Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf

HERY PRASETYO tiba di tempat diskusi sekitar pukul delapan malam. Ia mengenakan jaket abu-abu, bercelana jeans pendek, dan berkacamata. Ia mengambil tempat duduk bersila di dekat pintu, lalu bersalaman dengan dua orang di samping kanan dan kirinya. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember itu sengaja diundang untuk bicara cinta dalam kacamata filsafat.

“Mas Hery jangan duduk di dekat pintu, nanti masuk angin,” kata saya menyarankan.

“Oh tidak apa, tenang saja,” jawabnya singkat.

Tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas berisi pengantar diskusi yang ditulis beberapa peserta. Hery turut menulis satu halaman esai singkat berisi pandangan soal cinta. Judulnya, “Cinta dan hal-hal yang belum selesai.”

Dalam tulisannya ia memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah cinta melulu bicara soal kesukaan terhadap lawan jenis?” Ia mengutip lirik lagu Nazareth berjudul Love Hurts. “Love hurts, love scars, love wounds.”

Bagi Hery, cinta telah menjadi mode diskursus yang hendak menguasai dan membiasakan hasrat untuk ditampilkan. “Cinta dialirkan dan sayatan memori membentuk objek penikmatan dan penguasan atas tubuh-tubuh terdisiplinkan,” tulisnya dalam esainya. Kecurigaannya, mengatakan bahwa cinta dan rasa suka yang selama ini dimiliki semua orang, adalah sebuah hasil pendisiplinan yang dibentuk lewat ukuran-ukuran normatif.

Continue reading “Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf”