Distraksi

“Sometimes antisocial but always antifacis” by Börkur Sigurbjörnsson is licensed under CC BY 2.0

Kehidupan media sosial pada akhirnya, hanya sistem yang berbasis pembenaran publik, likes, bagaimana agar cara pandang kita diterima oleh banyak orang, dan mendapatkan banyak pengikut.

ESSENA O’NIELL, seorang remaja asal Australia baru berusia 19 tahun. Seperti kebanyakan teman sebayanya, ia menggunakan Instagram. Ia sering mengunggah gambar dirinya mengenakan blouse, gaun, atau bikini. Ia bisa mendapat ribuan komentar, atau bahkan puluhan ribu likes dari pengikutnya. Akun Instagram O’Neill, pada akhir 2015, memiliki lebih dari setengah juta pengikut.

Continue reading “Distraksi”

The Internet Archiver Machine

Lukisan O. Von Corven, "The Great Library of Alexandria" yang dibuat pada abad 19 masehi.

ADRIENNE LAFRANCE, The Atlantic magazine columnist covering technology, wrote about how saved data in internet was very susceptible to lost. One of them was the website. She called as phantasmagoria. A refraction between reality and fantasy. Became reality when someone thought million of text to video in a website was a reality, whereas no more than lines of code compiled by browser machine.

The information based on digital data has many advantages indeed. For example, million of books doesn’t rule out the possibility to read just by human, but also by machine. Not only read but machine can sort and analyze that data. It can spread easily. Without doubled the paper, ink, and production cost. But there was exception. If the data lost, then it will be lost forever.

“If a Pulitzer-finalist 34-part series of investigative journalism can vanish from the web,” said Lafrance. “Anything can.”

Continue reading “The Internet Archiver Machine”

Goodbye Apple Music, This is Indonesia

Apple might need more hard-working for realize its vision, that music should be favored all people along the world, but instead of music sold with the high prize.

It was a good news for music listener in Indonesia at the end of 2015. Android mobile phone users were able to enjoyed million of songs in Apple’s music library, from Apple Music.

This was daring breakthrough for gigantic giant tech producer like Apple because Apple Music was the first application created for non-IOS mobile device. Whereas Apple’s policy in protected their software is almost closed, outside of Apple device.

“Music is one of those things that everybody in the world loves,” said Eddy Cue. The man who became Apple’s SVP of Internet Software and Services, hoped more people can enjoyed music, without border like age or social class. “We’ve tried really hard to make a great app for Android.”

Continue reading “Goodbye Apple Music, This is Indonesia”

PBB tuntut seorang jenderal atas kejahatan di Timor Timur

Perserikatan Bangsa-Bangsa hari ini menuntut bekas panglima TNI Jenderal Wiranto, atas kejahatan terhadap kemanusiaan dalam tragedi berdarah pada 1999 di Timor Timur.

Jenderal Wiranto, disebut sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah yang menyapu bekas wilayah Indonesia selama masa referendum yang didukung PBB, di samping enam jenderal senior lain dan mantan Gubernur Timor Timur, Abilio Soares.

Bagaimanapun, ini nampak meragukan bahwa Indonesia akan menyerahkan diri atas semua tuntutan itu pada pengadilan di Dili, ibukota Timor Timur. Pemerintah di Jakarta sejauh ini menolak dengan hormat surat perintah penangkapan, dan pada hari ini mengatakan “abaikan saja” pesan terakhir dari PBB.

Continue reading “PBB tuntut seorang jenderal atas kejahatan di Timor Timur”

Pengetahuan mutakhir tentang hal-hal imut

KUMAMON, sebuah karakter kartun berbentuk beruang yang awalnya dibuat untuk promosi pariwisata di sebuah daerah di Jepang, kini menjadi fenomena bernilai miliaran dolar. Saat ini, sebuah pendekatan akademik sedang mencoba untuk mencari jawaban yang tepat tentang apa yang membuat suatu hal terlihat imut—dan mengapa kita tidak bisa menolaknya.

PADA 14 April 2016, gempa sebesar 6.2 skala Richter mengguncang sebuah pulau di ujung selatan Jepang, merobohkan bangunan dan membuat para warga berhamburan ke jalan. Ratusan gempa susulan—salah satunya bahkan lebih besar 7.0 skala Richter—terjadi terus-menerus, hingga merenggut nyawa 49 orang, mencederai 1.500 orang dan mengusir puluhan ribu penduduk lainnya dari rumah mereka.

Seketika itu berita menyebar ke seluruh dunia lewat media sosial.

“Ada gempa bumi,” Margie Tam mengirim kabar dari Hong Kong. “R u ok kumamon?”

“Apakah Kumamon dan teman-temannya selamat?” Eric Tang, seorang mahasiswa bertanya-tanya.

“Mari berdoa untuk Kumamoto & Kumamon,” tulis Ming Jang Lee dari Thailand, kata-kata itu terus dirapal ribuan kali.

Continue reading “Pengetahuan mutakhir tentang hal-hal imut”