Mitos Penyair yang Menulis Cerpen

Pada kisah terakhir dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya pembaca mungkin akan terkejut. Bahwa sebuah cerita pendek pada satu komposisi tertentu akan menguras waktu pembacanya. Ia tidak mau dibaca dalam waktu sekali duduk. Sebab penulis sepertinya sengaja meramu tiap lapis cerita dengan koleksi kepanikan, yang dikumpulkan sepanjang persinggahannya dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya mungkin satu dari sekian banyak pembaca yang mengira Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya, lebih mirip puisi prosais. Ada cerita yang ditulis di luar kesepahaman umum sebuah cerpen, alih-alih dilabeli sebagai cerpen.

Ignas Kleden pernah menulis esai tentang penyair yang menulis cerpen. Baginya, tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerpen. Sekalipun memang ada penyair yang menulis cerpen, namun namanya sebagai cerpenis tidak cukup terkenal. Sitor Situmorang lebih dikenal sebagai penyair yang menulis Malam Lebaran. Begitu pula dengan Goenawan Mohammad yang menulis Asmaradana, dan Sapardi Djoko Damono yang menulis Hujan Bulan Juni. Meski Sapardi akhirnya menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, Pengarang Telah Mati, tidak lama setelah esai Kleden terbit di Horizon pada Juni 2001.

Menjadi sebuah catatan penting pula ketika seorang penyair menulis cerpen. Karena penyair umumnya tidak hanya mereproduksi kata-kata dan bahasa, tetapi ia juga mereproduksi makna yang menolak menjadi absolut. Penyair menawarkan sifat puitis. Menghadirkan kata-kata yang tidak hanya menjadi kapal barang pengangkut konsensus bahasa. Misalnya pada satu nukilan cerpen Hujan yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri.

Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Hujan bukanlah sekedar gemertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha hujan adalah ucapan mededahkan sastra, nyanyi, musik dan tari.

Kleden menyebut cerpen tersebut maknanya sangat kuat, tanpa peduli makna-teks atau peristiwa di baliknya. Pada kumpulan cerpen Halim Bahris, tiap teks yang disusun memang tidak sekuat cerpen Hujan yang ditulis Sutardji. Mungkin Halim tidak sepenuhnya mengamini kredo Sutardji yang menyebut kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, atau dari beban idea. Tetapi Halim memadukan makna prosais yang bergantung pada peristiwa dan referensi, dengan makna puitis yang menjadikan kata secara aktif menciptakan maknanya sendiri.

Dari bingkai jendela; Semarang menjauh serupa langit yang rebah, menjadi jutaan kunang-kunang yang seluruhnya putih. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Kolektor Mitos adalah cerpen Halim yang paling prosais, selain juga Mutan. Bagian terpentingnya adalah perpaduan antara sifat prosais dan puitis dalam kumpulan cerpen ini. Pada cerita paling prosais pun Halim masih berusaha menyusupkan sifat puitis menjadi narasi. Menjadi prosais karena dalam kedua cerpen tersebut, Halim akhirnya banyak merangkai kalimat-kalimat pendek dan aktif. Sehingga pembaca pun dapat dengan mudah terhubung dengan jaringan referensi yang dibangun pengarang. Memudahkan pembaca dalam membayangkan adegan dan dialog. Berbeda dengan cerpen-cerpen Halim lainnya: dibanjiri kalimat-kalimat panjang.

Tangan Adin gemetaran memegangi genta itu. Seolah bisa ia rasakan sisa-sisa jeritan dan deret adegan pembunuhan. Saat melintasi jalanan kota lama, kata Adin, genta tersebut seperti menangis. Ia mengelusnya. Aku yang dimintanya jadi sopir, menahan tawa. Tapi akhirnya gagal. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Perpaduan antara sifat puitis dan prosais dalam Kolektor Mitos dan Mutan, membuat pembaca lepas dari belenggu bank referensi pengarang. Sebab seluruh cerpen bercerita tentang tubuh kita sendiri, seperti disebut Irsyad Zaki. Pembaca bebas menggunakan referensi mereka sendiri. Seperti pembaca puisi.

Saya mulai curiga bahwa bentuk-bentuk cerita yang disajikan dalam kumpulan cerpen pertama Halim, adalah pengaruh dari jalan dan laku kepenyairan yang ia tempuh. Ketekunan membaca puisi gelap. Hingga belakangan Halim disebut sebagai Afrizalian. Sayangnya tidak ada satu pun ‘cerpen gelap’ hari ini.

Pada cerita Sebuah Makam dalam Cahaya, tubuh yang dinarasikan adalah tubuh pembaca. Ada banyak peristiwa yang saya kira sangat dekat dengan kebanyakan pembaca: tidur, bangun, dan bermimpi. Serta persoalan organ tubuh yang digantikan teknologi. Cara berbicara manusia dengan mesin pencarian di internet, cara berjalan dengan roda, dan mata yang disibukkan dengan layar monitor.

