Mesin Pengarsip Internet

Lukisan O. Von Corven, "The Great Library of Alexandria" yang dibuat pada abad 19 masehi.

ADRIENNE LAFRANCE, kolumnis majalah The Atlantic untuk isu teknologi, pernah menulis soal bagaimana data-data yang tersimpan di internet sangat rentan hilang. Salah satunya adalah situs web. Ia menyebutnya sebagai phantasmagoria. Bias yang mengaburkan antara kenyataan dan khayalan. Menjadi kenyataan saat seseorang mengira jutaan teks hingga gambar gerak pada sebuah situs web sebagai yang nyata, padahal tak lebih dari baris-baris kode yang diolah mesin penjelajah.

Informasi berbasis data digital memang punya banyak keunggulan. Misalnya jutaan naskah buku tidak menutup kemungkinan bisa dibaca oleh manusia saja, tetapi juga mesin. Tak hanya membaca tetapi juga menyortir data dan menganalisisnya. Ia bisa disebarluaskan secara mudah. Tanpa harus melipatgandakan ongkos produksi kertas, tinta, dan percetakan. Namun ada pengecualian. Jika data-data itu hilang, maka akan hilang selamanya.

“Jika 34 seri laporan investigasi finalis penghargaan Pulitzer bisa hilang,” kata Lafrance. “Segalanya tentu bisa hilang juga di internet.”

Continue reading “Mesin Pengarsip Internet”

Selamat Tinggal Apple Music, Inilah Indonesia

Sumber gambar: press kit Apple

Ada kabar baik bagi pendengar musik di Indonesia pada akhir 2015 lalu. Pengguna ponsel bersistem operasi Android bisa menikmati jutaan lagu di perpustakaan musik Apple, lewat aplikasi Apple Music.

Ini terobosan nekat bagi raksasa teknologi seperti Apple. Karena Apple Music merupakan aplikasi pertama yang dibuat Apple untuk perangkat ponsel non-iOs. Padahal kebijakan Apple dalam melindungi perangkat lunaknya bisa dibilang paling tertutup, untuk penggunaan di luar perangkat keluaran Apple. Continue reading “Selamat Tinggal Apple Music, Inilah Indonesia”

Kalap

COLLECTIE TROPENMUSEUM Een brug over de rivier Solo bij Tjepoe Oost Java

HANTU pada masa kecil saya adalah hal yang membuat takut. Ibarat musuh yang harus diperangi. Di satu sisi juga selalu berhasil membuat penasaran.

Sebagian besar ingatan saya tentang hantu, dibangun oleh cerita teman dan kerabat saya. Saat kecil, ibu melarang saya bermain di dekat aliran Sungai Bengawan Solo. Padahal jaraknya tak lebih dari setengah kilometer dari rumah. Ibu mungkin kawatir anaknya diculik kalap, sebangsa jin yang menyamar jadi seseorang yang kita kenal lalu menculik anak-anak di siang hari. Telapak kakinya serupa bebek, kata ibu menggambarkan. Continue reading “Kalap”

Anti Dangdut dan Bibit Fasis

Orang kampung juga melawan pangggung politik lewat musik dangdut

PENGALAMAN beberapa teman saya dalam mendengar musik dangdut cukup menarik. Respon mereka saat bersinggungan dengan musik peranakan tradisi melayu ini, sangat beragam. Ada yang meletakkan musik sebagai jejak historis sebuah rezim dan senjata politik. Sehingga musik dangdut selalu identik dengan panggung hiburan politik di daerah kecil. Bahkan ada pula yang memiliki trauma psikis saat mendengarnya, akhirnya jadi anti-dangdut.

Saya mengenal musik dangdut sejak kecil di kampung. Kebetulan Pak Rochis, tetangga saya yang berprofesi sebagai sopir mobil bak, punya sebuah radio. Lelaki berkumis tebal itu nyaris tak pernah absen menyimak kanal siaran dangdut di radio tiap siang hari saat pulang sekolah, hingga sore hari saat anak-anak seumuran saya main layang-layang di lapangan dekat rumah Pak Rochis. Continue reading “Anti Dangdut dan Bibit Fasis”

Jatuh

SAYA akhirnya merasakan pengalaman itu kembali. Jatuh dari motor saat melintasi perempatan di tengah kota. Jatuh saat mengendarai motor sudah lama tak saya alami. Terakhir kali jatuh dari motor di tengah kota, ketika masih kelas dua SMA. Badan plastik motor remuk pada sisi kirinya. Tutup mesin di dekat perseneling motornya menganga. Oli mesin meluber ke permukaan jalan. Teman sekolah saya panik, pasrah, sekaligus bingung.

Sebelum akhirnya melapor ke kantor polisi terdekat, lalu membayar tilang karena menabrak plastik pembatas jalan di Surabaya saat itu. Lalu memasang muka tak berdosa saat mendengar polisi mengomel hingga sejam lamanya, sambil menahan ngilu di pergelangan kaki yang terkilir dan jempol kaki yang berdarah. Beruntung Rabu malam kemarin, saat sebuah mobil Panther menabrak motor saya tak berujung pada darah ataupun luka yang cukup parah. Juga tak ada polisi minta uang tilang. Continue reading “Jatuh”