Bunga dan Tembok

Perkenalan saya dengan Wiji Thukul bermula saat saya membacakan puisi berjudul “Bunga dan Tembok”. Saat itu memang saya tak bertemu secara langsung, apalagi berdiskusi dengan Wiji Thukul. Namun saya hanya mengenalnya lewat teks-teks biografis, buku, dan beberapa arsip media.

Puisi itu menggambarkan bagaimana sosok pemimpin adalah metafor sebuah tembok. Ia berdiri tegak, kaku, lalu menghdirkan sekat-sekat. “Kau lebih suka membangun rumah, dan merampas tanah,” tulis Thukul.

Bila kita semua percaya bahwa sosok pemimpin kita adalah orang-orang hebat, lantaran banyaknya program renovasi gedung, fasilitas publik, atau kucuran bantuan dana sosial. Tentu sah-sah saja. Namun kita tak boleh lupa, bahwa puisi ya cuma puisi. Ia bukan penentu naik-turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Ia takkan mengubah sesuatu semudah membalikkan telapak kaki. Ia hanya metafor.

Continue reading “Bunga dan Tembok”