Menulis untuk Melawan Diskriminasi

Di Indonesia, Bulan Ramadan rupanya tak hanya ramai oleh suara petasan dan kembang api. Banyak juga aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu. Hingga ramai menjadi bahan pembicaraan di ruang publik. Namun di balik semua keriuhan itu, sekelompok anak muda dari Jember memberi respon dengan mengadakan sebuah kegiatan yang berbeda.

Salah Masuk Pintu Busway

… Bau wangi parfum perempuan yang baru berdiri di samping saya mulai tercium, bergantian dengan udara dingin dari dalam busway. Mata perempuan itu melirik ke arah saya. Tangan kanannya menutup hidung. Mulutnya mulai bergumam.

“Jangan-jangan saya tadi masuk lewat pintu khusus perempuan,” pikir saya mulai cemas. Dahi saya mulai berkeringat dingin. Sekitar lima belas menit perjalanan itu. Saya tak banyak bergerak…

Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf

Diskusi ini berlangsung hingga sekitar pukul sebelas malam. Hingga akhir diskusi, moderator tak menarik satu kesimpulan yang membatasi perspektif peserta. Diskusi berlanjut dengan obrolan kecil, soal pengalaman pribadi seorang peserta dan kegagalannya dalam mencintai, hingga soal pengalaman cinta seorang santri pada kiainya.
Tiga Hari Bicara Jurnalisme Keberagaman

Kami menulis soal usaha Flobamora Bali dalam menjaga kerukunan masyarakat pendatang asal NTT dengan warga Bali. Hasil liputan dan tulisan kami kemudian dipresentasikan saat akhir acara. Peserta lain memberi komentar dan tanggapan atas hasil kerja kami.

Menikmati Kopi di Pinggir Bengawan Solo
Kota Gresik identik dengan dua hal: makam para sunan dan kawasan industrinya. Selain dua identitas itu, sebetulnya masyarakat daerah ini juga lekat dengan aktivitas minum kopi.
Selamat Tinggal Apple Music, Inilah Indonesia

Akhir Maret lalu, The Verge melaporkan Spotify telah mendapat sebanyak 30 juta pengguna fitur berbayar. Sementara pengguna berbayar Apple Music masih berkutat pada angka 10 juta pengguna.

Barangkali Apple perlu bekerja lebih keras untuk mewujudkan visinya. Bahwa musik memang disukai semua orang di penjuru dunia, tetapi bukan musik yang dibanderol dengan harga mahal.

Pengetahuan mutakhir tentang hal-hal imut

KUMAMON, sebuah karakter kartun berbentuk beruang yang awalnya dibuat untuk promosi pariwisata di sebuah daerah di Jepang, kini menjadi fenomena bernilai miliaran dolar. Saat ini, sebuah pendekatan akademik sedang mencoba untuk mencari jawaban yang tepat tentang apa yang membuat suatu hal terlihat imut—dan mengapa kita tidak bisa menolaknya.