Pasukan liliput serupa tentara dengan cepat memenuhi kasur, menggerigi tubuh Jilan di sana-sini. Bergegas tubuhnya menjelma laboratorium yang sangat sibuk. Mereka merakit ulang tubuh Jilan. Jari-jari tangannya digantikan dengan keyword. Pada kakinya dipasangkan roda. Matanya telah dirombak mirip layar monitor. Dalam kedua rongga lingganya dibangun miniatur menara penangkap sinyal. Mulutnya disumpal potongan daging kelamin. Kepalanya menjelma mesin yang belum selesai dirakit. (Sebuah Makam dalam Cahaya, halaman 1)

Ihwal sifat puitis dan prosais memang bisa jadi sangat subyektif. Tetapi mengasosiasikan sebuah momen saat perempuan dalam pikiran kita sedang dalam masa kritis, dengan kejadian listrik padam di tempat cukur, adalah hal yang sangat sederhana. Tentu saja karena setiap pembaca memiliki referensi berbeda dengan kejadian listrik padam di tempat cukur.

Tiba-tiba denyut jantung perempuan itu tak bisa ia dengar, seperti kejadian listrik padam di tempat cukur. Bisikan kembali menggentayangi telinganya: “Namaku, Kematian. Saudara kembarmu.” Pejam matanya seketika meledak. (Perempuan yang Diutus Kematian, halaman 55)

Penggalan dari cerpen Perempuan yang Diutus Kematian dan beberapa cerpen yang serupa, saya kira adalah satu hal yang ingin dibuktikan Halim. Bahwa sifat puitis tidak selalu mengalir dari kata-kata indah. Sebaliknya, ia bisa hadir dari memori sederhana tentang keseharian yang terlalu sering disepelekan. Meski cerpen seperti 20 Tahun dalam Curam Kenangan dan Lelampak Lendong Kao akhirnya mendapat sentuhan teenlit yang cukup menjengkelkan.

Akhirnya, Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya adalah kumpulan kisah perlu dibaca untuk memperlambat keseharian yang semakin gegas.

Distraksi

Kehidupan media sosial pada akhirnya, hanya sistem yang berbasis pembenaran publik, likes, bagaimana agar cara pandang kita diterima oleh banyak orang, dan mendapatkan banyak pengikut.

ESSENA O’NIELL, seorang remaja asal Australia baru berusia 19 tahun. Seperti kebanyakan teman sebayanya, ia menggunakan Instagram. Ia sering mengunggah gambar dirinya mengenakan blouse, gaun, atau bikini. Ia bisa mendapat ribuan komentar, atau bahkan puluhan ribu likes dari pengikutnya. Akun Instagram O’Neill, pada akhir 2015, memiliki lebih dari setengah juta pengikut.

Continue reading “Distraksi”

The Internet Archiver Machine

ADRIENNE LAFRANCE, The Atlantic magazine columnist covering technology, wrote about how saved data in internet was very susceptible to lost. One of them was the website. She called as phantasmagoria. A refraction between reality and fantasy. Became reality when someone thought million of text to video in a website was a reality, whereas no more than lines of code compiled by browser machine.

The information based on digital data has many advantages indeed. For example, million of books doesn’t rule out the possibility to read just by human, but also by machine. Not only read but machine can sort and analyze that data. It can spread easily. Without doubled the paper, ink, and production cost. But there was exception. If the data lost, then it will be lost forever.

“If a Pulitzer-finalist 34-part series of investigative journalism can vanish from the web,” said Lafrance. “Anything can.”

Continue reading “The Internet Archiver Machine”

Goodbye Apple Music, This is Indonesia

Apple might need more hard-working for realize its vision, that music should be favored all people along the world, but instead of music sold with the high prize.

It was a good news for music listener in Indonesia at the end of 2015. Android mobile phone users were able to enjoyed million of songs in Apple’s music library, from Apple Music.

This was daring breakthrough for gigantic giant tech producer like Apple because Apple Music was the first application created for non-IOS mobile device. Whereas Apple’s policy in protected their software is almost closed, outside of Apple device.

“Music is one of those things that everybody in the world loves,” said Eddy Cue. The man who became Apple’s SVP of Internet Software and Services, hoped more people can enjoyed music, without border like age or social class. “We’ve tried really hard to make a great app for Android.”

Continue reading “Goodbye Apple Music, This is Indonesia”

PBB tuntut seorang jenderal atas kejahatan di Timor Timur

Perserikatan Bangsa-Bangsa hari ini menuntut bekas panglima TNI Jenderal Wiranto, atas kejahatan terhadap kemanusiaan dalam tragedi berdarah pada 1999 di Timor Timur.

Jenderal Wiranto, disebut sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah yang menyapu bekas wilayah Indonesia selama masa referendum yang didukung PBB, di samping enam jenderal senior lain dan mantan Gubernur Timor Timur, Abilio Soares.

Bagaimanapun, ini nampak meragukan bahwa Indonesia akan menyerahkan diri atas semua tuntutan itu pada pengadilan di Dili, ibukota Timor Timur. Pemerintah di Jakarta sejauh ini menolak dengan hormat surat perintah penangkapan, dan pada hari ini mengatakan “abaikan saja” pesan terakhir dari PBB.

Continue reading “PBB tuntut seorang jenderal atas kejahatan di Timor Timur”