Cara Menghadapi Ujian

Sejatinya, perdebatan mantan adalah hal yang terlampau idealis. Karena mantan dalam dunia Plato tentu berada di tataran idea. Sedangkan mantan anda, (bila punya) tentu berada di dunia yang lebih realistis, berwujud, dan konkret. Keduanya tak akan pernah menemukan benang merah, sekalipun anda—para aktipis kenangan, mendedahnya dengan sabda Michel Foucault, Slavoj Zizek, atau teori ndakik-ndakik lainnya.

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita tanggalkan sejenak pakaian agama, idealisme, dan almamater kita. Agar kita bisa mewujudkan dunia realistis yang lebih ‘sama rata dan sama rasa’ dalam berpikir. Hidup Kominis, Bakar Kapatilis!

Jadi mari membincangkan hal-hal yang lebih realistis saja, Ujian Akhir Semester (UAS) misalnya. Toh sekarang diantara kita tak banyak lagi yang gemar membincangkan idealisme. Kita lebih sibuk mengganti username twitter dan merangkai serial kata-kata bijak. Kita lebih sibuk menyiapkan mini-copy-book untuk dibuka saat menjawab soal ujian. Kita lebih butuh pada nilai cum laude agar cepat lulus dengan predikat ‘sangat menjemukan’, begitu kan? Continue reading “Cara Menghadapi Ujian”

Mahasiswa Juga Menolak Punah

Pada akhirnya seorang mahasiswa semester awal akan segera menemui nasib terburuknya. Duduk berjam-jam di dalam kelas. Sesekali menatapi sorotan proyektor yang mulai redup. Berpura-pura mencatat materi perkuliahan setiap harinya. Mendengar ceramah dosen pengampu yang itu-itu saja, dengan bahasan yang tak jauh dari pembabakan zaman Pujangga Baru, Angkatan ‘45, sampai Angkatan 2000.

Bila tak ingin mengalami nasib kelam seperti itu, saya sarankan anda untuk segera mengemas buku catatan ke dalam tas anda. Lalu tinggalkan perkuliahan dengan alasan yang seksi. Sebelum anda dipaksa menelan muntahan bernama kesia-siaan. Berikutnya, simak beberapa saran yang saya berikan, agar anda tak jadi mahasiswa yang mati dalam kelas alias punah sejak dalam kandungan:

Continue reading “Mahasiswa Juga Menolak Punah”