Kalap

COLLECTIE TROPENMUSEUM Een brug over de rivier Solo bij Tjepoe Oost Java

HANTU pada masa kecil saya adalah hal yang membuat takut. Ibarat musuh yang harus diperangi. Di satu sisi juga selalu berhasil membuat penasaran.

Sebagian besar ingatan saya tentang hantu, dibangun oleh cerita teman dan kerabat saya. Saat kecil, ibu melarang saya bermain di dekat aliran Sungai Bengawan Solo. Padahal jaraknya tak lebih dari setengah kilometer dari rumah. Ibu mungkin kawatir anaknya diculik kalap, sebangsa jin yang menyamar jadi seseorang yang kita kenal lalu menculik anak-anak di siang hari. Telapak kakinya serupa bebek, kata ibu menggambarkan. Continue reading “Kalap”

Jatuh

SAYA akhirnya merasakan pengalaman itu kembali. Jatuh dari motor saat melintasi perempatan di tengah kota. Jatuh saat mengendarai motor sudah lama tak saya alami. Terakhir kali jatuh dari motor di tengah kota, ketika masih kelas dua SMA. Badan plastik motor remuk pada sisi kirinya. Tutup mesin di dekat perseneling motornya menganga. Oli mesin meluber ke permukaan jalan. Teman sekolah saya panik, pasrah, sekaligus bingung.

Sebelum akhirnya melapor ke kantor polisi terdekat, lalu membayar tilang karena menabrak plastik pembatas jalan di Surabaya saat itu. Lalu memasang muka tak berdosa saat mendengar polisi mengomel hingga sejam lamanya, sambil menahan ngilu di pergelangan kaki yang terkilir dan jempol kaki yang berdarah. Beruntung Rabu malam kemarin, saat sebuah mobil Panther menabrak motor saya tak berujung pada darah ataupun luka yang cukup parah. Juga tak ada polisi minta uang tilang. Continue reading “Jatuh”

Kus Nandar dan Efek Rumah Kaca

Saya baru beranjak dari tempat duduk, menggendong tas ransel, lalu bersiap untuk pamit lebih awal. Saya terlanjur punya janji untuk berkumpul dengan beberapa teman kuliah untuk membahas salah satu tugas kampus, bergeser tempat duduk ke warung kopi lain.

Sebagian teman saya masih ingin duduk di Warung Buleck. Maklum, saat petang seperti itu beberapa bangku nampak lebih lenggang dari sebelumnya. Suasana lebih hening.

Seorang lelaki datang saat saya berdiri dan bersiap pergi. Ia berjalan mendekati satu meja ke meja lainnya, mengambil gelas kopi yang tinggal tersisa ampas di dalamnya. Sekali ambil, jari-jari tangannya mampu mengapit lima hingga enam gelas. Jika tangannya sudah genap mengapit gelas itu, ia berjalan menuju tempat pencucian gelas, meletakkannya secara hati-hati. Ia khawatir bila ada gelas yang terjatuh. Tapi gerak tangannya tak nampak ragu. Kedua tangannya begitu cekatan mengambil gelas-gelas di meja. Continue reading “Kus Nandar dan Efek Rumah Kaca”

Perjalanan Syarif dan Musik Metal

SORE hari di Warung Bulek adalah sebuah sakralitas. Bagaimana deretan meja persegi panjang di ruang depan penuh sesak oleh mahasiswa, dosen, pedagang bakwan keliling, pegawai bank, sales, hingga petugas kebersihan. Mereka duduk untuk saling bercakap, memutar musik, atau hanya sekadar menunggu gelap.

Ada tiga meja berukuran persegi panjang berajar di bagian depan Warung Buleck, tiga di bagian samping, dan empat meja di bagian belakang. Totalnya ada sebelas meja. Saya tiba di warung itu sekitar pukul lima sore, menyusul beberapa orang teman yang sudah tiba lebih dulu. Mereka duduk di bangku belakang Warung Bulek. Meja yang paling lenggang. Continue reading “Perjalanan Syarif dan Musik Metal”

Saya dan Musik Latah

Saya tak ingat betul kapan tepatnya telinga saya mulai akrab dengan alunan musik Iwan Fals. Mungkin sejak ayah saya mempunyai tape player, sekitar tahun 1995-an. Lalu di salah satu sudut rumah, ada sebuah rak kayu berisi deretan kaset pita album musik, bersampul pria berambut Hi Top Fade, mengenakan busana mixed-up. Sebagian lainya bejajar kaset pita album qasidah.

Mungkin saya mulai menggandrungi lantunan lagu Iwan Fals seusai menonton konsernya, dengan tagline “Perjalanan Spiritual Bersama Ki Ageng Ganjur” secara langsung, sekitar tahun 2013. Saya tak ingat betul.

Pertunjukan musik itu memang sedikit berbeda. Penonton tak dipatok tiket masuk area konser. Alasan itu kemudian membuat saya dan seorang tetangga saya antusias untuk datang melihat sosok Iwan Fals secara live. Saya datang sedikit terlambat. Iwan sedang menyanyikan lagu keduanya malam itu, Si Budi Kecil. Continue reading “Saya dan Musik Latah”