Melihat komposisi kursi Dewan Perwakilan Rakyat di Gresik

Kapan hari saya mendengar bagaimana persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Gresik, dari sepupu saya. Ia memang bukan simpatisan pasangan calon kepala daerah maupun partai politik. Namun sebagian besar teman sekolahnya dulu, ikut menjadi tim sukses pasangan calon Kepala Daerah Gresik.

Saya kurang begitu aktif mengikuti isu politik di Gresik, meskipun sudah lebih dari 20 tahun saya hidup di Gresik. Praktis, saya lebih banyak mendengarkan saat sepupu saya bercerita tentang masa persiapan Pilkada.

Fokus bahasan kami malam itu awalnya memang soal Pilkada. Namun lama-kelamaan sepupu saya juga membahas soal Pemilihan Legislatif yang berlangsung pada pertengahan 2019 kemarin. Ini yang membuat saya sedikit pusing, karena saya tidak paham betul dengan peta politik di Gresik.

Kalau ditanya partai apa saja yang punya jatah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gresik, saya tentu tidak tahu sama sekali. Jika dipaksa menjawab, bisa saya jawab asal-asalan saja.

Misalnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Tebakan ini tentu dengan dasar sederhana, nama ketiga partai tersebut cukup sering saya dengar dari tetangga yang suka bicara politik.

Daripada hanya menebak, saya punya ide untuk mencatat bagaimana komposisi anggota DPRD Gresik berdasarkan partai politik yang mengusung mereka.

Sumber rujukan pertama saya tentu situs web resmi DPRD Gresik yang berada di alamat https://dprd.gresikkab.go.id. Sayangnya situs web DPRD Gresik tidak bisa diakses, karena sedang perbaikan–yang entah sampai kapan.

Setelah mencari di sejumlah sumber rujukan, saya lantas mengumpulkan data anggota DPRD Gresik, dalam sebuah tabel Excel sederhana. Selanjutnya saya unggah data tersebut ke Flourish Studio, agar bisa mendapat tampilan visual dari tabel Excel tadi.

Kira-kira beginilah komposisi anggota DPRD di Gresik:

Sebagai catatan, ada 50 kursi yang diperebutkan oleh partai politik di Gresik. Siapa saja yang bisa menduduki kursi tersebut, dipilih langsung oleh warga Gresik yang memiliki hak pemilihan suara dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Warga yang memiliki hak pemilihan kemudian dicatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Total DPT Gresik pada Pileg 2019 kemarin tercatat sebanyak 927.045 orang. Maka kira-kira setiap anggota DPRD Gresik yang terpilih dalam Pileg ini, mewakili sekitar 18.500 suara pemilih selama 2019-2024.

Pada periode 2014-2019, Golkar memiliki anggota terbanyak di DPRD Gresik, dengan total perolehan 11 kursi. PKB berada di peringkat kedua dengan total perolehan 8 kursi, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di urutan ketiga dengan total perolehan 7 kursi.

Komposisi partai di kursi DPRD Gresik berubah pada periode 2019-2024. Golkar tidak lagi menjadi partai dengan perolehan kursi terbanyak. Setelah PKB mendapat tambahan 5 kursi pada Pileg 2019, total kursi yang dimiliki PKB di periode ini menjadi 13 kursi.

Di peringkat kedua ada Gerindra dan Golkar, dengan perolehan masing-masing 8 kursi. Namun dibandingkan periode sebelumnya, Gerindra mendapat 2 kursi tambahan. Sedangkan Golkar kehilangan 3 kursi dari periode sebelumnya.

Nasdem menempati peringkat ketiga dengan total perolehan 5 kursi di DPRD Gresik. Perolehan Nasdem jauh lebih tinggi dari periode 2014-2019, di mana partai ketiga terbesar di Indonesia ini, hanya memperoleh 1 kursi.

Tebakan saya sebelumnya tidak 100% benar. PKB memang masuk ke dalam daftar partai dengan kepemilikan kursi terbanyak selama 2 periode terakhir. Namun PAN hanya punya 3 kursi pada periode 2019-2024 dan PBB tidak memiliki 1 pun kursi di DPRD Gresik.

Barangkali akan menarik, jika data ini disandingkan dengan tingkat dukungan partai dalam Pilkada 2010 dan 2016. Apakah komposisi partai di DPR Gresik berbanding lurus dengan dukungan partai politik kepada pasangan calon Kepala Daerah Gresik, yang memenangkan Pilkada pada 2010 dan 2016 lalu. (*)

Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan bahwa pameran bertajuk “Singgah” ini, hanya akan menampilkan romantisme personal dari perupa. Romantisme atas kenangan dan omong kosong tentang perpisahan dengan kekasih, yang tidak pantas dipamerkan pada khalayak. Ibarat sentimen yang mendorong beberapa para penyair, untuk menulis puisi gelap—yang dihadiahkan untuk merayu perempuan.

