Anti Dangdut dan Bibit Fasis

Orang kampung juga melawan pangggung politik lewat musik dangdut

PENGALAMAN beberapa teman saya dalam mendengar musik dangdut cukup menarik. Respon mereka saat bersinggungan dengan musik peranakan tradisi melayu ini, sangat beragam. Ada yang meletakkan musik sebagai jejak historis sebuah rezim dan senjata politik. Sehingga musik dangdut selalu identik dengan panggung hiburan politik di daerah kecil. Bahkan ada pula yang memiliki trauma psikis saat mendengarnya, akhirnya jadi anti-dangdut.

Saya mengenal musik dangdut sejak kecil di kampung. Kebetulan Pak Rochis, tetangga saya yang berprofesi sebagai sopir mobil bak, punya sebuah radio. Lelaki berkumis tebal itu nyaris tak pernah absen menyimak kanal siaran dangdut di radio tiap siang hari saat pulang sekolah, hingga sore hari saat anak-anak seumuran saya main layang-layang di lapangan dekat rumah Pak Rochis. Continue reading “Anti Dangdut dan Bibit Fasis”

Kus Nandar dan Efek Rumah Kaca

Saya baru beranjak dari tempat duduk, menggendong tas ransel, lalu bersiap untuk pamit lebih awal. Saya terlanjur punya janji untuk berkumpul dengan beberapa teman kuliah untuk membahas salah satu tugas kampus, bergeser tempat duduk ke warung kopi lain.

Sebagian teman saya masih ingin duduk di Warung Buleck. Maklum, saat petang seperti itu beberapa bangku nampak lebih lenggang dari sebelumnya. Suasana lebih hening.

Seorang lelaki datang saat saya berdiri dan bersiap pergi. Ia berjalan mendekati satu meja ke meja lainnya, mengambil gelas kopi yang tinggal tersisa ampas di dalamnya. Sekali ambil, jari-jari tangannya mampu mengapit lima hingga enam gelas. Jika tangannya sudah genap mengapit gelas itu, ia berjalan menuju tempat pencucian gelas, meletakkannya secara hati-hati. Ia khawatir bila ada gelas yang terjatuh. Tapi gerak tangannya tak nampak ragu. Kedua tangannya begitu cekatan mengambil gelas-gelas di meja. Continue reading “Kus Nandar dan Efek Rumah Kaca”

Perjalanan Syarif dan Musik Metal

SORE hari di Warung Bulek adalah sebuah sakralitas. Bagaimana deretan meja persegi panjang di ruang depan penuh sesak oleh mahasiswa, dosen, pedagang bakwan keliling, pegawai bank, sales, hingga petugas kebersihan. Mereka duduk untuk saling bercakap, memutar musik, atau hanya sekadar menunggu gelap.

Ada tiga meja berukuran persegi panjang berajar di bagian depan Warung Buleck, tiga di bagian samping, dan empat meja di bagian belakang. Totalnya ada sebelas meja. Saya tiba di warung itu sekitar pukul lima sore, menyusul beberapa orang teman yang sudah tiba lebih dulu. Mereka duduk di bangku belakang Warung Bulek. Meja yang paling lenggang. Continue reading “Perjalanan Syarif dan Musik Metal”

Saya dan Musik Latah

Saya tak ingat betul kapan tepatnya telinga saya mulai akrab dengan alunan musik Iwan Fals. Mungkin sejak ayah saya mempunyai tape player, sekitar tahun 1995-an. Lalu di salah satu sudut rumah, ada sebuah rak kayu berisi deretan kaset pita album musik, bersampul pria berambut Hi Top Fade, mengenakan busana mixed-up. Sebagian lainya bejajar kaset pita album qasidah.

Mungkin saya mulai menggandrungi lantunan lagu Iwan Fals seusai menonton konsernya, dengan tagline “Perjalanan Spiritual Bersama Ki Ageng Ganjur” secara langsung, sekitar tahun 2013. Saya tak ingat betul.

Pertunjukan musik itu memang sedikit berbeda. Penonton tak dipatok tiket masuk area konser. Alasan itu kemudian membuat saya dan seorang tetangga saya antusias untuk datang melihat sosok Iwan Fals secara live. Saya datang sedikit terlambat. Iwan sedang menyanyikan lagu keduanya malam itu, Si Budi Kecil. Continue reading “Saya dan Musik Latah”