Tiga Hari Bicara Jurnalisme Keberagaman

SAYA PENASARAN saat teman satu kampus saya mengikuti Workshop Pers Kampus, bertajuk “Jurnalisme Keberagaman” di Malang, pada awal Juli 2013 silam. Pada pelatihan itu, ia berkesempatan meliput warga Sampang yang diusir dari kampung halaman mereka, lantaran menjadi korban provokasi konflik berdalih perbedaan keyakinan. Berbekal hasil liputan itu, teman saya menulis laporan features berjudul Kami Ingin Pulang[i].

Laporan itu memuat bagaimana warga Syiah Sampang di pengungsian, berusaha melupakan konflik di kampung halaman mereka. Mereka tak mau mengingat lagi bagaimana rumah mereka dibakar, keyakinan mereka diganggu, lantas dipaksa meninggalkan tanah Sampang. Mereka tak ingat lagi bagaimana anak-anak mereka, selama masa pemindahan menuju pengungsian, menangis dan bertanya, “Mengapa rumah kami dibakar?[ii]

Continue reading “Tiga Hari Bicara Jurnalisme Keberagaman”

Angpao

Ada satu bagian kecil dari momen lebaran yang sangat saya suka. Ruang tamu yang selalu penuh, aneka ragam jajanan di toples dan piring, dan tentu angpao dari sanak famili. Istilah angpau ini tentu merujuk pada bungkusan amplop yang berisi uang.

Jumlahnya pun relatif. Namun beberapa angpao yang saya terima, bisa dibilang cukup untuk beli kopi bagi anak seumuran saya.

Apakah saya boleh menerima uang angpao tersebut?

Saya terkadang menanyakan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri. Juga pada orang tua saya, mengingat umur saya sudah berkepala dua. Tentu saya tidak masuk pada kategori ‘anak di bawah umur lagi’. Namun apakah di umur yang sudah berkepala dua ini saya masih layak menerima angpao?

Continue reading “Angpao”