Mereka yang Menunggu

Kisah ini bukanlah  tentang mereka yang menunggu sebuah kematian seperti dalam karya foto Kevin Carter. Waiting For The Meal, begitulah sebuah adegan dramatis dikenal luas oleh publik. Sebuah pemandangan yang berkisah tentang  seorang anak kecil merangkak dengan sangat lamban menuju kamp makanan di sebuah daerah di Sudan pada tahun 1993. Di belakangnya, seekor burung bangkai bergerak pelan menanti kematian anak kecil di tengah luasnya tanah tandus.

Namun ini hanyalah sekadar kisah deretan raut wajah manusia yang bercampur letih dan cemas. Stasiun Kereta Api Lempuyangan malam itu menjadi persinggahan mereka dari Yogyakarta menuju Purwokerto, Bandung, Madiun, Jombang, Mojokerto, dan kota lainnya. Namun di antara wajah penat tersebut, ada pula yang sambil berdiri melepas tawa, mengabadikan diri dengan sebuah kamera ponsel, dan lain sebagainya saat menuggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya.

Continue reading “Mereka yang Menunggu”

Nasionalisme Kita

TUJUH BELAS AGUSTUS. Saya selalui menjumpai orang-orang membuat sebuah perayaan. Perayaan yang sama, dan selalu sama pada setiap tahun. Saya melihat, bagaimana seorang anak kecil, dengan segenap kepolosannya, berlomba memakan kerupuk yang digantung pada sebuah tali rafia. Kemudian, sekelompok pemuda bergantian naik ke pucuk pohon bambu, demi mendapatkan beberapa bungkus hadiah. Orang-orang ramai berdatangan, untuk menonton perlombaan. Mereka bersorak-sorai memberi semangat. Tanpa peduli malam semakin larut. Suasana pun menjadi ramai.

Seperti anak-anak kecil pada umumnya, saya selalu penasaran dengan lomba-lomba seperti itu. Di sekolah dasar, berulang kali saya coba ikuti lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan lain sebagainya. Permainan-permainan itu, menguji ketangkasan dan kegigihan. Seperti yang para pahlawan lakukan untuk merebut ‘kemerdekaan’ dari tangan penjajah, kata guru saya.

Saya lantas percaya bahwa itulah kemerdekaan. Ketika kita bisa mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa. Lalu mengadakan atau mengikuti perayaan dan perlombaan untuk merayakan bulan kemerdekaan, Agustus. Saya hanya bisa mengamininya. Tanpa mencari benar atau tidaknya gagasan orang lain.. Sebagai seorang anak kecil, saya tak memiliki dasar berpikir yang logis. Saya sama sekali tak mengenal logika. Orangtua dan guru sekolah saya tidak pernah mengajarkan filsafat. Mereka melarang saya belajar filsafat. Bagi mereka filsafat bisa membuat orang sesat dalam beragama.

Continue reading “Nasionalisme Kita”

Kopi dan Strata Sosial

Malam itu gerimis turun perlahan. Udara kota Jember terasa semakin dingin. Namun, riuh suara kendaraan di jalan raya masih ramai seperti biasa. Kebetulan waktu itu saya sedang ingin menghabiskan malam dengan menikmati segelas wedang jahe panas.

Akhirnya saya mengajak kawan saya untuk pergi ke warung kecil di Jalan Pandjaitan, Jember. Letaknya hanya beberapa meter dari perempatan lampu merah yang menghubungkan Jalan Sumatera, Jalan Pandjaitan, dan Gladak Kembar.

Mulanya saya dan kawan saya ngobrol santai dengan saling melontarkan lelucon kecil tentang apa yang kami lihat disekitar. Suara bising kendaraan bermotor yang lalu-lalang, remaja-remaja yang pacaran hingga larut malam, juga anak-anak kecil yang berjalan bergerombol dengan sebatang rokok di tangan. Semuanya terlontar dengan nada jenaka.

Kemudian mata saya tanpa sengaja tertuju pada sebuah bangunan kecil diantara deretan pertokoan di seberang jalan. Ada sebuah spanduk berukuran 1×2 meter bertuliskan sekretariat sebuah partai politik. Nama partai tersebut tidak begitu familiar di telinga saya.

Continue reading “Kopi dan Strata Sosial”

Mengaksara

Terkadang, saya kagum pada orang-orang yang begitu cakap dalam berbicara. Menyampaikan maksud dan pesan kepada oranglain. Dengan pilihan kata yang cukup memikat.

Seseorang biasanya begitu berhati-hati dalam bertutur. Ada begitu banyak diksi yang dipilih dengan segala pertimbangannya. Tentu sesuai dengan kondisi dan suasana. Barangkali itulah tantangannya, memilih diksi kemudian merangkainya menjadi sebuah tulisan yang ‘apik’.

Bagi saya, menulis adalah cara sederhana untuk menata diri. Merangkai gagasan. Menyampaikan pesan. Sederhana, dan mungkin paling mudah. Itulah salah satu alasan mengapa saya ingin belajar menulis. Kemudian mengarsip sekaligus mempublikasikannya dalam media ini, blog.

Continue reading “Mengaksara”