Kopi dan Strata Sosial

Malam itu gerimis turun perlahan. Udara kota Jember terasa semakin dingin. Namun, riuh suara kendaraan di jalan raya masih ramai seperti biasa. Kebetulan waktu itu saya sedang ingin menghabiskan malam dengan menikmati segelas wedang jahe panas.

Akhirnya saya mengajak kawan saya untuk pergi ke warung kecil di Jalan Pandjaitan, Jember. Letaknya hanya beberapa meter dari perempatan lampu merah yang menghubungkan Jalan Sumatera, Jalan Pandjaitan, dan Gladak Kembar.

Mulanya saya dan kawan saya ngobrol santai dengan saling melontarkan lelucon kecil tentang apa yang kami lihat disekitar. Suara bising kendaraan bermotor yang lalu-lalang, remaja-remaja yang pacaran hingga larut malam, juga anak-anak kecil yang berjalan bergerombol dengan sebatang rokok di tangan. Semuanya terlontar dengan nada jenaka.

Kemudian mata saya tanpa sengaja tertuju pada sebuah bangunan kecil diantara deretan pertokoan di seberang jalan. Ada sebuah spanduk berukuran 1×2 meter bertuliskan sekretariat sebuah partai politik. Nama partai tersebut tidak begitu familiar di telinga saya.

Continue reading “Kopi dan Strata Sosial”

Mengaksara

Terkadang, saya kagum pada orang-orang yang begitu cakap dalam berbicara. Menyampaikan maksud dan pesan kepada oranglain. Dengan pilihan kata yang cukup memikat.

Seseorang biasanya begitu berhati-hati dalam bertutur. Ada begitu banyak diksi yang dipilih dengan segala pertimbangannya. Tentu sesuai dengan kondisi dan suasana. Barangkali itulah tantangannya, memilih diksi kemudian merangkainya menjadi sebuah tulisan yang ‘apik’.

Bagi saya, menulis adalah cara sederhana untuk menata diri. Merangkai gagasan. Menyampaikan pesan. Sederhana, dan mungkin paling mudah. Itulah salah satu alasan mengapa saya ingin belajar menulis. Kemudian mengarsip sekaligus mempublikasikannya dalam media ini, blog.

Continue reading “Mengaksara”