Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf

HERY PRASETYO tiba di tempat diskusi sekitar pukul delapan malam. Ia mengenakan jaket abu-abu, bercelana jeans pendek, dan berkacamata. Ia mengambil tempat duduk bersila di dekat pintu, lalu bersalaman dengan dua orang di samping kanan dan kirinya. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember itu sengaja diundang untuk bicara cinta dalam kacamata filsafat.

“Mas Hery jangan duduk di dekat pintu, nanti masuk angin,” kata saya menyarankan.

“Oh tidak apa, tenang saja,” jawabnya singkat.

Tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas berisi pengantar diskusi yang ditulis beberapa peserta. Hery turut menulis satu halaman esai singkat berisi pandangan soal cinta. Judulnya, “Cinta dan hal-hal yang belum selesai.”

Dalam tulisannya ia memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah cinta melulu bicara soal kesukaan terhadap lawan jenis?” Ia mengutip lirik lagu Nazareth berjudul Love Hurts. “Love hurts, love scars, love wounds.”

Bagi Hery, cinta telah menjadi mode diskursus yang hendak menguasai dan membiasakan hasrat untuk ditampilkan. “Cinta dialirkan dan sayatan memori membentuk objek penikmatan dan penguasan atas tubuh-tubuh terdisiplinkan,” tulisnya dalam esainya. Kecurigaannya, mengatakan bahwa cinta dan rasa suka yang selama ini dimiliki semua orang, adalah sebuah hasil pendisiplinan yang dibentuk lewat ukuran-ukuran normatif.

Continue reading “Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf”

Cara Menghadapi Ujian

Sejatinya, perdebatan mantan adalah hal yang terlampau idealis. Karena mantan dalam dunia Plato tentu berada di tataran idea. Sedangkan mantan anda, (bila punya) tentu berada di dunia yang lebih realistis, berwujud, dan konkret. Keduanya tak akan pernah menemukan benang merah, sekalipun anda—para aktipis kenangan, mendedahnya dengan sabda Michel Foucault, Slavoj Zizek, atau teori ndakik-ndakik lainnya.

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita tanggalkan sejenak pakaian agama, idealisme, dan almamater kita. Agar kita bisa mewujudkan dunia realistis yang lebih ‘sama rata dan sama rasa’ dalam berpikir. Hidup Kominis, Bakar Kapatilis!

Jadi mari membincangkan hal-hal yang lebih realistis saja, Ujian Akhir Semester (UAS) misalnya. Toh sekarang diantara kita tak banyak lagi yang gemar membincangkan idealisme. Kita lebih sibuk mengganti username twitter dan merangkai serial kata-kata bijak. Kita lebih sibuk menyiapkan mini-copy-book untuk dibuka saat menjawab soal ujian. Kita lebih butuh pada nilai cum laude agar cepat lulus dengan predikat ‘sangat menjemukan’, begitu kan? Continue reading “Cara Menghadapi Ujian”

Mahasiswa Juga Menolak Punah

Pada akhirnya seorang mahasiswa semester awal akan segera menemui nasib terburuknya. Duduk berjam-jam di dalam kelas. Sesekali menatapi sorotan proyektor yang mulai redup. Berpura-pura mencatat materi perkuliahan setiap harinya. Mendengar ceramah dosen pengampu yang itu-itu saja, dengan bahasan yang tak jauh dari pembabakan zaman Pujangga Baru, Angkatan ‘45, sampai Angkatan 2000.

Bila tak ingin mengalami nasib kelam seperti itu, saya sarankan anda untuk segera mengemas buku catatan ke dalam tas anda. Lalu tinggalkan perkuliahan dengan alasan yang seksi. Sebelum anda dipaksa menelan muntahan bernama kesia-siaan. Berikutnya, simak beberapa saran yang saya berikan, agar anda tak jadi mahasiswa yang mati dalam kelas alias punah sejak dalam kandungan:

Continue reading “Mahasiswa Juga Menolak Punah”

Angpao

Ada satu bagian kecil dari momen lebaran yang sangat saya suka. Ruang tamu yang selalu penuh, aneka ragam jajanan di toples dan piring, dan tentu angpao dari sanak famili. Istilah angpau ini tentu merujuk pada bungkusan amplop yang berisi uang.

Jumlahnya pun relatif. Namun beberapa angpao yang saya terima, bisa dibilang cukup untuk beli kopi bagi anak seumuran saya.

Apakah saya boleh menerima uang angpao tersebut?

Saya terkadang menanyakan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri. Juga pada orang tua saya, mengingat umur saya sudah berkepala dua. Tentu saya tidak masuk pada kategori ‘anak di bawah umur lagi’. Namun apakah di umur yang sudah berkepala dua ini saya masih layak menerima angpao?

Continue reading “Angpao”