Tapi sejak masuk ke ruang pameran, gambar-gambar yang dipajang seperti mengajak kita membaca sebuah buku sejarah. Tidak ada gambar-gambar obskur. Bayangan awal saya salah.

Continue reading “Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal”

Mitos Penyair yang Menulis Cerpen

Pada kisah terakhir dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya pembaca mungkin akan terkejut. Bahwa sebuah cerita pendek pada satu komposisi tertentu akan menguras waktu pembacanya. Ia tidak mau dibaca dalam waktu sekali duduk. Sebab penulis sepertinya sengaja meramu tiap lapis cerita dengan koleksi kepanikan, yang dikumpulkan sepanjang persinggahannya dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya mungkin satu dari sekian banyak pembaca yang mengira Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya, lebih mirip puisi prosais. Ada cerita yang ditulis di luar kesepahaman umum sebuah cerpen, alih-alih dilabeli sebagai cerpen.

Ignas Kleden pernah menulis esai tentang penyair yang menulis cerpen. Baginya, tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerpen. Sekalipun memang ada penyair yang menulis cerpen, namun namanya sebagai cerpenis tidak cukup terkenal. Sitor Situmorang lebih dikenal sebagai penyair yang menulis Malam Lebaran. Begitu pula dengan Goenawan Mohammad yang menulis Asmaradana, dan Sapardi Djoko Damono yang menulis Hujan Bulan Juni. Meski Sapardi akhirnya menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, Pengarang Telah Mati, tidak lama setelah esai Kleden terbit di Horizon pada Juni 2001.

Menjadi sebuah catatan penting pula ketika seorang penyair menulis cerpen. Karena penyair umumnya tidak hanya mereproduksi kata-kata dan bahasa, tetapi ia juga mereproduksi makna yang menolak menjadi absolut. Penyair menawarkan sifat puitis. Menghadirkan kata-kata yang tidak hanya menjadi kapal barang pengangkut konsensus bahasa. Misalnya pada satu nukilan cerpen Hujan yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri.

Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Hujan bukanlah sekedar gemertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha hujan adalah ucapan mededahkan sastra, nyanyi, musik dan tari.

Kleden menyebut cerpen tersebut maknanya sangat kuat, tanpa peduli makna-teks atau peristiwa di baliknya. Pada kumpulan cerpen Halim Bahris, tiap teks yang disusun memang tidak sekuat cerpen Hujan yang ditulis Sutardji. Mungkin Halim tidak sepenuhnya mengamini kredo Sutardji yang menyebut kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, atau dari beban idea. Tetapi Halim memadukan makna prosais yang bergantung pada peristiwa dan referensi, dengan makna puitis yang menjadikan kata secara aktif menciptakan maknanya sendiri.

Dari bingkai jendela; Semarang menjauh serupa langit yang rebah, menjadi jutaan kunang-kunang yang seluruhnya putih. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Kolektor Mitos adalah cerpen Halim yang paling prosais, selain juga Mutan. Bagian terpentingnya adalah perpaduan antara sifat prosais dan puitis dalam kumpulan cerpen ini. Pada cerita paling prosais pun Halim masih berusaha menyusupkan sifat puitis menjadi narasi. Menjadi prosais karena dalam kedua cerpen tersebut, Halim akhirnya banyak merangkai kalimat-kalimat pendek dan aktif. Sehingga pembaca pun dapat dengan mudah terhubung dengan jaringan referensi yang dibangun pengarang. Memudahkan pembaca dalam membayangkan adegan dan dialog. Berbeda dengan cerpen-cerpen Halim lainnya: dibanjiri kalimat-kalimat panjang.

Tangan Adin gemetaran memegangi genta itu. Seolah bisa ia rasakan sisa-sisa jeritan dan deret adegan pembunuhan. Saat melintasi jalanan kota lama, kata Adin, genta tersebut seperti menangis. Ia mengelusnya. Aku yang dimintanya jadi sopir, menahan tawa. Tapi akhirnya gagal. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Perpaduan antara sifat puitis dan prosais dalam Kolektor Mitos dan Mutan, membuat pembaca lepas dari belenggu bank referensi pengarang. Sebab seluruh cerpen bercerita tentang tubuh kita sendiri, seperti disebut Irsyad Zaki. Pembaca bebas menggunakan referensi mereka sendiri. Seperti pembaca puisi.

Saya mulai curiga bahwa bentuk-bentuk cerita yang disajikan dalam kumpulan cerpen pertama Halim, adalah pengaruh dari jalan dan laku kepenyairan yang ia tempuh. Ketekunan membaca puisi gelap. Hingga belakangan Halim disebut sebagai Afrizalian. Sayangnya tidak ada satu pun ‘cerpen gelap’ hari ini.

