuasaan. Ashgar menggunakan kursi sebagai lambang kekuasaan. Elmi menjadikan baju seragam yang mewakili pencapaian sebuah jabatan. Sementara Dimas membuat gambaran tentang perang dan pertumpahan darah yang diatur oleh penguasa untuk menyalurkan hasrat hewani mereka: memangsa dan menaklukkan.

Terlepas dari karya-karya tersebut, “Singgah” adalah ruang kecil bagi perupa muda asal Jember untuk menginkubasi dan bertukar pikir gagasan atas karya mereka, dengan pengunjung pameran. Selebihnya saya pikir, pameran ini adalah upaya untuk melupakan glorifikasi personal yang berlebihan.

Tabik!