Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan bahwa pameran bertajuk “Singgah” ini, hanya akan menampilkan romantisme personal dari perupa. Romantisme atas kenangan dan omong kosong tentang perpisahan dengan kekasih, yang tidak pantas dipamerkan pada khalayak. Ibarat sentimen yang mendorong beberapa para penyair, untuk menulis puisi gelap—yang dihadiahkan untuk merayu perempuan.

Tapi sejak masuk ke ruang pameran, gambar-gambar yang dipajang seperti mengajak kita membaca sebuah buku sejarah. Tidak ada gambar-gambar obskur. Bayangan awal saya salah.

Continue reading “Memaknai Persinggahan dari Ruang Komunal”

Anti Dangdut dan Bibit Fasis

Orang kampung juga melawan pangggung politik lewat musik dangdut

PENGALAMAN beberapa teman saya dalam mendengar musik dangdut cukup menarik. Respon mereka saat bersinggungan dengan musik peranakan tradisi melayu ini, sangat beragam. Ada yang meletakkan musik sebagai jejak historis sebuah rezim dan senjata politik. Sehingga musik dangdut selalu identik dengan panggung hiburan politik di daerah kecil. Bahkan ada pula yang memiliki trauma psikis saat mendengarnya, akhirnya jadi anti-dangdut.

Saya mengenal musik dangdut sejak kecil di kampung. Kebetulan Pak Rochis, tetangga saya yang berprofesi sebagai sopir mobil bak, punya sebuah radio. Lelaki berkumis tebal itu nyaris tak pernah absen menyimak kanal siaran dangdut di radio tiap siang hari saat pulang sekolah, hingga sore hari saat anak-anak seumuran saya main layang-layang di lapangan dekat rumah Pak Rochis. Continue reading “Anti Dangdut dan Bibit Fasis”