Pada cerita Sebuah Makam dalam Cahaya, tubuh yang dinarasikan adalah tubuh pembaca. Ada banyak peristiwa yang saya kira sangat dekat dengan kebanyakan pembaca: tidur, bangun, dan bermimpi. Serta persoalan organ tubuh yang digantikan teknologi. Cara berbicara manusia dengan mesin pencarian di internet, cara berjalan dengan roda, dan mata yang disibukkan dengan layar monitor.

Pasukan liliput serupa tentara dengan cepat memenuhi kasur, menggerigi tubuh Jilan di sana-sini. Bergegas tubuhnya menjelma laboratorium yang sangat sibuk. Mereka merakit ulang tubuh Jilan. Jari-jari tangannya digantikan dengan keyword. Pada kakinya dipasangkan roda. Matanya telah dirombak mirip layar monitor. Dalam kedua rongga lingganya dibangun miniatur menara penangkap sinyal. Mulutnya disumpal potongan daging kelamin. Kepalanya menjelma mesin yang belum selesai dirakit. (Sebuah Makam dalam Cahaya, halaman 1)

Ihwal sifat puitis dan prosais memang bisa jadi sangat subyektif. Tetapi mengasosiasikan sebuah momen saat perempuan dalam pikiran kita sedang dalam masa kritis, dengan kejadian listrik padam di tempat cukur, adalah hal yang sangat sederhana. Tentu saja karena setiap pembaca memiliki referensi berbeda dengan kejadian listrik padam di tempat cukur.

Tiba-tiba denyut jantung perempuan itu tak bisa ia dengar, seperti kejadian listrik padam di tempat cukur. Bisikan kembali menggentayangi telinganya: “Namaku, Kematian. Saudara kembarmu.” Pejam matanya seketika meledak. (Perempuan yang Diutus Kematian, halaman 55)

Penggalan dari cerpen Perempuan yang Diutus Kematian dan beberapa cerpen yang serupa, saya kira adalah satu hal yang ingin dibuktikan Halim. Bahwa sifat puitis tidak selalu mengalir dari kata-kata indah. Sebaliknya, ia bisa hadir dari memori sederhana tentang keseharian yang terlalu sering disepelekan. Meski cerpen seperti 20 Tahun dalam Curam Kenangan dan Lelampak Lendong Kao akhirnya mendapat sentuhan teenlit yang cukup menjengkelkan.

Akhirnya, Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya adalah kumpulan kisah perlu dibaca untuk memperlambat keseharian yang semakin gegas.

Distraksi

“Sometimes antisocial but always antifacis” by Börkur Sigurbjörnsson is licensed under CC BY 2.0

Kehidupan media sosial pada akhirnya, hanya sistem yang berbasis pembenaran publik, likes, bagaimana agar cara pandang kita diterima oleh banyak orang, dan mendapatkan banyak pengikut.

ESSENA O’NIELL, seorang remaja asal Australia baru berusia 19 tahun. Seperti kebanyakan teman sebayanya, ia menggunakan Instagram. Ia sering mengunggah gambar dirinya mengenakan blouse, gaun, atau bikini. Ia bisa mendapat ribuan komentar, atau bahkan puluhan ribu likes dari pengikutnya. Akun Instagram O’Neill, pada akhir 2015, memiliki lebih dari setengah juta pengikut.

Continue reading “Distraksi”

Mesin Pengarsip Internet

Lukisan O. Von Corven, "The Great Library of Alexandria" yang dibuat pada abad 19 masehi.

ADRIENNE LAFRANCE, kolumnis majalah The Atlantic untuk isu teknologi, pernah menulis soal bagaimana data-data yang tersimpan di internet sangat rentan hilang. Salah satunya adalah situs web. Ia menyebutnya sebagai phantasmagoria. Bias yang mengaburkan antara kenyataan dan khayalan. Menjadi kenyataan saat seseorang mengira jutaan teks hingga gambar gerak pada sebuah situs web sebagai yang nyata, padahal tak lebih dari baris-baris kode yang diolah mesin penjelajah.

Informasi berbasis data digital memang punya banyak keunggulan. Misalnya jutaan naskah buku tidak menutup kemungkinan bisa dibaca oleh manusia saja, tetapi juga mesin. Tak hanya membaca tetapi juga menyortir data dan menganalisisnya. Ia bisa disebarluaskan secara mudah. Tanpa harus melipatgandakan ongkos produksi kertas, tinta, dan percetakan. Namun ada pengecualian. Jika data-data itu hilang, maka akan hilang selamanya.

“Jika 34 seri laporan investigasi finalis penghargaan Pulitzer bisa hilang,” kata Lafrance. “Segalanya tentu bisa hilang juga di internet.”

Continue reading “Mesin Pengarsip Internet”