Angpao

Ada satu bagian kecil dari momen lebaran yang sangat saya suka. Ruang tamu yang selalu penuh, aneka ragam jajanan di toples dan piring, dan tentu angpao dari sanak famili. Istilah angpau ini tentu merujuk pada bungkusan amplop yang berisi uang.

Jumlahnya pun relatif. Namun beberapa angpao yang saya terima, bisa dibilang cukup untuk beli kopi bagi anak seumuran saya.

Apakah saya boleh menerima uang angpao tersebut?

Saya terkadang menanyakan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri. Juga pada orang tua saya, mengingat umur saya sudah berkepala dua. Tentu saya tidak masuk pada kategori ‘anak di bawah umur lagi’. Namun apakah di umur yang sudah berkepala dua ini saya masih layak menerima angpao?

Continue reading “Angpao”

Pulang

Ini bukan soal novel Pulang karya Leila S. Chudhori yang ramai dibicarakan oleh para sastrawan Salihara. Tapi ini hanya sebuah cerita yang saya tuliskan pasca ujian akhir semester pekan lalu.

Seharusnya saya berbahagia karena ada beberapa hal yang bisa saya buang jauh—masuk kelas dan mengikuti perkuliahan setiap hari. Lantas saya bisa mulai memasang raut muka bahagia. Karena setidaknya saya bisa lepas dari ancaman ‘mati di dalam kelas’ saja.

Namun ibarat lepas dari lilitan ular, saya justru masuk kandang harimau. Masa liburan kuliah ternyata mendatangkan beragam ancaman yang lain. Sialnya ancaman itu—dalam pikiran saya—menjelma jadi orang gila yang telanjang sambil berlarian di lapangan bola tempat saya menikmati senja. Dalam kondisi seperti itu, saya hanya punya sedikit pilihan. Memasang kuda-kuda untuk melarikan diri, atau memasang muka datar sambil berlagak tidak mempunyai masalah sedikitpun.

Continue reading “Pulang”

Mereka yang Menunggu

Kisah ini bukanlah  tentang mereka yang menunggu sebuah kematian seperti dalam karya foto Kevin Carter. Waiting For The Meal, begitulah sebuah adegan dramatis dikenal luas oleh publik. Sebuah pemandangan yang berkisah tentang  seorang anak kecil merangkak dengan sangat lamban menuju kamp makanan di sebuah daerah di Sudan pada tahun 1993. Di belakangnya, seekor burung bangkai bergerak pelan menanti kematian anak kecil di tengah luasnya tanah tandus.

Namun ini hanyalah sekadar kisah deretan raut wajah manusia yang bercampur letih dan cemas. Stasiun Kereta Api Lempuyangan malam itu menjadi persinggahan mereka dari Yogyakarta menuju Purwokerto, Bandung, Madiun, Jombang, Mojokerto, dan kota lainnya. Namun di antara wajah penat tersebut, ada pula yang sambil berdiri melepas tawa, mengabadikan diri dengan sebuah kamera ponsel, dan lain sebagainya saat menuggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya.

Continue reading “Mereka yang Menunggu”

Pesona Nusantara dalam Layar Film Indie

Nusantara menyimpan banyak sekali pesona di tiap-tiap daerahnya. Mulai dari potret keindahan alam, hingga kearifan lokal dari beragam kebudayaan yang berkembang. Menanggapi hal tersebut, sekelompok sineas muda dari kota Malang dan Jember mengajak publik untuk merekam kembali pesona budaya di Indonesia lewat jalur perfilman.

Mereka menamai kelompoknya sebagai Kine Klub (Kelompok Studi Sinematografi) yang dinaungi oleh Universitas Negeri Malang. Melihat semakin besarnya perkembangan dan minat para sineas muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah, Kine Klub kembali mengadakan Roadshow Malang Film Festival.

Lewat acara ini, Kine Klub mengajak para pegiat film di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam ajang nasional Malam Film Festival pada April 2014 mendatang.

Setelah mendapatkan sambutan yang cukup meriah dari enam kota tempat diadakan Roadshow Malang Film Festival 2013, seperti Bandung, Malang, Medan, Semarang, Tangerang, Surabaya, Kine Klub mengakhiri agenda Roadshow  di kota Jember Sabtu(7/12) pekan kemarin.

Continue reading “Pesona Nusantara dalam Layar Film Indie”

Nasionalisme Kita

TUJUH BELAS AGUSTUS. Saya selalui menjumpai orang-orang membuat sebuah perayaan. Perayaan yang sama, dan selalu sama pada setiap tahun. Saya melihat, bagaimana seorang anak kecil, dengan segenap kepolosannya, berlomba memakan kerupuk yang digantung pada sebuah tali rafia. Kemudian, sekelompok pemuda bergantian naik ke pucuk pohon bambu, demi mendapatkan beberapa bungkus hadiah. Orang-orang ramai berdatangan, untuk menonton perlombaan. Mereka bersorak-sorai memberi semangat. Tanpa peduli malam semakin larut. Suasana pun menjadi ramai.

Seperti anak-anak kecil pada umumnya, saya selalu penasaran dengan lomba-lomba seperti itu. Di sekolah dasar, berulang kali saya coba ikuti lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan lain sebagainya. Permainan-permainan itu, menguji ketangkasan dan kegigihan. Seperti yang para pahlawan lakukan untuk merebut ‘kemerdekaan’ dari tangan penjajah, kata guru saya.

Saya lantas percaya bahwa itulah kemerdekaan. Ketika kita bisa mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa. Lalu mengadakan atau mengikuti perayaan dan perlombaan untuk merayakan bulan kemerdekaan, Agustus. Saya hanya bisa mengamininya. Tanpa mencari benar atau tidaknya gagasan orang lain.. Sebagai seorang anak kecil, saya tak memiliki dasar berpikir yang logis. Saya sama sekali tak mengenal logika. Orangtua dan guru sekolah saya tidak pernah mengajarkan filsafat. Mereka melarang saya belajar filsafat. Bagi mereka filsafat bisa membuat orang sesat dalam beragama.

Continue reading “Nasionalisme Kita”