Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan bahwa pameran bertajuk “Singgah” ini, hanya akan menampilkan romantisme personal dari perupa. Romantisme atas kenangan dan omong kosong tentang perpisahan dengan kekasih, yang tidak pantas dipamerkan pada khalayak. Ibarat sentimen yang mendorong beberapa para penyair, untuk menulis puisi gelap—yang dihadiahkan untuk merayu perempuan.

Tapi sejak masuk ke ruang pameran, gambar-gambar yang dipajang seperti mengajak kita membaca sebuah buku sejarah. Tidak ada gambar-gambar obskur. Bayangan awal saya salah.

Continue reading “Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal”